16 October 2019

Rapatkan Barisan Golkar ke Jokowi, Selubung JK Terbuka

KONFRONTASI - Tiga bulan setelah Jokowi dilantik, mantan Calon Presiden dan sekaligus Ketua Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto diundang ke Istana Bogor, Kamis 29 Januari 2015. Sebuah jamuan spesial yang menghentak perhatian publik dan menuai pro-kontra.

Presiden Jokowi menggelar karpet merah dan menyambut hangat kehadiran Prabowo. Saat ditanya wartawan, Prabowo menegaskan: "Saya minta waktu ketemu beliau, beliau juga ingin ketemu saya, kira-kira begitu lah antara dua warga negara Indonesia dua pimpinan yang saling berhubungan baik."

Manuver Prabowo mendapat respon positif dan mendulang pujian dari berbagai kalangan. Namun sebagian besar netizen yang bersikap oposisi menyindir: "Prabowo dan KMP telah lempar handuk", takluk pada kekuasaan Jokowi - JK.

Tapi sinisme itu tidak terbukti. Tetap saja sikap Prabowo dan para elite KMP gencar melakukan koreksi kritis atas kebijakan dan perilaku rezim Jokowi - JK dan sempat menimbulkan goncangan politik nasional.

Kini tepat setahun dan di bulan yang sama (25 Januari 2016), Golkar pimpinan ABR hasil Munas Bali membuat kejutan: Secara resmi melalui Rapimnas menegaskan sikap mendukung pemerintahan Jokowi. Gebrakan ARB menggiring "bola panas" seputar kisruh internal Golkar ke lingkaran kekuasaan Jokowi dan kelompok Jusuf Kalla.

Lebih canggih, ARB dalam kondisi terjepit akibat diobok-obok oleh JK dan Agung Laksono yang berkolaborasi dengan Surya Paloh, terpaksa mendukung Munaslub dan menyatakan sikap mundur dari posisi Ketum Golkar. Pilihan ARB secara otomatis mengunci permainan kotor kubu JK.

Beberapa jam sebelum ARB mengumumkan Munaslub, beredar info di arena Rapimnas bahwa Jokowi sangat gusar dan tidak setuju ARB mundur. Jokowi tetap ingin ARB memimpin Golkar dan hendak mencari cara yang tepat untuk mengesahkan kepengurusan Munas Bali.

Pesan politik itu menyebar ke seluruh kader dan simpatisan Golkar, Jokowi dianggap netral dan lebih memilih bersinergi dengan kubu ARB. Sama seperti hubungan Jokowi dengan Prabowo dan elite KMP lainnya yang selama ini terjalin mesra di balik layar. Berbeda dengan JK dan kubunya yang terlihat begitu bernafsu untuk menguasai Golkar dan bertujuan menghancurkan KMP.

Kini ARB sudah resmi mengundurkan diri dan mendorong Munaslub, menjadi pertanyaan: "Apakah ketum baru Golkar hasil Munaslub nanti adalah orang dekat JK, atau figur yang berasal dari kader terbaik ARB yang telah memilih bergabung dengan Jokowi...?" (Juft/Trpong)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...