25 May 2019

Rizal Ramli di Amsterdam: Program Kemaritiman Jokowi Berdampak Konstruktif dan Nyata, Membangun Lebih 150 Pelabuhan

AMSTERDAM- Pemerintahan Jokowi dalam tempo kurang dari dua tahun telah membangun lebih dari 150 pelabuhan kecil dan sedang. Beberapa di antaranya ada di Indonesia timur.

Pemerintah juga telah membangun belasan pelabuhan udara di Indonesia timur dengan biaya setengah dari pemerintah sebelum sebelumnya.

Demikian dipaparkan mantan Menteri Koordinator Maritim dan Sumber Daya RI, DR Rizal Ramli dalam Indonesian Intellectual Form In Neherlands (IIF) 2017 di Vrije University, Amsterdam, Belanda, baru-baru ini.

"Coba lihat pelabuhan-pelabuhan udara yang dibangun di Indonesia timur. Yang penting runway-nya bagus dan panjang. Gedung airport-nya memang tidak terlalu besar. Tapi lokal arsitekturnya bagus-bagus dengan biaya yang sangat efisien," puji Rizal.

Tapi, lanjut Rizal, membangun pelabuhan atau bandar udara saja tanpa regular flight dan regular shipping tidak ada artinya. Karena itulah dibuat jalur poros maritim.

"Ini artinya ada regular shipping, berupa 5-6 jalur ke Indonesia timur. Ada satu jalur dari Surabaya lewat utara yang datang secara teratur dan terjadwal. Kemudian ada jalur tengah, paling bawah lewat MPT masuk ke pelabuhan selatan. Ada lima jalur dan satu lagi ke Natuna kita subsidi," urai ekonom senior tersebut.

Rizal berkeyakinan dampak poros maritim ini akan sangat positif. Meski diakuinya masih ada yang belum percaya.

"Masih ada yang bilang Jokowi hanya mimpi dengan poros maritimnya. Mohon maaf saudara-saudara, saat ini sudah ada jalur kapal regular shipping enam rute  yang sebetulnya bagian dari poros maritim. Dampaknya juga sudah terasa positif," jelas Rizal.

Dulu disparitas harga kebutuhan pokok antara Jawa dan Indonesia timur sangat tinggi dan ini dinilainya ironis.

Penduduk Indonesia timur lebih miskin harus membeli kebutuhan pokok lebih mahal. Dengan adanya poros maritim, justru lanjut Rizal, dispartitas harga itu sudah semakin mengecil.

Berdasarkan data statistik yang bisa dilihat di situs resmi Kementerian Koordinator bidang Maritim dan Sumber Daya, disparitasnya sudah turun lumayan besar, sekitar 30 persen - 40 persen.

Dalam jangka jangka menengah dan panjang, dengan adanya jalur regular dan terjadwal, pedagang dan petani kecil diprediksi akan semakin mudah membawa barangnya keluar daerah.

"Ini akan menurunan biaya pengapalan-nya. Harga semen yang di Indonesia timur, khususnya di Papua, mencapai Rp 1 juta per sak, bisa turun secara signifikan. Kalau pun ada selisih harga, paling hanya Rp 50 ribu sampai Rp100 ribu saja," tutur Rizal.

Tahun depan Kemenko Maritim akan lengkapi dengan jalur logistik udara agar disparitas harga dengan di pegunungan Papua bisa ditekan. Ini akan melengkapi konsep Poros Maritim.

Dengan angkutan udara, harga berbagai barang kebutuhan pokok di pegunungan terpencil bisa lebih murah.

Yang terakhir, terkait dengan pendidikan di bidang maritim, menurut Rizal harus dikembangkan vocational training. Sekolah pelaut dalam negeri dinilainya sudah lumayan bagus.

"Pelaut kita disukai di dalam maupun luar negeri, baik kapal kargo maupun penumpang. Pelaut Indonesia juga dikenal tidak membuat masalah. Mereka tidak banyak yang mabuk atau berkelahi. Pelaut kita dikenal cinta damai," ujar Rizal.[wid]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...