18 February 2018

Presiden Jokowi Dianggap Menyebarkan Berita Bohong?

KONFRONTASI -  Baru-baru ini, Presiden Joko Widodo kembali menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia terbaik ketiga dunia. Kolumnis South China Morning Post, Jake Van Der Kemp, menulis di koran itu soal pidato Jokowi soal pertumbuhan ekonomi Indonesia, yang disebut menempati urutan ketiga terbaik di dunia, setelah China dan India.
Simak pidatonya,Jake bahkan menyebut Jokowi sudah menyebarkan berita palsu alias hoaks. Padahal jokowi sendiri melarang media menyebarkan Hoax. Simak pidatonya di depan dewan pers nasional.:  https://www.youtube.com/watch?v=WCrrc1FqHhE

Tapi Menteri Keuangan Sri Mulyani angkat bicara soal ini membela atasannya. Sri Mulyani menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,02 persen bukan yang ketiga terbaik di dunia.

Ia menjelaskan, yang dimaksud Jokowi adalah pertumbuhan ekonomi Indonesia terbaik ketiga di antara negara-negara G-20, bukan di seluruh dunia.

"Ya ini kan tidak klaim bahwa paling tinggi seluruh dunia. Beliau (Jokowi) mengatakan di dalam negara-negara G-20 emerging market," kata Sri Mulyani, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (4/5/2017), seperti dikutip dari Kompas.com.

Sri Mulyani juga minta Jake buat melihat lagi slide presentasi yang ditampilkan saat Jokowi berpidato di Hongkong beberapa waktu lalu.Pada slide itu jelas-jelas disebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah nomor tiga terbaik dibandingkan negara-negara G-20.

Sri Mulyani mengatakan, idealnya pertumbuhan ekonomi Indonesia memang harus dibandingkan dengan negara-negara berkembang yang pendapatannya setara.Tidak adil jika membandingkan ekonomi Indonesia dengan negara-negara yang pendapatannya jauh lebih rendah.

"Kalau seluruh dunia kan banyak negara-negara yang income-nya lebih rendah dari Indonesia tapi gross-nya tinggi. Di ASEAN saja kalau kita lihat Kamboja dan Laos itu lebih tinggi dari kita," ujar mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini.

Nggak terima disebut hoax, Istana Kepresidenan juga sudah kirim surat keberatan kepada South China Morning Post. Surat ini menjawab kritik yang disampaikan kolumnis media itu, Van Der Kamp, kepada Presiden Jokowi.

Isinya :
"Menanggapi artikel Jake Van Der Kamp di South China Morning Post 1 Mei 2017, perlu kami jelaskan bahwa Presiden Joko Widodomengutarakan angka perbandingan pertumbuhan ekonomi dalam konteks posisi Indonesia di antara negara-negara anggota G-20," kata Kepala Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden, Bey Machmudin, Jumat (5/5/2017).

Bey menjelaskan bahwa Presiden berbicara soal peringkat pertumbuhan ekonomi Indonesia, di layar sedang terpampang tayangan mengenai pertumbuhan ekonomi negara-negara G-20 yang menunjukkan Indonesia berada pada posisi ke-3 setelah India dan RRT.

Buat kalian tau aja, Jake menulis opini di South China Morning Post dengan judul: "Sorry President Widodo, GDP Rankings are Economists Equivalent of Fake News".

Di kolom tulisannya, Jake mempertanyakan klaim peringkat ketiga dalam hal pertumbuhan ekonomi seperti yang disampaikan Jokowi saat kunjungan ke Hongkong beberapa waktu lalu.

Ekonomi meroket September 2017:  https://www.youtube.com/watch?v=LImpk-2BaRA

Sebab, di Asia, banyak negara yang pertumbuhan ekonominya lebih tinggi daripada Indonesia.
Misalnya Vietnam 6,2 persen, Timor Leste 5,5 persen, Papua Nugini 5,4 persen dan Myanmar 7,3 persen.
Sementara, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2016 5,02 persen.

Mungkin beliau akan menjelaskan lagi kalau pertumbuhan ekonomi akan meroket lagi nantinya seperti tahun 2015 kemarin.

Lihat Videonya: https://www.youtube.com/watch?v=cMAcjH24Xpg (KONF/Kompas.com, CNN Indonesia dan Hai online)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...