14 October 2019

Rizal Ramli: Ada Skema membuat Rakyat Kita Ketergantungan terhadap Impor Gula. Akibatnya, Petani Tebu Jatuh Menderita

KONFRONTASI- Ekonom terbaik Indonesia, Rizal Ramli (RR) menanggapi impor gula yang dilakukan oleh pemerintah Jokowi  jelang Pilpres 2019. Akibatnya,gula petani tebu tidak laku dan harganya jatuh. Sebagai teknokrat senior pengusung Trisakti Soekarno dan Ekonomi Konstitusi, betapa benderang pandangan Rizal Ramli  (RR) dalam menjelaskan bahwa ada skema yang membuat rakyat Indonesia menjadi ketergantungan terhadap impor gula.

Teknokrat senior Rizal Ramli mengungkapkan, terkait impor gula, ada kelangkaan murni (true scarcity) maka perlu import, Tapi  ada impor ugal-ugalan akibat kelangkaan semu (artificial scarcity), kelangkaan yang dibuat-buat. ''Itu jadi sumber rente & patgulipat pejabat, politisi dan pedagang. Gula rafinasi bocor jadi gula konsumsi. Faktanya: gula petani tebu tidak laku dan harganya jatuh,'' tegas.Menko Ekuin era Presiden Gus Dur itu.

RR dengan benderang menyingkapkan dalam dialog di TV One Kamis malam ini (24/1) bahwa impor gula sangat merugikan kaum petani tebu, menjadi ajang perburuan rente oleh para elite politik dan  pengusaha serta sudah dilaporkan ke KPK dan Bareskrim Polri.

 

 

Sebagaimana diketahui, Indonesia berada di urutan pertama negara pengimpor gula terbesar di dunia pada periode 2017-2018, dengan volume impor 4,45 juta ton. Indonesia mengungguli Tiongkok yang berada di posisi kedua dengan 4,2 juta ton dan Amerika Serikat dengan 3,11 juta ton.

“Impor gula ini sebetulnya sah-sah saja, jika memang dibutuhkan. Tapi ini yang terjadi kan, kelebihan impor gula yang terjadi saat ini. Bayangkan saja, petani merasa kerugian ketika mereka mencoba memproduksi tebu yang lebih banyak, tapi takut… karena apa? Jikapun mereka panen pasti hasilnya kalah dengan gula impor,” ujar Rizal dalam talkshow di TV ONE malam ini.

Berbeda pandang dengan politisi Johnny G. Plate dari Nasdem, justru RR mengendus, ada kelangkaan gula yang dibuat-buat sehingga elite politik, pedagang dan pejabat  memiliki alasan semu untuk impor gula guna berburu ekonomi rente untuk biaya politik.

Rizal juga kembali mengungkapkan bahwa presiden Joko Widodo sebelumnya berkampanye pada 2014 lalu terkait penolakan impor pangan. “Saya dulu kagum betul dengan mas Jokowi saat kampanye dengan menyebut ‘kita harus tolak impor pangan’, namun apa yang terjadi saat ini, menterinya malah doyan impor dan gk sesuai dengan Triskti,” tambah Rizal.

‘’Tapi memang perlu revitalisasi pabrik gula agar meningkatkan produksi gula dalam negeri. Yang kita sesalkan ada kelangkaan gula yang dibuat-buat untuk mencari alasan impor gula yang sebenarnya merupakan perburan rente untuk kepentingan elite politik dan pengusaha. Makanya kita laporkan ke KPK dan Bareskrim agar  kasus impor gula yang merugikan rakyat dan negara ini ditindak. KPK sudah komitmen untuk itu,’’ kata Rizal Ramli,  Menkeu Presiden  Gus Dur.

Ironis bahwa Indonesia  sebagai negeri agraris adalah negara pengimpor gula terbesar di dunia. Banyak pihak mengkhawatirkan impor gula yang terlalu besar hanya menguntungkan pengusaha dan politikus.sementara petani tebu kian  menderita karena harganya rendah.Lalu siapa yg diuntungkan?

 ‘’ Jelas dan pastilah segelintir pejabat, elite politik dan pedagang yang diuntungkan, sedang kaum petani jadi korbannya,’’ kata RR, Mantan Menko Kemaritiman itu.

''Presiden J kampanye stop impor. Strategi, kebijakan dan mentri-nya sebaliknya:  malah impor ugal2an. Hasilnya: Indonesia importir gula terbesar didunia. Penerima quota impor pesta pora,, petani gulanya tidak laku dan harganya jatuh. Mr. President, who you are working for ?'' kata RR bertanya.

(FF)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...