23 May 2019

Rezim Jokowi Harus Waspadai pujian gombal IMF, World Bank !

KONFRONTASI- Seperti diberitakan di salah satu media (23/12), disebutkan bahwa International Monetary Fund (IMF) memuji pengelolaan makroekonomi Indonesia yang dinilainya telah meningkatkan kredibilitas kebijakan dan ketahanan eksternal di Indonesia. Namun, menanggapinya Peneliti Lingkar Studi Perjuangan (LSP) menganggap bahwa pujian adalah gombal belaka. IMF dan World Bank memang sudah nego utang dengan rezim Jokowi. Payah.

"Selama melaksanakan kebijakan neoliberal semacam pencabutan subsidi energi, IMF pasti akan memuji pemerintahan suatu negara. Tentu tanpa mereka mempedulikan apakah kebijakan tersebut ternyata merugikan mayoritas rakyat di negara tersebut atau tidak."
Seperti diketahui, selain subsidi BBM, pemerintah Indonesia juga akan mencabut subsidi harga elpiji 3 kg dan subsidi harga listrik PLN untuk pengguna 1300 kWh. Selain itu juga pemerintah berencana mencabut subsidi untuk kereta api kelas ekonomi. Yang mana menurut Gede, kesemua kebijakan tersebut nyata sekali memberatkan masyarakat Indonesia yang berpenghasilan menengah ke bawah, sehingga berpotensi meningkatkan jumlah masyarakat miskin.

"Seharusnya kita waspada terhadap pujian ataupun rekomendasi dari lembaga semacam IMF, yang memiliki rekam jejak pernah menjerumuskan Indonesia ke dalam jurang krisis pada 1997. Saat itu IMF menyarankan Indonesia melakukan kebijakan moneter dan fiskal super ketat sehingga akhirnya pertumbuhan ekonomi minus 12,7% (terburuk di Asia) dan pengangguran bertambah sebanyak 40 juta orang." 

Gede mengungkapkan, bahwa ada kemungkinan IMF sedang me-"nina bobokan" para pengambil kebijakan di Indonesia dengan berbagai pujian gombal, karena sebenarnya kondisi makroekonomi kita tidak sebagus itu. Faktanya, neraca perdagangan secara kumulatif (Januari-Oktober 2014) masih defisit sebesar USD1,64 miliar. Defisit transaksi berjalan pada triwulan III-2014 tercatat sebesar US$6,8 miliar (3, 07% PDB). Defisit anggaran sendiri, hingga 30 September 2014, mencapai Rp153,36 triliun. Karena berbagai defisit makro ekonomi inilah, pada 16 Desember lalu rupiah sempat menyentuh Rp 13.175 per dollar AS. ***
 

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...