26 May 2019

Pinjaman IMF dan Bank Dunia adalah Jebakan-jebakan Neoliberalisme, kata Rizal Ramli

KONFRONTASI- Pinjaman IMF dan Bank Dunia adalah jebakan-jebakan Neoliberalisme yang terjadi pada pemerintah saat ini. Pinjam meminjam dalam bisnis merupakan hal biasa. Namun untuk berkembang perlu mengoptimalkan leverage. Tapi jika negara meminjam dari lembaga multilateral (IMF, Bank Dunia) banyak prasyarat (conditionlaties) yang merupakan jebakan-jebakan neoliberalisme.

Belakangan, kata ekonom senior DR Rizal Ramli (RR),  ada juga pinjaman antar negara yang dirancang sebagai “loan-to-owned”, sengaja di-markup agar macet sehingga bisa dimiliki/dikuasai dalam jangka panjang.

“Yang paling baik, tentu meningkatkan pembiayaan dalam negeri, termasuk dengan menaikkan tax ratio. Hal itu dilakukan Jepang dan China, yang kebangkitan ekonominya dibiayai dari sumber-sumber pembiayaan dalam negeri. Mulai dari kebijakan terobosan, finance will follow,” ujar mantan Menko Perekonomian era pemerintahan Gus Dur ini.

Gagal

Dalam hal ini, ujar mantan Menko Kemaritiman ini, tim ekonomi gagal, karena tax ratio mandeg di 10,5% GDP. Pendapatan seolah-olah tercapai, karena asumsi yang dibuat sengaja rendah seperti harga minyak mentah dan lain-lain.

Model permbangunan berlandaskan utang,  neoliberalisme ala Bank Dunia, tidak akan pernah membuat Indonesia tumbuh tinggi seperti Jepang dan China (>10%) karena jika tumbuh diatas 6,5%, pasti kepanasan, utang harus dikurangi. Utang menjadi rem otomatis (automatic brake) untuk merem pertumbuhan ekonomi jangan terlalu tinggi.

Menurutnya, jika Indonesia ingin tumbuh double-digit, jadi negara kuat dan hebat, segera tinggalkan model pembangunan ekonomi neoliberal ala Bank Dunia. Tidak ada negara di dunia yang berhasil di dunia yang mengikuti model Bank Dunia, tidak di Latin Amerika, tidak di Asia & apalagi Afrika. 

(FF)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...