16 October 2019

Prabowo Diisukan Tak Layak Nyapres, Kang Tamil: Jokowi juga Tak Layak

KONFRONTASI -  Hasil Pilkada serentak 2018 yang dirilis berbagai lembaga survei menyatakan kemenangan PDI-P dan Gerindra sangat kecil, bahkan dinyatakan kalah di basis masing-masing.

Hal ini kemudian memunculkan isu dan penggiringan opini yang cukup masif, bahwa Prabowo dinilai tidak layak untuk maju sebagai calon presiden 2019. Di sosmed juga sempat muncul hastag tandingan #jadigantipresiden?.

Menanggapi hal ini, pengamat komunikasi politik TSJ Circle, Tamil Selvan menyatakan, bahwa hasil Pilkada 2018 tidak berkorelasi langsung terhadap calon presiden walaupun tetap memiliki keterkaitan.

Masyarakat, kata dia, saat ini sudah sangat cerdas dalam berdemokrasi. Sehingga tidak bisa dipengaruhi dengan hal-hal yang bersifat pencitraan maupun propaganda opini.

Ditegaskan Tamil, dalam menentukan pilihan masyarakat cenderung melihat kepada kapasitas dan kredibilitas dari calon yang diusung. Jikapun ada efek dari para tokoh yang menjadi juru kampanye, persentasenya sangat kecil.

Kecerdasan masyarakat ini terbukti ketika Kotak Kosong dinyatakan menang di Pilkada Kota Makasar, serta unggul di berbagai wilayah di daerah dengan calon tunggal.

"Masyarakat hari ini sudah sangat cerdas dalam berdemokrasi, mereka lebih melihat figur calon daripada juru kampanyenya. Buktinya kotak kosong menang diberbagai wilayah tanpa ada yang mengkampanyekan" ujar pria yang akrab dipanggil Kang Tamil ini, Jakarta, Senin (2/7/2018).

Menurut Tamil, posisi Gerindra yang hanya menang di 3 wilayah dalam Pilgub 2018, lalu dianggap Prabowo tidak layak nyapres, maka Jokowi juga tidak layak nyapres.

Sebab, partai penguasa PDI-P tidak lebih bagus, alias hanya mengantongi kemenangan di 4 wilayah. 

"Jadi, jika menggunakan korelasi ini, artinya rakyat yang tidak memilih PDI-P tidak menginginkan Jokowi. Saya rasa ini korelasi yang salah dan tidak fair," urai Tamil.

"Kalau Gerindra kalah lalu prabowo dinilai tidak layak nyapres, berarti Jokowi juga ngak layak dong, kan beliau kader PDI-P, Presiden lagi, jadi analogi seperti ini salah dan tidak fair" tutur Tamil.

Selain itu, tambah Tamil, suara Gerindra dan PDI-P juga tidak berbanding lurus dengan suara Prabowo dan Jokowi di Pemilu 2014. 

Baik suara Prabowo maupun Jokowi cenderung jauh lebih tinggi dari pada suara partainya. Justru ketokohan keduanya yang mendongkrak suara partai masing-masing.

"Jika kita melihat Pileg dan Pilpres 2014, justru suara Prabowo dan Jokowi yang jauh lebih tinggi dari suara partainya, hal ini membuktikan bahwa Prabowo efek dan Jokowi efek lah yang mendongkrak Gerindra dan PDI-P, bukan sebaliknya," sambung Kang Tamil.

Namun demikian, diakui Tamil, walau tidak berkorelasi secara langsung, namun kemenangan dan kekalahan pada Pilkada 2018 ini juga merupakan bahan introspeksi bagi semua partai politik dalam menghadapi Pilpres, mengingat partai-partai besar cenderung kalah pada perhelatan 27 Juni lalu.

"Para partai politik ini harus mengkaji kembali strategi, taktik, serta pola pola komunikasi politik yang digunakan," katanya.

"Kekalahan pada Pilkada ini merupakan bahan introspeksi bagi partai politik, mungkin ada pola-pola yang keliru dan harus diperbaiki. Jadi, analogi Prabowo atau Jokowi tidak layak nyapres karena partainya kalah Pilkada ini menurut saya salah kaprah," pungkas Tamil. (KONF/TEROPONG)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...