19 November 2019

Rizal Ramli Menko Terbaik, Anti-Neoliberalisme, Penegak Trisakti dan Bawa Perubahan dengan Akal Budi. Kompas Group Obyektif, Mendidik

KONFRONTASI- Rizal Ramli Menko paling kredibel, terbaik, Anti-Neoliberalisme, Penegak Trisakti Soekarno dan berani gelar Perubahan dengan Akal Budi, sehingga Jokowi mendapat arus besar dukungan dari bawah, dari buruh, kaum mahasiswa, kaum miskin kota dan kaum marginal lainnya. Namun media-media besar tertentu ramai-ramai membantai RR dengan berita yang  kelewat pro-JK dan kubunya (bau kolusi,korupsi, nepotisme) karena kepentingan material dan kebiasaan hidup di zona nyaman (comfort zone). Kecuali Kompas group, rasanya hampir semua media besar menyerang dan menyudutkan RR karena nafsu material dan Neoliberal, media-media itu lah ''economic animals'' (diduga kolusi,korupsi, nepotisme) . Kita bersyukur KOMPAS Group masih obyektif, mendidik dan fair. Itulah kesan kita.

Kita prihatin melihat Tempo, Detik.com, dan media besar lain malah menyudutkan RR, media-media itu penuh nafsu material dan libidinal serta dendam pada RR, seorang nasionalis petarung yang siang malam memikirkan bangsanya yang miskin, penuh ketidakadilan dan mencari solusinya. Di balik teguran JK kepada RR, jelas ada kepentingan proyek kubu JK yang dibela Wapres 'Kak Ucu',  entah itu proyek energi, infrastruktur dan banyak lagi yang diraih kubu JK. Tanyakan saja pada para direksi bank-bank  BUMN-BUMN, berapa trilyun kredit yang diambil grup bisnis JK dan jaringannya. Mudah diduga KKN. Tanyakan pada direksi bank domestik dan lembaga keuangan asing, berapa utang Chairul Tanjung, taipan kubu JK dan konglomerat lain yang membuat rupiah ambruk ? Beranikah TEMPO, DETIKCOM dan media  besar bongkar utang kakap para pengusaha swasta yang membuat rupiah ambruk? Jangan cuma berani membantaI RR ! Beranikah mereka membongkar Neoliberalisme, konglomerat hitam, penguasa abu abu dan pengutang swasta itu semua, yang membuat rupiah ambruk dan rakyat sengsara?

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli mengatakan, Indonesia bisa membangun tanpa harus menggunakan dana, apalagi yang bersumber dari utang luar negeri. Dengan kebijakan terobosan yang cepat dan tepat, lanjutnya, perekonomian Indonesia bisa tumbuh dan rakyat langsung merasakan manfaatnya.

Menurut Rizal, pascakrisis moneter, industri penerbangan kita jatuh hingga 60 persen. Saat itu hanya ada tiga maskapai. Pemerintah minta agar mereka menurunkan tarif, tambahnya, agar industri ini kembali bergairah. Namun sayangnya para pemain lama tidak mau dengan berbagai dalih dan alasan.

“Saat itu saya Menko Perekonomian. Akhirnya saya keluarkan kebijakan, membuka izin maskapai penerbangan baru. Maka, lahirlah 6-7 maskapai baru, sehingga terjadilah persaingan. Harga tiket turun drastis, dan jumlah penumpang naik hingga 5 kali dibandingkan sebelum krisis. Ini menjadi bukti, bahwa untuk membangun tidak harus menggunakan dana, apalagi kalau sumbernya utang luar negeri,” ujar Rizal Ramli.

Dalam konteks itu, dia menegaskan, Indonesia membutuhkan pejabat publik yang punya kemampuan memahami masalah dan berani mengambil tindakan yang out of the box. “Satu lagi, pejabat harus tidak punya konflik kepentingan,” tegasnya.

Rizal Ramli sengaja menekankan, pentingnya membangun negara tanpa harus mengandalkan utang. Menurutnya, tingginya utang luar negeri (ULN), akan menekan neraca pembayaran. Ujung-ujungnya, lanjut dia, nilai tukar rupiah pun semakin melemah terhadap sejumlah mata uang utama dunia, khususnya dolar Amerika.(k)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...