23 October 2019

Penjualan Retail Anjlok, Rizal Ramli Ragu Pertumbuhan Ekonomi Capai 7 Persen

KONFRONTASI-Menteri perekonomian era Abdurrahman Wahid, Rizal Ramli, meragukan ekonomi RI akan tumbuh mencapai 7% sebagaimana digembar-gemborkan oleh Presiden Jokowi. Pasalnya, saat ini saja pertumbuhan ekonomi RI melambat kurang dari 5% tahun 2015. Tetapi jika BI terus ketatkan moneter, maka pertumbuhan ekonomi hanya akan 4-4,5%

“Pak Jokowi masih pidato dimana-mana ekonomi akan tumbuh 7%. Tidak tahu siapa penasehat ekonominya. Padahal penjualan retail telah anjlok 20-30%,” ujarnya.

Bank Indonesia (BI), kata Rizal, takut Rupiah anjlok di atas Rp14.000/dolar, makanya terus mengetatkan moneter. Padahal, pengetatan itu justru akan semakin memperlambat pertumbuhan ekonomi 2015.

“Kebijakan moneter super ketat BI tahun 97/98, atas saran IMF, justru membuat ekonomi RI rontok dari 6% menjadi -12,8%. Yunani ikut saran ala IMF itu, setelah 3 tahun, Yunani malah semakin rontok,” ungkapnya.

Rizal juga menyarankan BI untuk menurunkan suku bunga dan melonggarkan moneter karena inflasi saat ini sudah lebih rendah. “Kecuali BI monetarist konservatif,” katanya.

Dengan pertumbuhan ekonomi 4-4,5% akan sulit utk mengurangi kemiskinan dan menciptakan lapangan kerja tahun 2015. Menurutnya, perlu ada terobosan-terobosan untuk membalikkan keadaan.

Inflasi di pedesaan 2 kali inflasi di perkotaan dan menjadi penyebab terjadinya kemiskinan. Karenanya, Rizal berharap perbedaan inflasi tinggi tersebut harus dikurangi agar kemiskinan berkurang.

“Secara prinsip, saya tidak setuju program bagi-bagi uang, kecuali untuk yg cacat. Lebih baik program kerja yang dibayar, bangun jalan desa, irigasi tertier dll,” ungkapnya lagi.

“Inflasi makanan masih tinggi karena nilai Rupiah anjlok dan tata niaga masih sistem quota dan kartel. Jokowi mesti berani sikat sistim quota mafia impor pangan,” demikian Rizal Ramli.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...