23 January 2019

PDIP Diklaim Ahok Mendukungnya ke DKI-1. PDIP Disarankan Ajukan Rizal Ramli untuk Kembalikan Semangat Kebangsaan dan Kerakyatan yang sudah Tercabik

KONFRONTASI- Para analis menilai, Sandia Uno-Mardanai tidak kuat menghadapi Ahok Basuki T Purnama, si petahana. Megawati Soekarnoputeri didesak masyarakat agar tidak mendukung AHok karena menyakit kaum pribumi dan marhaen. PDIP memiliki peluang terbaik mendukung Rizal Ramli maju ke DKI-1, akan mengharumkan nama baik PDIP dan Bung Karno sebagai penjaga konstitusi dan negara kebangsaan ini. AHok merupakan kuda liar yang anasionalis, asosial dan ''politisi gila'' yang membuat kaum pribumi dan keturunan China bersitegang menuju konflik fisik dalam pilgub DKI kini. Demikian pandangan peneliti Freedom Foundation Muh Nabil dan Frans Aba dari Persatuan Alumni GMNI, Sabtu ini.

''Konstalasi Pilkada DKI Jakarta kian menghangat. Kali ini giliran Partai Gerindra dan PKS menawarkan masing-masing kadernya untuk maju dalam Pilkada DKI Jakarta dalam satu pasang yakni Sandiaga Uno-Mardani Ali Sera, Namun keduanya bukan lawan Ahok, dan hampir pasti kalah melawan Ahok,'' kata Frans.

''PDIP diklaim Ahok Mendukungnya ke DKI-1. PDIP sebaiknya ajukan Rizal Ramli untuk Kembalikan Semangat Kebangsaan dan Kerakyatan yang sudah tercabik,'' kata Nabil.

Kedua partai yang mulai dekat sejak Pilpres 2014 lalu ini menawarkan dua kadernya untuk dipasangkan dalam Pilkada DKI Jakarta pada 2017 mendatang. "Insya Allah, PKS bersama Gerindra sepakat untuk mengusung duet Sandiaga Uno-Mardani Ali Sera sebagai Cagub dan Cawagub DKI di Pilkada 2017," kata Presiden PKS Sohibul Iman di Kantor DPP PKS, Jakarta, Kamis (8/9/2016) malam.

Langkah berani PKS dan Gerindra mengusung masing-masing kadernya ini tidak terlepas dari kondisi mutakhir politik di DKI Jakarta. Koalisi Kekeluargaan yang dirancang sejumlah partai politik di DKI Jakarta minus Partai Golkar, Partai NasDem dan Partai Hanura, bubar di tengah jalan. Sejak awal koalisi kekeluargaan ala DKI Jakarta itu memang cukup cair dan tidak memiliki figur yang mengikat di antara partai politik.

Figur Walikota Surabaya Tri Rismaharani yang semula banyak disuarakan oleh partai-partai koalisi kekeluargaan untuk diusung melawan kandidat petahana, hingga saat ini kian tak jelas. PDI Perjuangan yang diharapkan dapat menjadi pioner untuk mengusung Risma, belakangan justru mengisyaratkan mendukung calon petahana Ahok-Djarot.

Sementara Wakil Ketua Majelis Syura PKS Hidayat Nurwahid mengatakan partainya terus melakukan komunikasi politik dengan partai politik lainnya. Menurut dia, posisi PDI Perjuangan yang hingga saat ini belum memiliki kejelasan sikap, tidak menjadikan partainya tidak bergerak. "Karena kalau menunggu PDI Perjuangan, PDI Perjuangan belum jelas dukung atau tidak dukung Ahok," kata Hidayat.

Koalisi PKS dan Partai Gerindra, kata Hidayat dapat mencukupi syarat pengajuan pasangan calon kepala daerah. Partai Gerindra yang memiliki kursi DPRD DKI Jakarta sebanyak 15 kursi dan PKS sebanyak 11 kursi DPRD, cukup untuk mencalonkan pasangan kandidat gubernur/wagub DKI Jakarta.

"Kader kami Insya Allah punya kualifikasi untuk bisa menguatkan, minimal dengan mengajukan kader sendiri, suara PKS dengan 11 kursinya akan solid dan itu modal signifikan," tegas Wakil Ketua MPR RI ini.

Langkah berani PKS dan Gerindra mengusung dua kadernya menjadi pasangan cagub-cawagub ini semakin mengerucutkan polarisasi kekuatan politik di DKI Jakarta. Partai pendukung kandidat petahana Ahok yakni Partai Golkar, Partai Nasdem dan Partai Hanura.

Jika skenario Sandi-Mardani didukung Partai Gerindra dan PKS mulus, maka besar kemungkinan akan muncul satu kandidat lainnya dari poros lainnya. Namun semua dipastikan masih cair, tak terkecuali duet Sandi-Mardani ini. (K)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...