20 January 2020

Pilpres 2019: Jokowi "Menang jadi Arang, Kalah jadi Abu"?, Dikhawatirkan, RI Disintegrasi, kata Aktivis senior

KONFRONTASI -  Berbagai kalangan menilai, Joko Widodo dalam pilpres kini kalau pun  "Menang jadi Arang, Kalah jadi Abu". Kalau pun dimenangkan paksa oleh KPU, Jokowi tak membawa manfaat dan keuntungan apapun  bagi rakyat. Jokowi  menang atau kalah tak ada guna dan manfaatnya sebab Jokowi jadi beban bagi rakyat dan bangsa ini karena  pemilu curang dan tak kredibel, Jokowi gagal ekonomi, ingkar janji (bohong) dan sekedar petugas (boneka) politik para taipan dan oligarki. Jokowi ngeblok ke China, bikin utang bertumpuk trilyunan, dan korupsi merajalela, dan hampir lima tahun ini, Nawa Cita dan Trisakti dicampakkan Jokowi. Para pejabat tinggi di sekeliling Jokowi harus eling, waspada, rasional,  obyektif, mawas diri dan mementingkan keselamatan bangsa dan demokrasi.

Demikian pandangan Bennie Akbar Fatah, aktivis senior Gerakan 1998 dan mantan pimpinan KPU era Presiden  Habibie dan dosen senior Universitas Paramadina Dr Herdi Sahrasad.  Menurut kedua inteligensia aktivis  itu, Jokowi hampir pasti ditolak oleh rakyat Sumatera (terjadi civil disobedience), dimana para tokoh, mahasiswa dan masyarakat Sumatera  menyatakan bakal bergolak dan menolak Jokowi, mereka menyatakan Prabowo adalah Presiden rakyat Sumatera.  ''Demikian halnya masyarakat  warga Madura, Jabar, DKI dan Banten, juga Sulsel, Sulteng, Sulawesi Tenggara dan Gorontalo bakal menyatakan Prabowo presiden mereka dan menolak Jokowi,bahkan memprotes  dan mengecam Jokowi,''ujar Bennie.

Itulah sebabnya, Bennie Fatah dan Herdi berharap KPU tak memaksakan kemenangan Jokowi, sebab Prabowo yang mendapat mandat dan dukungan mayoritas rakyat. ''Prabowo menang,rakyat legowo. Tapi kalau Jokowi menang dengan pemilu curang dan tak kredibel ini, rakyat hampir pasti pasti bergolak di Jawa, Madura, Sumatra dan Sulawesi, itu benih perpecahan dan disintegrasi,''ujar Herdi, mantan visiting fellow di Cornell University dan University of California Berkeley,AS.

''  Itu kekhawatiran kita, pecah dan disintegrasi'' imbuh  Bennie, sosok aktivis politik yang berlatar ahli pengeboran minyak yang  dua tahun dipenjara terlibat Peristiwa Malari 1974 pimpinan Hariman Siregar. Bennie yang sungguh sahaja dan sederhana itu, diam-diam pernah merantau belajar di Jepang dan studi perminyakan (drilling) di Texas, AS, bahkan jadi direktur pengeboran minyak korporasi AS di Asia Tenggara 1980-an.

Hasil gambar untuk bennie akbar fatah

bennie fatah

Herdi dan Bennie mencatat, pada Pilpres 2014 Jokowi menang di Sumut, Jambi, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jateng, Yogyakarta, Jatim, Bali, NTT, Kalbar, Kalteng, Kaltim, Sulut, Sulteng, Sulsel, Sultra, Sulbar, Maluku, Papua, Papua Barat plus Luar negeri. Pada Pilpres 2014 Jokowi menang di 24 provinsi. Sementara pada Pilpres 2019 Jokowi hanya berhasil menang maksimal di 14 provinsi dan itupun curangnya terstruktur dan masif.

Menurut kedua aktivis senior ini, pada Pilpres 2019 Prabowo berhasil merebut Aceh, Sumbar,Sumut, Sumsel,Jambi, Bengkulu, Riau, Lampung, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jabar, Banten, Kalbar, Kalsel, Kaltim, Kaltara, Sulsel, Sultra,  NTB dan Maluku. Di semua kawasan itu, Prabowo adalah Presiden warga mereka, dan Jokowi ditolak dengan sinisme sosial yang tentu menyakitkan.
Bennie Fatah dan Herdi  ingatkan, di Jabar, Banten, DKI dan Jatim hampir pasti Jokowi pun ditolak warga provinsi-provinsi itu. Akibatnya? Jokowi mengalami pengucilan, alienasi dan krisis legitimasi. ''Kita khawatir, Rupiah oleng dan ambruk, dan politik jadi kutuk.'' keduanya mengingatkan.

Jadi, kata Bennie Fatah,   Jokowi hampir pasti kalah sebab kalau menang jadi petaka bangsa dan dikhawatirkan  jadi musuh bersama emak-emak/rakyat di kawasan-kawasan mana Jokowi ditolak dan kalah, serta ''dianggap menjadi pentolan penyebab disintegrasi dan sinisme masyarakat’’ujarnya. (KF)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...