19 June 2019

Pilpres: Lagi, Rizal Ramli Ingatkan Lembaga Survei Jangan Menjustifikasi Kecurangan

KONFRONTASI- Tokoh nasional Rizal Ramli mengingatkan agar pada pilpres 2019 ini, lembaga-lembaga survei tidak menjustifikasi kecurangan dan tidak me-maintain gap elektabilitas yang tak masuk akal. LSI Denny JA, Charta Politika, Saeful Mujani, Burhanudin Muhtadi dll misalnya mencatat kubu petahana unggul di atas 20 persen dengan elektabilitas 53,2 persen. Sedangkan angka elektabilitas Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sekitar 31,2 persen. Gap elektabilitas itu tak masuk akal  dan mengingkari logika publik sebab elektabilitas Jokowi-Maruf Amin itu stagnan, mandeg, sedangkan Prabowo-Sandi  terus naik, menanjak.

Rizal Ramli, Menko Ekuin era Presiden Gus Dur,  menyatakan survei versi LSI Denny JA, Charta Politika, Saeful Mujani, Burhanudin Muhtadi dll itu tidak sama dengan yang ia temukan ketika berkunjung ke lapangan dan berdialog langsung dengan masyarakat. Dia mengatakan  selisih elektabilitas di antara Jokowi dan Prabowo tak lebih dari 10 persen, bahkan kian menipis sekitar 5-6 persen.

RR mengingatkan semua pihak, kemenangan Prabowo-Sandiaga kalau sampai dicurangi maka people power akan terjadi, dan dikhawatirkan bangsa ini guncang, tapi elite penguasa akan menghadapi perlawanan rakyat  dan tekanan keras dunia  internasional sehingga perubahan tetap terjadi.
Survei-survei pro-Jokowi itu jelas tidak bisa dipercaya dan tak kredibel karena tidak jurdil, tak transparan dan hanya melegitimasi secara kasar agar Jokowi dua periode meski periode pertama Jokowi gagal,kobrut dan tidak kompeten sama sekali.

Litbang Konfrontasi (media ini) mencatat: Nyaris semua lembaga survey, kecuali 2-3 lembaga, salah ramalan 16-18%, 6x Margin of Error. Contoh : bahwa PDIP calonkan JKW, PDIP akan naik ke 35% (kenyataan 18%). Ahok akan menang (selisih perkiraan 18%). Artinya: kalau perkiraan 3-6x Margin of Error, pasti bayaran dan tidak ilmiah. Jika ikuti kaidah survey yang benar, pasti dekati Margin of Error. Bayaran, artinya, polling hanya alat kampanye, jangan dijadikan basis perkiraan. Untuk pertanyaan sosial dan ekonomi, umumnya masih wajar, tidak terlalu manipulatif. Tapi soal elektibilitas capres dalam survei itu, kebanyakan manipulatif. Termasuk survey Ahok pasti menang 2-3%, kenyataannya kalah 16%. Selisih 18-19%, 8 kali margin of error. Propaganda !
Kalau kita rajin, gaul dengan semua lingkungan, atas-tengah-bawah, ajukan pertanyaan secara random. Hasilnya pasti lebih akurat. Itulah yg sering kami lakukan, hasilnya mendekati kenyataan. Kami benar tahun 2009, PDIP 16 % dan 2014 sekitar 18%. Dan Ahok pasti kalah, karena core diehardnya hanya 20%. Dapat 42% karena dukungan all out negara dan aparat, nyaris semua media mainstream dan taipan sudah berpihak ke Jokowi. (berbagai sumber/Kof)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...