26 August 2019

Rizal Ramli : Bukti Tokoh dan Elite Politik Tidak Kompeten, Mereka Menyewa Buzzer Bayaran

KONFRONTASI- Tokoh nasional Rizal Ramli 9RR) mengingatkan bahwa masyarakat (rakyat) melihat para tokoh politik dan elite politik menyewa buzzer bayaran lantaran tidak kompeten dan tidak memiliki kecerdasan memadai.

Menko Ekuin era Presiden Gus Dur itu pun meminta tokoh politik di Indonesia menghentikan menyewa buzzer. Rizal menegaskan, keberadaan buzzer politik yang membuat media sosial di Indonesia bising dan didominasi hinaan dan makian. Buzzer adalah orang atau sekelompok orang yang dibayar untuk menyebarkan berita, propaganda, hingga fitnah dan hoax di media sosial untuk kepentingan politik pemodalnya.

“Saya minta tokoh-tokoh politik di Indonesia hentikan menyewa buzzer,” kata Rizal  Apa lagi.bahwa masyarakat (rakyat) menilai  para tokoh politik dan elite politik menyewa buzzer bayaran lantaran tidak kompeten dan tidak memiliki kecerdasan memadai.

Hasil gambar untuk RR dan anwar ibrahim

RR juga mengungkapkan keprihatinan maupun kekesalannya  dengan kondisi hukum di Indonesia belakangan ini. Dikatakan, hukum semakin terasa tak adil karena hanya tegas dan galak pada tokoh-tokoh yang dinilai berbeda pendapat dan kritis pada kekuasaan.

Rizal pun mengkritik dipergunakannya UU ITE sebagai alat untuk memberangus tokoh-tokoh tersebut.

Demikian dikatakan eks penasehat ekonomi PBB itu di Jakarta, ditulis Selasa (26/2/2018).

“UU ITE berlebihan. Belum apa-apa orangnya ditangkap. Kejahatan lain pun belum perlu ditangkap orangnya,” kata Gus Romli, begitu ia disapa kalangan Nadliyin

Diungkapkannya, banyak tokoh politik di Indonesia yang menyewa buzzer. Lantaran tak kompeten dan tak memiliki kecerdasan yang mumpuni untuk berdiskusi mengenai persoalan bangsa, para buzzer pun sering menyerang sisi personal tokoh lain. Akibatnya, makian dan hinaan terhadap personal seseorang berseliweran di media sosial.

“Tokoh-tokoh politik menyewa buzzer bayaran yang kecerdasannya tidak cukup untuk diskusi yang beradab. Bisanya maki-maki. Maki-maki agama dan fisik, termasuk serangan pribadi. Kan seharusnya kalau ada pendapat, dibantah dong faktanya dan analisanya. Tetapi karena kecerdasan tidak cukup, serang pribadinya,” katanya.

Untuk itu, Rizal meyakini, tanpa kehadiran buzzer politik, kehidupan berbangsa akan lebih damai. Setidaknya pihak-pihak yang berdiskusi dan berdialog memang orang yang menguasai persoalan.

“Yang berdebat dan berbantah-bantahan betul-betul yang mengerti masalah,” katanya.

Selain itu, Rizal juga meminta tokoh politik, terutama yang saat ini berada di dalam kekuasaan untuk mengabaikan berbagai hinaan dan makian di media sosial. Rizal meyakini, cara ini ampuh untuk meredam kebisingan yang terjadi.

“Siapa yang macam-macam tidak usah baca. Di-delete saja. Lama-lama mati sendiri,” katanya.

Menurutnya, cara ini pernah dilakukan Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Dikatakan, Gus Dur merupakan salah seorang presiden yang kerap diserang secara pribadi, bahkan fisiknya. Namun, Gus Dur mampu melewati itu tanpa menggunakan perangkat kekuasaan. Hal ini lantaran Gus Dur mengabaikan fitnah dan hinaan yang ditujukan kepadanya.

“Kenapa tidak belajar dari Gus Dur. Gus Dur itu kalian mau maki apa saja silakan. Bahkan yang maki-maki fisik dia banyak sekali. Pada dasarnya EGP, emang gue pikirin. Jadi kenapa kita tidak bersihkan diri kita dari buzzer-buzzer yang ngaco. Kita tidak usah baca pemikiran yang seperti itu,” kata Rizal yang menjabat menko perekonomian pada era pemerintahan Gus Dur. (FF)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...