21 July 2019

Prabowo Menang Hingga 86 Persen di Sumbar, Ada Jejak Sang Ayah

KONFRONTASI -   Pemungutan suara untuk Pemilu 2019 usai sudah dilaksanakan. Publik kini menanti hasil hitung curang atau dikenal real count, dari Komisi Pemilihan Umum (KPU), terutama perolehan suara pemilihan presiden. Sembari menunggu hasil hitung KPU itu, jagat maya masih dihebohkan dengan isu-isu tentang kecurangan dan saling klaim kemenangan dari kedua pihak.

Jika capres nomor urut 01, Joko Widodo, menanggapi santai hasil hitung cepat dari sejumlah lembaga survei, dan meminta untuk bersabar menunggu penghitungan suara dari KPU secara resmi, lain hal dengan capres 02, Prabowo Subianto.

Tercatat, tiga kali sudah salah satu perwira tinggi militer Indonesia di era orde baru dengan karier militer yang cemerlang itu mendeklarasikan kemenangan dan mengungkap terjadi kecurangan di berbagai wilayah.

Merasa menang lebih dari 62 persen real count dan form C1 yang telah direkapitulasi oleh timnya, menjadi dasar Prabowo Subianto sampai tiga kali mendeklarasikan kemenangan. Prabowo yakin, dirinya dan Sandiaga Uno berhasil mencuri hati masyarakat dan meraup suara paling banyak di Pilpres 2019, mengalahkan Jokowi-Ma’aruf Amin.

Derasnya dukungan, baik di dunia maya maupun dunia nyata, membuktikan bahwa ketokohan dan kharisma Prabowo patut diakui. Antusias sambutan dari masyarakat di sejumlah wilayah yang pernah dikunjungi mantan pendiri dan pemimpin unit Detasemen 81/Penanggulangan Teror yang dikenal sebagai Gultor 81 itu memang cukup membuat resah kubu 01.

Baik Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno maupun mesin-mesin partai Koalisi Indonesia Adil Makmur, bekerja ekstra keras di beberapa wilayah, menyatukan kekuatan untuk “membombardir” basis-basis pertahanan Jokowi-Ma’aruf Amin. Dengan tujuan, mencuri suara massa pendukung kubu 01.

Namun demikian, tidak untuk di Sumatera Barat. BPN Prabowo-Sandiaga sepertinya tak harus banyak menguras energi untuk mengkampanyekan keduanya. Pasalnya, sejak Pilpres 2014 silam, Ranah Minang merupakan salah satu wilayah lumbung suara terbanyak bagi Prabowo. Sebanyak 76,9 persen atau setara dengan 1.797.505 suara, merupakan angka yang fantastis.

Meski secara terang-terangan Jokowi-Ma’aruf Amin pada pemilu kali ini didukung 12 dari 19 kepala daerah, namun Jokowi tetap tumbang di Sumatera Barat. Bahkan perolehan suara merosot tajam dari Pilpres 2014. Data real count KPU 23 April 2019 pukul 09.45 WIB, Jokowi-Ma’aruf Amin hanya mampu meraup suara 13.29 persen, sementara Prabowo-Sandiaga Uno 86.71 persen.

Sebanyak 86.71 persen suara sementara yang diraup pada Pilpres 2019 ini, lagi-lagi membuktikan jika ketokohan dan kharisma Prabowo di mata masyarakat Sumatera Barat memang sangat kuat. Dukungan 12 kepala daerah terhadap Jokowi, sedikit pun tak mengubah sikap, pandangan dan pilihan masyarakat. Prabowo tetap unggul dalam dua kali pilpres.

Peneliti sejarah Sumatera Barat, Maiza Elvira, menyebutkan di panggung sejarah, masyarakat Sumatera Barat memang memiliki keterikatan dengan ayah Prabowo Subianto yaitu, Soemitro Djojohadikusumo. Dia adalah tokoh yang mendukung perlawanan masyarakat Sumatera Barat dalam aksi protes dan tuntutan penerapan otonomi daerah atau yang dikenal dengan PRRI pada tahun 1957.

Soemitro menurut Maiza Elvira, juga menjadi salah satu orang yang menggagas Negara Minangkabau di tahun-tahun terjadinya perang tersebut, meski kemudian tidak terealisasi. Bersama-sama dengan Bung Hatta, Soemitro memberikan dukungan penuh perjuangan masyarakat Sumatera Barat dalam menuntut pemerintah pusat yang saat itu dipimpin oleh Soekarno untuk menepati janjinya yaitu menerapkan sistem otonomi daerah, karena adanya kesenjangan pembangunan yang terjadi antara pulau Jawa, dan daerah luar pulau Jawa.

“Penciutan divisi di beberapa wilayah luar Jawa di tubuh Angkatan Darat juga menjadi salah satu penyebab perang ini terjadi. Dukungan Soemitro kala itu penuh. Naka Soemitro sangat membekas di hati masyarakat Sumbar,” kata Maiza Elvira, Selasa 23 April 2019.

Maiza Elvira menambahkan, di pilpres sebelumnya animo masyarakat kepada Jokowi juga rendah. Bagi masyarakat Ranah Minang, Jokowi barangkali orang yang baik, tapi terlalu dianggap banyak gaya dan aksi yang tidak penting. Pencitraan bagi masyarakat Sumatera Barat adalah sesuatu yang tidak penting dan menjadi sesuatu yang memuakkan jika sampai pada taraf akut.

“Kemudian orang-orang di sekeliling Jokowi juga menjadi faktor yang memengaruhi rendahnya pemilih Jokowi di Sumatera barat. Seperti Megawati, yang merupakan anak Soekarno,” ujar Maiza Elvira.

Menurut Maiza Elvira, Soekarno sayangnya memang bukan tokoh yang digemari di Sumatera Barat. Penumpasan PRRI oleh Soekarno, dan dugaan keberpihakan Soekarno terhadap PKI membuat luka yang teramat dalam bagi masyarakat Sumatera Barat.

Namun demikian, Prabowo, kata Maiza Elvira, bukanlah sosok yang harga mati bagi masyarakat Sumbar. Pilihan hati masyarakat di Ranah Minang bisa saja beralih pada pilpres berikutnya atau 2024 apabila Prabowo maju kembali bertarung dengan tokoh lain yang dianggap memiliki sifat ketokohan yang sesuai di mata masyarakat Sumbar.

“Barangkali kalau muncul calon-calon seperti Anies Baswedan, masyarakat Sumatera Barat akan berpaling pada Anies. Karena tidak sedikit yang mengidolakan Anies Baswedan di Sumatera Barat. Jadi, Prabowo sesungguhnya bukan harga mati. Barangkali jika muncul tokoh lainnya yang sesuai dengan selera orang Sumatera Barat, Prabowo akan teralihkan,” kata Maiza Elvira.

Kemudian, ujar Maiza, isu agama juga menjadi faktor yang sangat penting. Siapa pun tokoh yang akan muncul nanti, isu agama akan tetap menjadi perhatian utama. Dalam artian, calon presiden yang pro agama akan lebih diminati di sini. Karena sejak masa kolonial, Sumatera Barat masuk dalam kantong-kantong dengan penyebaran dan perkembangan Islam yang cukup masif.

Bagi Maiza, peristiwa PRRI itu adalah peristiwa yang sangat kompleks. Tidak hanya permasalahan ekonomi dan militer saja yang menjadi faktor utama. Hal ini disebabkan karena di Sumatera Barat, berbagai organisasi keagamaan seperti Masyumi, PERTI, Muhammadiyah dan banyak lainnya tumbuh dan berkembang dengan pesat.

Organisasi-organisasi ini adalah organisasi yang sering terlibat masalah dengan PKI. Bahkan di masa PRRI tersebut, Dahlan Djambek membuat sebuah gerakan yang bernama GERBAK (gerakan bersama anti komunis).

“Tapi jelas saat ini ketokohan Prabowo sangat kuat. Tapi bukan harga mati,” kata Maiza Elvira. (Jft/Viva)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...