28 February 2017

Prabowo yang Bersuara Nyaring dan Jokowi yang Melanting

KONFRONTASI-Melambatnya perekonomian nasional era Presiden Jokowi dan merosotnya kredibilitas berbagai institusi kenegaraan belakangan ini, membuat mantan Pangkostrad Prabowo Subianto bersuara nyaring kembali mengkritisi situasi dan kondisi di bulan ramadhan dan Idul Fitri kemarin ini. Ada apa gerangan?

Prabowo melihat, kehidupan berbangsa dan lembaga negara belakangan ini kian memprihatinkan. Korupsi merajalela, kehidupan ekonomi rakyat kian sulit, mafia peradilan makin menggila dan lembaga-lembaga hukum kehilangan kepercayaan rakyat. Demokrasi transaksional juga kian meluas dan kerusakan sosial makin parah. Apa yang harus dilakukan?

Namun demikian, kata Prabowo, Partai Gerindra tidak ingim mencari kekuasaan dengan cara menjatuhkan kehormatan partai berlogo kepala
Garuda itu. "Kita tidak mau hanya jadi partai pencari kursi, kita akan rebut kekuasaan dengan baik, terhormat, halal, konstitusional dan demokratis. Kekuasaan itu akan kita gunakan untuk kepentingan seluruh rakyat," kata Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto dalam pidatonya di Bidakara, Jakarta, Rabu (29/6/16).

Ia pun mengingatkan seluruh kader Partai Gerindra agar jangan pernah mengecewakan masyarakat yang menaruh harapan kepada partai yang
dipimpinnya itu. Terlebih, kondisi bangsa saat ini bisa dibilang tidak menggembirakan. Prabowo menilai , kehidupan kenegaraan dan institusi penting negeri ini satu persatu mulai tergoyahkan.

"Hal yang sudah terlihat jelas ada sebagian elite di negeri ini yang tidak mau tahu. Dan yang pura-pura tidak tahu dan ingin mengelabui rakyat," kata Prabowo

Prabowo tidak secara rinci menjelaskan kehidupan bernegara yang mulai goyah belakangan ini. Prabowo bahkan mengkritik media massa yang banyak dikuasai pemodal besar dan konglomerat sehingga banyak masalah kenegaraan dan keluhan rakyat yang diabaikan, bahkan dimanipulasikan.

"Maksud saya kondisi negara kita bukan kondisi yang boleh seenaknya. Kita harus terus waspda terus saling mengingatkan, saling mendukung menjaga karena itu saya mengajak Gerindra untuk membenahi diri. Memerkuat akar kita ke rakyat dan selalu menjadi sumber dari kebenaran," ucap Prabowo.

Prabowo ingin agar kekuasaan di parlemen dan pemerintahan didayagunakan untuk kepentingan rakyat dan segala sesuatu dilakukan melalui cara-cara konstitusional . Dan kekuasaan itu digunakan sebaiknya untuk perjuangan dengan masyarakat kecil, tidak untuk kepentingan para elite yang manipulative dan koruptif.

Publik menilai, pernyataan keras Prabowo itu menjadi isyarat bahwa dia akan come back dalam Pilpres 2019. Namun menghadapi Jokowi kembali pada laga Pilpres mendatang, Prabowo harus berpikir ulang, jangan sampai dua kali kalah berhadapan Jokowi. Lebih baik berpikir, bagaimana membuka peluang untuk berkoalisi dengan Jokowi agar tidak terjerembab dan tersingkir dari arena politik negeri ini. Jokowi masih digdaya dan memiliki potensi segala cara karena kuasa dan sumber daya ada di tangannya.

Sekali lagi, Prabowo lebih baik berduet atau berkoalisi dengan Jokowi, agar tak membentur tembok dan sia-sia mengingat semua itu tadi. Why not?

Itulah tantangan dan masalah yang dihadapi Prabowo ke depan nanti. Jokowi tetap popular dan amat mungkin tatanan politik tak banyak berubah !  (Ahluwalia dari kampus Paramadina/berbagai sumber/inilah)

 

Category: 

Berita Terkait

Baca juga


Loading...
Selasa, 28 Feb 2017 - 20:26
Selasa, 28 Feb 2017 - 20:23
Selasa, 28 Feb 2017 - 20:21
Selasa, 28 Feb 2017 - 19:50
Selasa, 28 Feb 2017 - 19:45
Selasa, 28 Feb 2017 - 19:40
Selasa, 28 Feb 2017 - 19:36
Selasa, 28 Feb 2017 - 19:32