19 May 2019

PT KAI: Sekali Angkut, Kereta Bisa 30 Kontainer. Terbukti Benar Langkah Rizal Ramli

KONFRONTASI- PT Kereta Api Indonesia (KAI) yakin permasalahan "dwell time" atau masa inap kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok akan dapat teratasi dengan kereta. Pasalnya, kereta memiliki daya angkut yang besar.

"Kereta barang itu sekali angkut bisa sampai 30 kontainer. Jadi kalau nanti boleh masuk (ke Pelabuhan Tanjung Priok), tentu akan jauh lebih murah," kata Direktur Komersial PT KAI Herlianto di Stasiun Juanda, Jakarta Pusat, Jumat (18/9/2015).

Menurut Herlianto, saat ini Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan sedang membenahi sistem persinyalan yang ada di jalur kereta menuju pelabuhan tersebut. Ia menyebut Ditjen Perkeretaapian menargetkan pembenahan tersebut dapat dirampungkan paling lambat pada akhir tahun ini.

"Lagi pembenahan persinyalan yang belum. Kalau persinyalannnya udah bagus, sudah bisa. Kereta kan sangat tergantung pada persinyalan. Mudah-mudahan tahun ini selesai," ujar Herlianto.

Sebagai informasi, Menteri Koordinator Maritim Rizal Ramli sedang berencana membuka kembali jalur kereta menuju ke dalam Pelabuhan Tanjung Priok. Ia yakin hal ini akan membuat kontainer bisa segera terangkut.

Langkah Menteri Koordinator bidang Kemaritiman, Rizal Ramli yang berencana membuka kembali kereta menuju pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, mendapat dukungan dari Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Menurut Kalla, rencana pembukaan kembali rel kereta pelabuhan memang sudah ada sejak lama. Namun, hal itu tak kunjung dilakukan karean berbagai pertimbangan. "Tapi kondisi dulu dan sekarang beda, tak bisa disamakan. Intinya rel itu masih dibutuhkan," kata Kalla di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Selasa 15 September 2015 seperti dilansir TEMPO. ‎

Menurutnya, pembangunan rel pelabuhan bisa berdampak baik maupun buruk. Jika dikelola dengan baik, efeknya bisa positif. Namun, dia mengaku belum mendapatkan laporan resmi mengenai pembukaan kembali jalur tersebut. 

‎Menteri Koordinator Maritim Rizal Ramli, Kamis 10 September 2015 lalu, secara simbolis membongkar beton penghadang jalur rel kereta di lapangan penumpukan peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok.

Rizal mengatakan, adanya beton itu merupakan contoh ketidakefisienan biaya trasportasi. Padahal, sejak zaman Belanda, rel ini berfungsi sebagai jalan kereta barang agar masuk ke pelabuhan. 

- See more at: http://www.konfrontasi.com/content/nasional/jusuf-kalla-dukung-rizal-ram...

Beberapa waktu silam, Rizal bahkan memimpin langsung kegiatan pembongkaran beton yang selama ini menutupi rel kereta yang dibangun ketika masa penjajahan Belanda itu.

Menteri Koordinator Maritim Rizal Ramli hari ini secara simbolis membongkar beton penghadang jalur rel kereta di lapangan penumpukan peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok.

Dengan nada orasi, Rizal menyebutkan adanya beton itu merupakan contoh ketidakefisienan biaya trasportasi. Padahal, sejak zaman Belanda, rel ini berfungsi sebagai jalan kereta barang agar masuk ke pelabuhan.

"Jadi, sejak zaman Belanda, kereta api bisa langsung masuk ke pelabuhan sehingga barang setelah diperiksa langsung masuk ke atas kereta. Tapi Pelindo dengan sengaja menutup ini, semua rel ini, dengan balok-balok (beton) seperti ini, sampai ke dalam sehingga kereta enggak bisa masuk," katanya sebelum mengebor beton di Pelabuhan Tanjung Priok, Kamis, 10 September 2015.

Langkah Menteri Koordinator bidang Kemaritiman, Rizal Ramli yang berencana membuka kembali kereta menuju pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, mendapat dukungan dari Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Menurut Kalla, rencana pembukaan kembali rel kereta pelabuhan memang sudah ada sejak lama. Namun, hal itu tak kunjung dilakukan karean berbagai pertimbangan. "Tapi kondisi dulu dan sekarang beda, tak bisa disamakan. Intinya rel itu masih dibutuhkan," kata Kalla di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Selasa 15 September 2015 seperti dilansir TEMPO. ‎

Menurutnya, pembangunan rel pelabuhan bisa berdampak baik maupun buruk. Jika dikelola dengan baik, efeknya bisa positif. Namun, dia mengaku belum mendapatkan laporan resmi mengenai pembukaan kembali jalur tersebut. 

‎Menteri Koordinator Maritim Rizal Ramli, Kamis 10 September 2015 lalu, secara simbolis membongkar beton penghadang jalur rel kereta di lapangan penumpukan peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok.

Rizal mengatakan, adanya beton itu merupakan contoh ketidakefisienan biaya trasportasi. Padahal, sejak zaman Belanda, rel ini berfungsi sebagai jalan kereta barang agar masuk ke pelabuhan. 

- See more at: http://www.konfrontasi.com/content/nasional/jusuf-kalla-dukung-rizal-ram...

Padahal, jika kereta api bisa masuk ke pelabuhan, sepertiga kemacetan lalu lintas di sekitar Tanjung Priok berkurang. Dia menilai masalah kemacetan di Tanjung Priok sederhana, namun para pejabat membuatnya rumit.

Langkah Menteri Koordinator bidang Kemaritiman, Rizal Ramli yang berencana membuka kembali kereta menuju pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, mendapat dukungan dari Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Menurut Kalla, rencana pembukaan kembali rel kereta pelabuhan memang sudah ada sejak lama. Namun, hal itu tak kunjung dilakukan karean berbagai pertimbangan. "Tapi kondisi dulu dan sekarang beda, tak bisa disamakan. Intinya rel itu masih dibutuhkan," kata Kalla di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Selasa 15 September 2015 seperti dilansir TEMPO. ‎

Menurutnya, pembangunan rel pelabuhan bisa berdampak baik maupun buruk. Jika dikelola dengan baik, efeknya bisa positif. Namun, dia mengaku belum mendapatkan laporan resmi mengenai pembukaan kembali jalur tersebut.

‎Menteri Koordinator Maritim Rizal Ramli, Kamis 10 September 2015 lalu, secara simbolis membongkar beton penghadang jalur rel kereta di lapangan penumpukan peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok.

Rizal mengatakan, adanya beton itu merupakan contoh ketidakefisienan biaya trasportasi. Padahal, sejak zaman Belanda, rel ini berfungsi sebagai jalan kereta barang agar masuk ke pelabuhan.(k)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...
Minggu, 19 May 2019 - 20:59
Minggu, 19 May 2019 - 20:58
Minggu, 19 May 2019 - 20:55
Minggu, 19 May 2019 - 20:51
Minggu, 19 May 2019 - 20:42
Minggu, 19 May 2019 - 20:35
Minggu, 19 May 2019 - 20:28
Minggu, 19 May 2019 - 20:24
Minggu, 19 May 2019 - 20:21
Minggu, 19 May 2019 - 20:12
Minggu, 19 May 2019 - 20:05
Minggu, 19 May 2019 - 19:54