8 December 2019

Rizal Ramli: Kita Harus Ubah Strategi dan Kebijakan Ekonomi agar Tumbuh 8%

KONFRONTASI- Tokoh nasional/ekonom senior Rizal Ramli (RR) dalam perjalanan dari Vietnam ke Jakarta mengatakan, di bawah Presiden Joko widodo dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang hanya 5 persen, investor tidak akan tertarik untuk menanamkan modalnya.

Dalam kaitan ke depan pasca Pilpres, siapapun yang terpilih nanti, Rizal Ramli dari Vietnam dalam dialog IBF TV One, 24 April 2019 menuturkan, kita musti meningkatkan pertumbuhan ekonomi  mulai tahun depan harus bisa setidaknya 6,5% , sebab angkatan kerja kita banyak sekali dan harus diatasi  sebab kalau tidak akan jadi masalah sosial.

RR mengingatkan, ternyata Defisit Perdagangan parah dan defisit neraca berjalan (Currents Account) semakin membesar hampir 3% dari GDP, ekonomi memble di 5%. Apa yang harus dilakukan untuk memperbaikinya ? ‘’Kita harus ubah strategi dan kebijakan ekonominya. Pembangunan infrastruktur saya kira sudah cukup, harus dialihkan untuk tingkatkan ekspor,’’ujarnya.

RR  mengatakan, Kebijakan dan strategi pembangunan ekonomi Jokowi yang  sangat konservatif dan Neoliberal, harus dibongkar, dan ekonomi harus tumbuh 8 persen untuk menarik investor. ‘’Kalau terpilih menjadi presiden, Prabowo pun mentargetkan ekonomi tumbuh 8% sehingga investor tertarik masuk.’’ ujarnya.

‘’ "Ngapain ke Indonesia cuma tumbuh 5 persen. India dan Vietnam bisa tumbuh 7 persen lebih," tutur RR, teknokrat yang juga bagian dari keluarga besar  pesantren Tebu Ireng dan Pondok Gontor Jatim  ini

‘’Jangan hanya menyalahkan faktor internasional (eksternal) sebab  Vietnam, India dan tetangga lainnya tumbuh 7% atau minimal 6,5%, sedangkan  Indonesia hanya 5%,’’imbuh RR, Menko Ekuin era Presiden Gus Dur.

Menurut Rizal, kita harus memiliki strategi  untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 8 persen,dan  tidak akan mengemis investasi asing.

‘’Saya  kasih contoh,Vietnam mampu tumbuh 7%, surplus perdagangan dan neraca berjalan surplus, sehingga  dampak internasional menjadi  kecil  terhadap Vietnam karena ekonomi  dalam negeri Vietnam tumbuh 7% sehingga memnarik bagi investor asing,’’ kata alumnus ITB, Sophia University Tokyo dan Boston University AS itu. (FF)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...