15 November 2019

Rizal Ramli dan Cakra Buana Satgas PDIP: Merengkuh Keadilan, Kedamaian dan Merawat Bumi

KONFRONTASI- Masyarakat masih ingat bahwa Ratusan Satgas Nasional Cakra Buana Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan mengawal rangkaian kegiatan ekonom senior Rizal Ramli (RR) semasa di Bandung dan Tasikmalaya pertengahan April  (14/4/2018). Apa apa gerangan?

Ternyata mereka ingin perubahan menuju keadilan sosial, kesejahteraan umum, kedamaian, kemajuan,keadaban dan kelestarian lingkungan/ merawat bumi Nusantara dan seisinya.

Dijelaskan, Kepala Satgasus DKI Cakra Buana, Yongki  Kadiman Sutedy, mengatakan, pengawalan terhadap Rizal Ramli merupakan bentuk apresiasi dari kader PDIP atas komitmen mantan Menko Maritim di era pemerintahan Jokowi tersebut yang konsisten dalam menjalankan konsep Trisakti yang diajarkan pendiri bangsa, Soekarno.

Bagi Yongki, pengawalan terhadap Rizal Ramli sebenarnya tidaklah cukup untuk membalas jasa-jasa Rizal Ramli terhadap masyarakat Indonesia.

Mantan Menko Ekuin era pemerintahan Abdurrahman Wahid itu, sambung Yongki, harus diberikan kesempatan untuk memimpin negeri ini.

Bagi Yongki, pengawalan terhadap Rizal Ramli sebenarnya tidaklah cukup untuk membalas jasa-jasa Rizal Ramli terhadap masyarakat Indonesia.

Mantan Menko Ekuin era pemerintahan Abdurrahman Wahid itu, sambung Yongki, harus diberikan kesempatan untuk memimpin negeri ini.

By: duhnil 3

Cakra Buana: Rizal Ramli Konsisten Melawan Neoliberalisme

"Semasa ia menjabat, tidak ada satu-pun ajaran Bung Karno tentang Trisakti yang melenceng. Misalnya, soal berdaulat di bidang politik, Rizal Ramli lah yang mengubah nama Laut Cina Selatan menjadi Laut Natuna Utara. Di bidang ekonomi, Rizal konsisten melawan neoliberalisme, yakni pembangunan ekonomi melalui utang," ujar Kadiman pria yang karib disapa Yongki ini.

Bagi ekonom senior Dr Rizal Ramli (RR) , praktek neoliberalisme telah menimbulkan pemiskinan struktural, penghisapan sumber daya ekonomi rakyat, kerusakan sistemik atas perekonomian, penggumpalan ekonomi di tangan modal asing dan  elite, tak beda dengan kolonialisme baru di era globalisasi. Dalam kasus Boediono cs sebagai kawanan Neolib yang ''konon'' menyelematkan Bank Century,  yang terjadi justru kerugian negara dan korupsi yang parah. Padahal bagi RR,  sebenarnya menyelamatkan Centurygate itu  perkara mudah.

Kata  RR, menyelamatkan Bank Century hanya cukup membayar dana pihak ketiga atau nasabah yang kurang dari Rp 2 triliun, bukan kemudian memberikan dana talangan sebesar Rp 6,7 triliun.

"Bank Century sebetulnya hanya butuh duit Rp 2 triliun dan diselamatkan 1 hari bukan 8 bulan. Itu saja KPK nggak ngerti-ngerti," jelasnya dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) yang digelar TVOne, Selasa (17/4).

Selain itu, Menko Ekuin era Presiden Abdurrahman Wahid ini juga menilai argumen sistemik yang digunakan sebagai dasar penggelontoran bailout Century menyesatkan. Sebab, secara kapasistas Bank Century bukan bank besar.

"Argumen sistemik itu argumen pembodohan karena ini bank kecil, bank ecek-ecek," tegasnya.

Rizal kemudian menyontohkan kesuksesannya menyelamatkan Bank Internasional Indonesia (BII) saat dia masih menjabar Menko Ekuin di tahun 2000. BII merupakan bank yang kapasitasnya sembilan kali lebih besar dari Bank Century dan memiliki koneksi yang besar.

Saat itu, Rizal mengaku sempat mendapat rekomendasi dari Bank Dunia dan IMF. Rekomendasi itu adalah memberi dana talangan ke BII sebesar Rp 5 triliun atau menutup BII dengan dana Rp 5,5 triliun.

Namun Rizal mengacuhkan rekomendasi itu. Dia memilih menggunakan ilham yang diberikan Tuhan kepadanya.

"Saya berpikir, kok RR tukang kritik bailout bank kok mesti tanda tangan bailout BII. Akhirnya saya minta izin sama yang kuasa," tuturnya.

Dia kala itu memanggil Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Anwar Nasution yang juga merupakan Dirut Bank Mandiri. Dalam pertemuan itu, dia meminta untuk diadakan konvensi besar-besaran Bank Mandiri ambil alih BII.

"Supaya ada umbrela of confidence. Kemudian kita ganti Direksi bank BII, dan ketiga kita umumkan video BII sudah diambil alih oleh Bank Mandiri dan nasabah tidak usah takut karena di belakang Bank Mandiri ada Republik Indonesia," ujarnya mengisahkan upaya penyelamatan BII.

Kata Rizal, skema ini berhasil. Hanya dalam waktu kurang dari 6 minggu uang BII kembali lagi dan bank tersebut menjadi stabil.

Setelah itu, Rizal memanggil kembali Anwar Nasution. Dia meminta Anwar untuk mengumumkan bahwa perkawinan antara BII dan Bank Mandiri batal.

"Karena apa? gunakan saja sebanyak mungkin istilah asing, pokoknya perkawinan ini batal," tukasnya.

"Ini merupakan kali pertama menyelamatkan bank tanpa duit dan Rizal Ramli lakukan itu," tutup mantan Menko Maritim itu. [ian]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...