20 March 2019

Rizal Ramli: Mas Jokowi, Jangan Terlalu Dengar Analisa Angin Sorga

KONFRONTASI – Kritik tajam kembali dilontarkan ekonom senior Rizal Ramli atas kinerja Menteri Keuangan Sri Mulyani yang sampai saat ini belum membuktikan kenaikan pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan sebanyak tujuh persen. Bahkan, Rizal mengingatkan kepada presiden Joko Widodo agar tidak hanya mendengarkan analisa tim ekonomi pemerintah saat ini.

“ Mas Jokowi, jangan terlualu sering dengar analisa angin sorga dari team ekonominya yg “overated”, padahal “mediocre”. Faktanya, resiko makro ekonomi Indonesia 2 tahun terakhir meningkat,” ujar Rizal, dalam cuitannya pada akun Twitter @RamliRizal, hari ini.

Dimana memang, dalam sebuah acara yang digelar oleh Univeritas Atmajaya, hari ini, Sri Mulyani menyatakan bahwa RI cukup mengalami kesulitan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi hingga 7 persen. “Memang tidak mungkin dicapai,” kata Sri Mulyani saat ditemui di Kampus Atma Jaya, Jakarta, hari ini.

Selain itu, Sri menambahkan, meski belum mencapai angka 7 persen, namun pertumbuhan ekonomi di level 5 persen saat ini menurutnya sudah baik. “Kalau dilihat dari tekanan eksternal itu sudah lumayan baik,” imbuhnya.

Namun dalam kesempatan lain, Rizal lagi-lagi menyatakan, bahwa pertumbuhan ekonomi di era pemerintah saat ini sangat lambat. Ia juga mencontohkan dengan sejumlah kepemimpinan presiden sebelum Jokowi.

“ Memang, kita akui bahwa ada sejumlah perkembangan yang dilakukan oleh pemerintah saat ini. Namun jika kita melihat soal pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan sebanyak tujuh persen, dalam kajian saya setidaknya ada 80 persen target pemerintah yang tidak tercapai,” ujar Rizal dalam sebuah upload video Twitter sesi wawancara dengan sebuah stasiun televisi swasta, kemarin malam

Adapun Rizal juga menambahkan, target 20 persen tercapai dibidang inflasi. “Ya, tercapai dua puluh persen dibidang inflasi dan juga infrastruktur. Tapi ini saya coba berikan contoh satu saja, soal grafik kemiskinan, ini selama pak Jokowi merosot dan turun dibawah 10 persen, tapi penurunan kemiskinan sangat lambat, setiap tahun hanya 420 ribu orang selama 4 tahun terakhir.

Jika dibandingkan dengan pemerintahan sebelumnya, baik SBY dan era Megawati lumayan pesat. Bahkan dibandingkan dengan era Gusdur mohon maaf, pengurangan kemiskinan satu tahun 5,05 juta orang, dua tahun hampir 10,1. Jadi itulah cara mengukur yang benar, jangan hanya mengatakan kemiskinan sekarang turun,” tutup Rizal. (mr/indokt)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...