19 July 2019

Pillres 2019, Siapa Lebih Curang?

KONFRONTASI -  Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pada) yang akan dilaksanakan serentak pada 17 April 2019 tinggal menghitung hari. Masing-masing kubu pendukung capres dan cawapres saling berteriak soal kecurangan. Kubu 01 menuduh 02 lebih curang. Begitu juga sebaliknya. Tapi, sebenarnya siapa lebih curang? Yang bisa curang adalah yang berkuasa karena memiliki intrumen-instrumen kekuasaan, kata para analis.

Pengamat Politik Universitas Indonesia, Ari Junaedi, mengatakan, kecurangan itu bersifat subyektif tergantung dari kubu mana yang melihatnya. “Dari kacamata 02 pasti melihat pihak 01 selalu curang. Demikian juga dengan kubu 01 bisa beranggapan kubu 02 juga curang,” tegas Ari di Jakarta, Selasa (26/3/2019). 

Namun, Ari tidak melihat adanya kecurangan sampai sejauh ini. Ia menyebutkan bahwa isu tujuh kontainer yang berisi kertas suara yang tercoblos dan pengerahan WNA hanya hoaks belaka. 

“Serahkan kepada Bawaslu yang selama ini sudah bekerja profesional. Kalaupun ada riak-riak kecil ketidaksempurnaan di lapangan masih bisa ditoleransi. Kita sudah punya pengalaman panjang menyelenggarakan pemilu. Mulai dari pemilu 1955 yang demokratis hingga sandiwara pemilu selama Soeharto berkuasa serta pemilu yang berkualitas sejak era reformasi,” lanjut Ari.

Mengamini pernyataan Ari, Pengamat Politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio menyatakan, meski masih ada kecurangan-kecurangan dalam penyelenggaraan pemilu, masyarakat harus tetap percaya dengan KPU dan Bawaslu sebagai lembaga penyelenggara dan pengawas pemilu. 

“Jangan sampai kepercayaan kita terhadap pemilu ini tidak ada, itu sebaiknya jangan. Kita harus tetap percaya pada wasit, pada KPU, pada Bawaslu,” kata Hendri.

Menyikapi seruan warganet yang menginginkan adanya pemantau asing melalui tagar #INAelectionobserverSOS demi menghindari kecurangan-kecurangan, Ari mengatakan bahwa Indonesia saat ini tidak memerlukannya. 

Kehadiran pemantau asing, kata Ari, hanya dibutuhkan di suatu negara yang memang belum stabil seperti baru saja konflik atau perang atau baru merdeka seperti di Afganistan, Haiti, Somalia, Yaman, Suriah, Rwanda, atau Venezuela.(Jft/Terbit0

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...