22 February 2020

Para Tokoh Hebat NU yang Berproses di HMI

KONFRONTASI -  Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) merupakan organisasi kemahasiswaan yang dikenal cukup tua dan kuat jejaringnya. HMI dikenal sebagai organisasi kader. Karena, HMI melatih para kadernya untuk mengembangkan diri mampu menjadi sosok yang intelektual, profesional, moderat, dan tangguh di setiap era. HMI pun selalu menjadi penjembatan antara kalangan fundemantalis dengan kalangan liberal.

HMI cukup menarik, karena para kader HMI banyak mengisi di semua lini birokrasi pemerintah dari tingkat nasional hingga kabupaten, serta di seluruh organisasi masyarakat seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, termasuk di dunia akademik, selalu ada alumni-alumni HMI di dalamnya. Termasuk, para master ekonomi (ekonom), para pengusaha besar, hingga politisi hebat, banyak yang terbentuk dari HMI.

Hal ini mengungkapkan, HMI sebagai organisasi sangat dewasa bagi para kadernya, Kadernya yang beragam latar belakang, dari suku, madzhab, akademik dan pilihan politik bisa saling bersinergis.

Hal ini juga mempertegas, HMI merupakan organisasi yang cukup canggih dalam membangun kemampuan para kadernya. Tidak dipungkiri, HMI sering dijadikan sasaran kebencian oleh pihak-pihak yang di dalam dirinya bersemayan paham radikal, oleh pihak yang cenderung pada ekstrimisme. Mereka yang membenci keragaman, tentu tidak akan suka dengan HMI.

Organisasi Islam terbesar di Indonesia, seperti Nahdlatul Ulama, pun banyak para tokohnya yang sebelumnya belajar di HMI. Kemampuan berorganisasi yang profesional di HMI, telah memberikan sumbangsih besar bagi NU.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ke 5, Prof. Dr. KH. Hasyim Muzadi misalnya, melalui proses ber-HMI, membuat ia mampu membawa NU di tingkat internasional yang cukup harum.

Ia menjadi Ketua Umum PBNU, setelah “dipaksa” oleh KH. Abdurahman Wahid (Gus Dur) untuk menggantikannya. Ia pun sosok satu-satunya ketua umum PBNU yang dipaksa Gus Dur untuk memimpin NU. Gus Dur meminta KH. Hasyim Muzadi untuk menjadi Ketua Umum PBNU, karena ia sebagai alumni HMI.

Ada juga Prof. Dr. Mahfud MD yang dikenal sebagai anak emas Gus Dur. Mahfud MD yang saat ini menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam). Kemampuannya, diakui Mahfud MD, karena ia berproses di HMI.

Mahfud MD yang di Indonesia dikenal sebagai “raja hukum”. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) dan selalu menang dalam perdebatan-perdebatan di bidang hukum.

Ulama besar NU yang dikenal sebagai waliyullah KH. Chasbullah Baidawi, pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Ihya Ulumudin di Kesugihan, Cilacap, juga berproses di HMI. Kemampuan organisasi di HMI mengantarkan pesantrennya cukup dikenal di tengah masyarakat Indonesia. Profesionalitasnya dalam ber-HMI rupanya membentuk pribadinya sebagai sosok yang istimewa.

PBNU saat ini, pun banyak diisi oleh alumni-alumni kader HMI. Seperti Dr. KH. Helmi Faisal Zaini, sekretaris jenderal (sekjend) PBNU yang sebelumnya berproses di HMI Ciputat. Lalu KH. Yahya Cholil Tsaquf, Katib Aam PBNU juga sebelumnya berproses di HMI Jogjakarta. Wakil Ketua PBNU Dr. KH. Marsudi Suhud, yang merupakan tokoh Kebumen ini, ia pun mengakui apabila kemampuan mengelola organisasi besar NU saat ini karena berproses di HMI.

Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) di masa kepemimpinan KH. Saefullah Yusuf disebut sangat gemilang. Saat ia menjadi Ketua Umum Pengurus Pusat GP Ansor, organisasi ini menjadi rujukan sejumlah organisasi-organisasi di dunia. Ia pun mengakui, kemampuan mengelola organisasi PP. GP. Ansor ini karena banyak belajar dari HMI.(Jft/VIV Indonesia)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...