26 March 2019

Rizal Ramli Ingatkan Indonesia Bisa Terdampak Kebijakan Ekonomi Trump

KONFRONTASI-Ekonom senior Rizal Ramli menengarai perekonomian Indonesia di tahun 2017 akan lebih sulit karena masih dalam masa konsolidasi politik.

Rizal kemudian menyinggung, salah satu sumbernya adalah polemik yang muncul setelah ada kasus dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purmana (Ahok).

"Masalah politik seperti kaitannya dengan Ahok yang kalau tidak diselesaikan akan timbul masalah berkelanjutan," kata Rizal.

Rizal kemudian menyoroti perekonomian dunia, yang berimbas pada Indonesia. Salah satunya adalah kemenangan Donald Thrump menggantikan Barack Obama sebagai Presiden Amerika Serikat.

Keberhasilan Trump menjadi pemimpin Amerika Serikat dan gejolak Timur Tengah yang belum berakhir, menurut Rizal Ramli, meningkatkan ketidakpastian dalam perekonomian global.

Ditambah, rencana Negeri Paman Sam memberikan tarif untuk barang dari Tiongkok dan Meksiko, seperti yang dijanjikan Trump selama masa kampanye.

"Kalau semua janji kampanyenya dilaksanakan, misal kenaikan tarif sampai 40 persen untuk barang dari China dan Meksiko, ekonomi dunia akan bergejolak," kata Rizal.

Walaupun, dia yakin Trump saat memerintah tidak akan seperti saat masa kampanye. Rizal menilai, arah kebijakan ekonomi Trump akan berdampak untuk Rupiah.

Rizal menilai, arah kebijakan ekonomi Trump akan berdampak untuk Rupiah. Pasalnya, pengusaha berambut pirang itu diprediksi berencana menurunkan pajak untuk orang kaya di negaranya.

Kendati demikian, Trump juga berhasrat anggaran yang besar untuk proyek infrastruktur. Hal tersebut akan berdampak pada peningkatan suku bunga Federal Reserve.

"Itu akan mengakibatkan capital outflow dari negara berkembang ke Amerika. Ini akan buat dollar Amerika menguat dan mata uang negara lain melemah, termasuk Indonesia," katanya.

Situasi perekonomian dan politik global yang bergejolak saat ini juga serupa dengan masa depresi besar tahun 1920-an. Situasi yang menyebabkan munculnya faham radikal fasisme dan Nazisme.

Kesuraman yang dia perkirakan terjadi di 2017, bukan berarti tanpa harapan.

"Saya ingin garis bawahi, crisis dan opportunity itu mata uang dengan dua mata sisi. Satu sisi itu krisis, sisi lain kesempatan melakukan perubahan untuk perbaikan," tuturnya.

Dia kembali mencontohkan yang terjadi pada masa lampau, era 1920-an sampai 1940-an. Masa itu, malah memunculkan pemimpin hebat dunia yang berhasil menyelamatkan negara, Franklin Delano Roosevelt, Presiden ke-32 Amerika Serikat.

Masa penuh ketidakpastian, dia nyatakan, menjadi momen "berkilau" para pemimpin hebat untuk mengubah negaranya ke arah lebih baik. "Sedangkan pemimpin payah tenggelam bersama-sama," imbuhnya.[mr/trbn]

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...
Senin, 25 Mar 2019 - 21:18
Senin, 25 Mar 2019 - 20:59
Senin, 25 Mar 2019 - 20:58
Senin, 25 Mar 2019 - 20:57
Senin, 25 Mar 2019 - 20:57
Senin, 25 Mar 2019 - 20:56
Senin, 25 Mar 2019 - 20:55
Senin, 25 Mar 2019 - 19:59
Senin, 25 Mar 2019 - 19:58
Senin, 25 Mar 2019 - 19:57
Senin, 25 Mar 2019 - 19:56
Senin, 25 Mar 2019 - 19:55