22 March 2019

Rakyat Jawa Bergerak: Benderang, Rizal Ramli Menyalakan Kembali Trisakti Soekarno dari Semarang

SEMARANG-  Pesan Guntur Soekarnoputra itu terus terngiang di benak dan hati Rizal Ramli. Guntur adalah sahabat dekat dan seniornya di ITB. Mantan aktivis ITB Guntur Soekarnoputra (Mas Tok) secara tenang dan perlahan membisikkan kepada Dr  Rizal Ramli,  Menko perekonomian era Presiden Gus Dur, agar  RR berani membawa bandul ekonomi nasional kembali ke kiri, menuju posisi tengah karena sudah terlalu kanan. RR diminta Guntur membawa ekonomi yang sudah Neoliberal itu kembali kepada ekonomi konstitusi sesuai cita-cita Proklamasi 1945. ''Jadi harus ditarik ke kiri, dari kanan ditarik ke kiri menuju tengah kembali, yakni kepada keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat, sesuai ekonomi konstitusi, ekonomi kerakyatan yang harus ditegakkan demii daulat rakyat kembali .Ekonomi Indonesia harus dibawa kembali ke kiri karena bandulnya sudah terlalu ke kanan,  sesuai konstitusi UUD 1945 yang diperjuangkan foundaing fathers (Soekarno-Hatta dan para pendiri bangsa lainnya),' bisik Mas Tok, panggilan akrab Guntur Soekarno, putera sulung Presiden Soekarno, kepada Rizal Ramli.

Tokoh nasional/Ekonom senior Rizal Ramli di kampus Universitas Muhammadiyah Semarang,kembali mengingatkan bahwa pemerintahan Joko Widodo benar-benar telah meninggalkan konsep Trisakti. Bahkan, Rizal mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk meninggalkan Jokowi pada Pilpres 2019.

“Jokowi sudah tinggalkan Trisakti, sudah waktunya kita tinggalkan Jokowi,” tegas Rizal, di Universitas Muhammadiyah Semarang, Jumat ini, dan rakyat Jawa bergerak oleh semangar RR untuk melakukan perubahan. Presiden Soekarno (alm) sangat dihormati dan disegani olrah rakyat Jawa Tengah/Jatim.

Hasil gambar untuk RR dan rachmawati

Dari Semarang, pekan-pekan  sebelumnya di Surabaya, RR mengobarkan rakyat Jawa memihak dan memilih perubahan (Prabowo) yang sudah bertekad membangun kembali Indonesia sesuai cita-cita Proklamasi 1945. Bahkan para tokoh nasionalis dan Islam sepetti Suko Sudarso, KH Sholahudin Wahid, Choirul Anam dan Jenderal TNI (Purn) Wijoyo Suyono mendorong Prabowo melaksanalan secara tandas dan tegas  kebijakan ekonomi kerakyatan (konstitusi) berbasis pasal 33 UUD45, reformasi agraria  dan Trisakti. Maka, mengobarkan semangat rakyat Jawa di Jateng dan Jatim untuk mengakhiri kuasa Jokowi adalah suatu keniscayaan dan keharusan bagi Rizal Ramli agar bangsa ini selamat, adil dan makmur dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa.

Sebagai anak kandung ideologi Soekarno, tokoh nasional Rizal Ramli (RR) sangat dekat dengan putra-putri Bung Karno seperti  Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri dan Rachmawati Soekarnoputri. RR menyayangkan langkah Jokowi yang telah meninggalkan Trisakti, sehingga RR meminta rakyat meninggalkan Jokowi. Mengapa? Karena spirit dan jiwa kebangsaan Soekarno sudah tidak ada lagi di kubu Jokowi. Sedangkan Rizal Ramli, Soekarno dan Guntur Soekarno (Mas Tok), sesama alumni ITB,meyakini bahwa Ekonomi Konstitusi berdasarkan Pancasila dan Pasal 33 UUD 1945, dengan Trisakti Dr Ir Soekarno ( Berdaulat di bidang politik, Berdikari di bidang Ekonomi dan Berkepribadian dalam kebudayaan), harus dilaksanakan demi keadilan sosial dan maslahat rakyat. Mantan aktivis ITB Guntur Soekarnoputra (Mas Tok) secara tenang dan perlahan telah membisikkan kepada Dr  Rizal Ramli,  Menko perekonomian era Presiden Gus Dur agar berani membawa bandul ekonomi nasional kembali ke kiri, menuju posisi tengah karena sudah terlalu kanan. RR diminta Guntur membawa ekonomi yang sudah Neoliberal itu kembali kepada ekonomi konstitusi sesuai cita-cita Proklamasi 1945.

Neoliberalisme telah membawa ekonomi nasional ke arah kapitalisme yang terlalu kanan, arahnya sangat neolib dan menindas kehidupan rakyat kecil. Mas Tok sangat prihatin dan cahaya matanya sendu jika melihat nasib rakyat yang tidak berubah, bahkan memburuk akhir-akhir ini. ''Mas Tok (Guntur-red) menyampaikan pesan itu kepada saya sebagai amanah, harus saya laksanakan amanah itu,'' kata Rizal Ramli penuh haru. RR adalah mantan demonstran ITB yang dipenjara Orde Baru, sosok nasionalis yang sempat nyanteri kilat  ‘’semasa aktivis ITB’’  di  Pesantren Pondok Gontor Ponorogo dan anggota keluarga besar Pesantren Tebu Ireng Gus Dur.(RR)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...