19 April 2019

Presiden Jokowi Bicara: Dari Infrastruktur Hingga Pribadinya

JAKARTA-Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan kesan serta berbagi sisi lain kehidupannya sepanjang perjalanannya menuju tiga tahun usia kepemimpinannya di Indonesia kepada INILAH.COM.

Melalui wawancara khusus yang berlangsung Senin (28/8/2017) pagi di Istana Merdeka, Jakarta, Jokowi bicara soal target kepemimpinan berikutnya sebagai kepala negara, upayanya meningkatkan prestasi olahraga Indonesia hingga berbagi kehidupan pribadinya bersama sang ibu, Sujiatmi Notomihardjo.

Berikut petikan wawancara yang dihimpun tim redaksi INILAH.COM,bersama Presiden Ke-7 RI yang sebelumnya menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta ini.

Oktober nanti tiga tahun Bapak memimpin bangsa ini sebagai Presiden RI. Apa yang masih mengganjal?

Indonesia ini kan negara dan bangsa yang besar ya. Bangsa yang beragam, bangsa yang majemuk dan bisa kita bayangkan, mengelola sebuah negara yang kalau kita hitung, (jarak) pesawat dengan hitungan jam, dari Sabang sampai merauke, itu bisa memakan waktu delapan sampai sembilan jam. Ini sebuah bentangan jarak yang sangat jauh dan sangat besar. Dengan memiliki 17.000 pulau apalagi.

Semuanya harus tersedia infrastruktur. Ini kan, semuanya memang harus ada infrastruktur. Itu merupakan basic dan fondasi dasar baik pengelolaan logistik, juga arus barang dan manusia. Ini semua kan, harus dikelola. Saya kira memerlukan waktu yang panjang untuk menyiapkan infrastruktur yang baik untuk negara kita.

Kuncinya infrastruktur ya?

Ya memang itu.

Kira-kira butuh berapa tahun?

Kita kalau ingin mengejar ketertinggalan infrastruktur kita dengan negara-negara lain, dibandingkan kanan dan kiri kita, kita masih tertinggal. Ini perlu dikejar dan ini merupakan hal yang sangat basic bagi negara. Kalau ini selesai, baru kita bisa menginjak ke pembangunan sumberdaya manusia. Ini juga merupakan hal yang sangat mendasar sekali untuk dikerjakan dalam rangka kita untuk masuk ke dalam step berikutnya, industri maupun ke jasa dan berikutnya lagi kepada hal-hal yang berkaitan dengan teknologi.

Saya kira tahapan-tahapan besar ini memang harus kita lakukan. Sekarang kita, sekali lagi fokus dan konsentrasi kita pada infrastruktur. Kita tidak mau konsentrasi kita dipecah-pecah,semua dikerjakan. Akan tetapi hasilnya tidak kelihatan, baunya tidak kelihatan. Makanya kita kerja fokus karena ingin ini segera selesai dan kita harapkan bisa dimanfaatkan untuk kelancaran arus manusia, barang dan itu sebuah kebutuhan besar bagi sebuah negara.

Menjelang tiga tahun bapak memimpin, suka dukanya menjadi Presiden RI?

Kembali lagi ini kan, negara kita besar, beragam dan itu menjadi kodrat dan anugerah dari Allah ya yang diberikan kepada bangsa Indonesia. Kalau untuk urusan Indonesia, semuanya kalau saya suka. Insya Allah semuanya suka.

Enggak ada dukanya?

Apa yang saya jalani seperti itu.

Kata orang, jadi Presiden RI itu enak benarkah?

Ya, perlu dicoba saja. Biar Anda tahu. Coba saja. Mungkin untuk orang yang ingin menikmati sebuah kekuasaan kemudian enak, tetapi sekali lagi bayangkan kita memiliki 714 suku, 17.000 pulau, memiliki 250 juta lebih penduduk dengan kondisi infrastruktur yang belum baik, merata.

Artinya, kita harus kerja keras untuk menyelesaikan ini. Oleh sebab itu, kenapa kita sering ke lapangan, mengontrol ke lapangan, supaya tahu masalah-masalah konkret dan real yang ada di bawah. Tanpa itu, sulit selesainya sesuai dengan yang benar.

Banyak yang heran Bapak pagi-pagi sudah bangun, pagi sudah menerima tamu dan mengikuti berbagai kegiatan sampai malam, istirahatnya kapan? Saya lihat Bapak tetap bugar. Apa sih, rahasianya?

Saya juga manusia biasa, tentu ada capeknya, iya. Akan tetapi, kita ini dibatasi waktu dikejar waktu, kompetisi antarnegara saat ini sangat sengit, kondisi global juga begitu sengit. Saya meyakini, negara yang menang itu negara yang cepat. Sehingga kita sering melupakan tidur itu perlu, tidur delapan jam, katanya. Itu harus tapi sekali lagi, kita ini dibatasi waktu dan dikejar waktu. Harus menyelesaikan masalah misalnya sertifikasi tanah sebanyak-banyaknya. Infrastruktur yang harus banyak dibangun, memberikan Kartu Indonesia Pintar, Kartu Indonesia Sehat.

Semuanya harus mengontrolnya agar betul-betul terkirim dengan baik. Kan, menyangkut ekonomi umat, ekonomi bawah juga harus bangkit. Pekerjaan besar kan, banyak sekali. Jadi, kepinginnya tidur lebih dari delapan jam. Hahaha. Akan tetapi, praktiknya kan, kalau saya cukuplah empat jam. Kalau enggak ya, bagaimana kadang-kadang seperti kemarin di Jember dari Pesantren jam berapa itu kejar-kejaran, jam 12 malam masih. Ya,memang pekerjaannya seperti itu.

 

Setiap hari tidur jam berapa rata-ratanya?

Wah, enggak bisa. Pokoknya tidur. Sebenarnya saya ini gampang tidur. Di mobil kalau ada kesempatan bisa tidur 30 menit. Di pesawat 30 menit bisa tidur. Itu yang menyebabkan, kalau enggak bisa tidur, duh.... enggak bisa bayangin juga.

Olahraga masih rutin?

Rutin seminggu dua kali lah. Rutin lah olahraga.

Olahraganya apa?

Sepedaan sama jogging. Enggak ada yang lain. Ya yang murah-murah.

Ada suplemen khusus?

Enggak ada. Jadi, enggak pernah. Minum jamu saja setiap pagi. Ramuan tadi, temulawak, jahe, kunyit. Saya kira itu bukan rahasia kan? Semuanya sudah pada tahu.

Apa yang Bapak sukai dalam hidup ini?

Hahaha.... Ya gimana, senangnya memang bekerja. Tetapi bekerja yang bermanfaat. Bekerja yang bermanfaat.

Kalau yang Bapak tidak sukai dalam hidup ini? Orang malas bekerja?

Hahahaa....

Ada tidak tokoh yang benar-benar Bapak kagumi?

Banyak yang menginspirasi ya. Kalau kita lihat, di negara kita ada Bung Karno. Kita harus mengerti betul bahwa perjuangan berat beliau dalam memerdekakan, Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan dan memerdekakan lewat sebuah perjuangan yang panjang Keuar-masuk penjara, dibuang, ditempa dan penderitaan seperti itu yang harus kita resapi. Perjuangan para pendahul kita yang mulia semua pahlawan kita saya kira harus kita hargai betul-betul.

Masih suka baca buku, apa genre buku favorit Bapak?

Hahaha.... Semua saya baca sih, terutama yang ringan-ringan dan lucu semuanya saya baca.

Masih sempat ada waktu membaca ya?

Ya, kita ini kan, dari Bogor punya waktu satu jam. Berangkat satu jam, di dalam (mobil) kalau enggak tidur baca.

Masih menyempatkan waktu untuk keluarga? Bagaimana komunikasi dengan anak-anak, apalagi Mas Kaesang dan Mbak Kahiyang sedang dalam usia yang memang membutuhkan banyak perhatian.

Ya, dekat. Ya dekat kok. Ya, kalau ada waktu dan acara ke luar kota sering saya ajak kalau mereka, anak-anak ada yang longgar waktunya. Makan bareng, nonton bareng, tapi sekarang sudah jarang. Saya sering telepon atau video call. Atau chatting dengan anak-anak. Bertanya sedang apa, mau ke mana atau kita kirim foto-foto. Sekarang kan, meskipun jauh-jauh tapi masih (komunikasi).

Mereka sering komplain karena kesibukan Bapak?

Awal-awal iya, tapi sekarang sudah enggak. Sudah mengerti sekarang, mereka sudah mengerti semua Bapaknya harus apa. Mereka harus menyesuaikan. Mereka sudah tahu dan menyesuaikan.

Kalau sama Ibunda, lebih sering Bapak yang mengunjungi atau Ibu yang datang ke Istana?

Oh banyak saya yang ke Solo. Keluarga enggak. Tanya saja di Istana ini. Keluarga saya enggak, dapat dikatakan enggak, sangat jarang sekali. Tapi kalau saya, punya waktu dan sempat saya ke Solo namanya anak juga kangen ketemu orangtua. Tinggal ibu saja dan seperti yang lain saya juga telepon setiap hari, setiap dua hari sering diingatkan "yang sabar Le....atau "salatnya harus tepat waktu." Begitu lho.

Meskipun saya tahu, ibu saya enggak mengerti politik, enggak mengerti masalah politik, tapi untuk hal yang penting saya selalu ditelepon dan minta didoakan. Saya kira wajar, semua anak ke orangtua seperti itu.

Arti seorang Ibu untuk Pak Jokowi?

Hahahaa.... Ya, sama seperti yang lainnya lah. Saya tidak ingin melebih-lebihkan. Tetapi sekali lagi, meskipun saya tahu ibu saya enggak mengerti politik, setiap keputusan penting saya selalu minta didoakan, baik ketemu langsung ataupun lewat telepon.

Kalau boleh tahu, di waktu santai Bapak pakaiannya buatan dalam negeri atau luar negeri?

Saya tuh begini, kalau di Istana banyak ngobrol dengan keluarga atau kadang ke pasar, kadang memberi makan, rutin lah, memberi makan ikan, ayam, kambing, banyak hewan. Ya banyak pakai sarung kalau di dalam istana. Pas memberi makan ikan juga pakai sarung.

Kalau sepatu, Bapak pakai produksi dalam atau luar negeri?

Saya jarang membeli sendiri kalau membelikannya banyak dibeli di Bandung.

Sepatu buatan Cibaduyut ya?

Enggak tahu. Hahaha biasanya difoto lalu dikirimkan, ya boleh. Kadang dibelikan anak saya, kayak kemarin dibelikan sneakers saya pakai. Kayak begitu saja sih. Ya, banyak dalam negeri tapi kadang kita satu atau dua beli luar negeri tapi sekali lagi, bukan saya yang beli. Kalau enggak istri, ibu, ya anak.

Kadang pinjam punya Mas Kaesang juga ya?

Ya, kadang pinjam punya anak.

Soal prestasi SEA Games kemarin itu kita peringkat 5. Bagaimana meningkatkan prestasi olahraga kita di ajang internasional?

Ya, perlu ini ya, kita ini negara besar. Penduduknya besar di ASEAN, kita rangking kelima. Kita ini betul-betul perlu sebuah evaluasi besar dan saya kira yang paling penting pembinaan dini. Pembinaan di usia dini penting sekali. Kemudian kompetisi yang teratur, kompetisi yang dilakukan sejak usia dini penting. Kompetisi secara dini dan berkesinambungan terus sangat penting sekali.

Saya kira cabang-cabang olahraga kita ini perlu reformasi total. Perlu pembaharuan sehingga muncul sebuah kekuatan yang diperhitungkan. Sekali lagi, kita ini bangsa besar. Kita negara besar, jangan lupa itu. Saya akan perintahkan kepada menteri (Menpora) untuk melakukan evaluasi besar. Saya harus sampaikan apa adanya.

Karnaval kemarin Bapak pakai baju adat Sunda, kesannya seperti apa?

Ini kan bukan pertama kali. Di Toba juga kita pakai baju adat Batak, kemarin di Bandung pakai baju adat Sunda. Saya kan, enggak mau sih ada karnaval saya duduk manis lihat doang. Kepingin ikut, lihat masyarakat, ikut pakai baju adat untuk karnaval dan ikut naik, ditawari"Bapak ingin ikut naik di mobil hias?" Ya, mau saja saya naik. Gitu saja.

Berarti akan rutin ya karnaval semacam ini setiap 17Agustus?

Ya dan mungkin tidak hanya 17 Agustus saja, tapi Hari Pahlawan, Hari Sumpah Pemuda, kita perlu memunculkan kekuatan, kemajemukan, keanekaragaman budaya, baju adat, itu harus diangkat terus. Kalau kita lihat karnaval kaya kemarin, kelihatan kita pakai banyak (baju adat) betapa kaya raya seni budaya, baju adat dan itu juga akan memberikan inspirasi pikiran kepada yang nonton. Wah negara kita besar, bermacam-macam, majemuk, sangat beragam. Kelihatan sekali ketika kita nonton. Satu provinsu, beda kabupaten saja beda (baju adatnya). Bahasanya beda-beda semua.

Bapak suka ikut turun tangan soal desain baju adat yang Bapak kenakan?

Enggak lah, saya ikut saja. Disuruh pakai baju apa saja, saya ikut saja.

Yang penting adat Indonesia ya Pak?

Iya, di Bandung saya pakai baju adat Sunda, pasti. Di Sumut baju adat Batak.

Terimakasih banyak atas waktu dan kesempatan yang diberikan Bapak kepada Kami untuk melakukan wawancara ini.

Sama-sama, terimakasih juga .

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...