17 December 2018

Pelajaran dari Jokowi: Menjadi Presiden Perlu “Natural Selection”

 by : Asyari Usman

 

Mengapa dalam waktu kurang dari tiga tahun ini Presiden Joko Widodo (Jokowi) begitu banyak melakukan blunder? Mengapa “public relation” beliau sangat buruk? Mengapa Jokowi akhirnya berada di posisi berhadap-hadapan dengan umat Islam, yang berpuncak pada Perppu 2/2017?

Mungkin banyak lagi pertanyaan, tetapi jawabannya singkat saja. Bahwa semua itu terjadi karena, mohon maaf, Jokowi “inexperienced”. Minus pengalaman. Belum memiliki bekal personalitas yang diperlukan oleh seorang presiden.

Dia mudah dekat secara fisik dengan rakyat, tetapi menjadi presiden tidak cukup bermodalkan itu saja. Suka blusukan ke dalam got, parit, pasar becek, dll, pastilah akan terlihat merakyat. Mudah diajak berfoto, mudah diajak bersalaman, tidak terlalu protokeler, adalah keinginan semua orang.

Mau duduk di warung tegal adalah pesona yang sangat dikagumi. Berpenampilan sederhana adalah daya tarik yang magnetis. Itulah citra pribadi.

Sayangnya, semua itu hanya berguna untuk mengumpulkan suara. Tidak berguna untuk menjalankan mandat pemilik suara. Jokowi mampu merebut kursi presiden tetapi kewalahan menjadi presiden.

Para pengusung Jokowi memanfaatkan kekaguman rakyat terhadap blusukan, mudah foto bersama, mudah bersalaman dengan khalayak, dll, untuk mengantarkan Jokowi ke Istana. Setelah berada di singgasana, realitas yang dihadapi Jokowi menjadi sangat membingungkan dirinya. Beliau “overwhelmed”.

Diagnosa ini sangat menyakitkan sekaligus menyedihkan bagi semua orang. Tetapi, rakyat perlu disadarkan agar di masa depan tidak lagi terjebak perangkap citra pribadi.

Di posisi presiden, Anda menghadapi masalah yang sifatnya nasional. Anda menyusun UU, bukan perda. Anda memutuskan kebijakan yang berdampak ke seluruh rakyat dan ke semua bidang kehidupan. Anda memutuskan kenaikan TDL, tarif pajak, izin operasi usaha multinasional, pinjaman luar negeri, arah kebijakan ekonomi. Anda mengangkat dutabesar yang diincar banyak parpol, dlsb.

Singkat kata, wewenang Anda sangat besar. Sangat banyak pula yang memerlukan persetujuan dan tanda tangan Anda.

Kekuasaan Anda bisa juga menentukan posisi ketua umum partai. Di bawah Anda, ada sekian menteri, dirjen, ratusan direksi BUMN, ketua asosiasi, ketua yayasan, dll, yang siap memuliakan Anda. Dan juga membuat Anda tergelincir.

Semua kamera media tertuju kepada Anda. Semua jadwal Anda akan menjadi berita nasional. Anda menjadi bintang media. Menjadi fokus berita. Karena menjadi bintang dan fokus, maka Anda harus tampak prima dan sempurna.

Untuk itu, mutlak diperlukan kapabilitas. Kemampuan. Dan itu harus di atas rata-rata. Harus di atas para politisi yang ada di parlemen. Anda dituntut memiliki penguasaan masalah, terkadang sampai ke tingkat teknis. Anda dituntut memiliki kemapuan berbicara yang sifatnya argumentatif, harus artikulat. Anda harus menguasai penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, lisan dan tulisan.***

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...