24 October 2019

Rakyat Makan Nasi Aking, Jokowi-JK terus Naikkan Harga

KONFRONTASI- Banyak orang makan nasi aking di Jawa Timur dan Jawa Tengah, kemiskinan meluas akibat naiknya harga-harga di bawah Duet Jokowi-JK yang buruk ini.  Makin menyedihkan, Jokowi-JK jelas gagal mengangkat rupiah, dan harga sembako meninggi menyusul naiknya harga energi (BBM, listrik dan gas). Rakyat makin miskin.  Elite Penguasa goblok dan 'Gila'  kuasa ?

Rakyat makan nasi aking, itulah tragedi di Jawa. Istana harus terjun ke lapangan melihat tragedi ini. Tragedi bahwa rakyat makan nasi aking Jawa Timur dan Jawa Tengah serta daerah lainnya. Meski Presiden Jokowi telah mencabut Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2015 tentang Pemberian Fasilitas Uang Muka Bagi Pejabat Negara Untuk Pembelian Kendaraan Perorangan, toh masalah ini masih terus jadi perbincangan hangat di mana-mana. Kok, bisa ya seorang presiden meneken Perpres tapi tidak tahu isinya? Bagaimana kalau yang diteken itu hal-hal yang sangat sensitif dan menyangkut kepentingan negara? Kan presiden punya staf administrasi yang begitu banyak, tapi kok bisa lolos ya?

Begitulah beberapa pertanyaan yang muncul dalam perbincangan di kantor-kantor sampai di warung-warung kopi pinggir jalan. Sampai-sampai pakar hukum tata negara, Yusril Ihza Mahendra perlu berkomentar. Lewat akun Twitter-nya, @Yusrilihza_Mhd, Yusril berkicau: “Presiden Jokowi Makin Mendunia.”

Hanya dalam sekejap, topik “Presiden Jokowi Makin Mendunia” telah masuk ke deretan Trending Topic Twitter di Indonesia. Saat berkicau, Yusril menyertakan sebuah artikel dari koran berbahasa Inggris, The Jakarta Globe berjudul Joko: I Don’t Read What I Sign.

Seorang pengguna Twitter dengan nama akun @Andri_Cahya langsung menanggapi: “Presiden Jokowi Makin Mendunia itu harusnya karena prestasi, bukan karena kesalahan seperti ini.”

Kesalahan ini makin menambah panjang daftar kesalahan Jokowi dalam enam bulan pemerintahannya. Kini, Jokowi harus menghadapi kenyataan bahwa banyak hal yang tidak disukai rakyat telah dilakukan pemerintahannya. Mulai dari naik-turunnya bahan bakar minyak, naiknya tarif dasar listrik, harga elpiji 12 kg sampai melonjaknya harga sejumlah bahan kebutuhan pokok sehari-hari.

Belum lagi yang lain, seperti perseteruan KPK-Polri, yang walaupun kini tampak adem sebenarnya masih membara di dalam. Lantas, pemilihan Kapolri yang tak kunjung usai. Padahal sebagai presiden, Jokowi punya hak prerogatif. Dan yang paling bising adalah perpecahan di tubuh sejumlah partai oposisi yang—konon—dirancang oleh istana.

Masih ada lagi sejumlah blunder yang membuat pemerintahan ini tidak disukai rakyat, yakni pengangkatan menteri-menteri yang tidak kompeten. Kemudian, juga pengangkatan pembantu presiden yang transaksional. Dan, yang membuat banyak orang geleng-geleng kepala adalah pengangkatan sejumlah relawan dan pengamat menjadi komisaris di beberapa BUMN serta beberapa pengusaha duduk di lingkaran istana.

Aneka peristiwa inilah yang membuat Jokowi dijauhi oleh pendukung tradisionalnya: wong cilik. Padahal, pada Pilpres lalu, wong cilik ini yang membuatnya menang tipis atas Prabowo Subianto.

Dan ujung dari semua itu, kini mulai muncul letupan-letupan kecil dari kalangan bawah. Aksi demonstrasi di berbagai daerah muncul. Mereka menuntut Jokowi mundur dari tahta. Selintas, ini hanya sebuah gejolak kecil, memang. Tapi lama-kelamaan bukan tak mungkin bisa membesar sehingga sulit dibendung.

Sialnya bagi sang presiden, kini rasa tidak puas telah muncul pula dari partai pendukung, PDIP. Rupanya, mereka juga geregetan melihat beberapa langkah yang diambil Jokowi. Mereka menganggap apa yang dilakukan koleganya, lambat-laun, akan mencoreng nama baik partai.

Itulah sebabnya, Effedi Simbolon (politikus dari PDIP) menilai Jokowi tidak mampu memimpin negara ini. Bahkah, ia memperkirakan, rekannya itu hanya akan memimpin tak sampai hitungan tahun. “Paling hitungan bulan lagi lengser," katanya.

Terlebih, lanjut dia, kebijakan Jokowi yang bertentangan dengan pegawai negeri sipil (PNS). Dia menambahkan, bila melihat kondisi seperti ini banyak masyarakat yang mendoakan Jokowi lengser dari jabatannya sebagai kepala negara. "Coba kita cek ke masyarakat, mereka sudah mendoakan agar Jokowi turun. Banyak PNS yang kecewa, sehingga setiap kali kunjungan mereka memilih menginap di tempat saudara," jelasnya.

Lengser? Tampaknya, tidak semudah itu. Adalah seorang politikus PDIP lainnya yang membela Jokowi. Kata dia, pemerintah yang baru berjalan enam bulan tak bisa dinilai keberhasilannya. Perlu waktu tahunan. Apalagi, presiden ini merupakan pilihan rakyat. Namun Jokowi-JK  gagal, dan rakyat sudah jengah, setahun ini Jokowi-JK diuji. Desakan mahasiswa agar Jokowi-JK lengser tinggal tunggu waktu sampai akhir tahun.

Makanya, sebelum semuanya terlanjur jadi besar, ada baiknya Jokowi–JK membuat kebijakan-kebijakan yang berpihak pada kepentingan rakyat dan nasional, sehingga bisa menutup peluang adanya gerakan untuk menjatuhkan presiden.(Kon/Indonesian Review)

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...