10 December 2019

Pantesan RI Terancam Krisis Petani, Upah Kecil & Miskin Terus

KONFRONTASI -   Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan upah riil harian buruh tani pada Oktober 2019 naik 0,12% dibandingkan bulan sebelumnya menjadi Rp 38.278. Kalau seorang buruh tani mendapatkan upah sebesar ini dan harus menghidupi keluarganya, maka niscaya mereka akan berada di bawah garis kemiskinan.

Sejatinya upah nominal buruh tani pada Oktober 2019 adalah Rp 54.515/hari. Namun dikurangi inflasi perdesaan, maka nilai riilnya menjadi Rp 38.278/hari.
 

Niscaya Bakal Miskin, Siapa yang Mau Jadi Petani?


Kalau seorang buruh tani bekerja 30 hari sebulan tanpa libur, maka dia akan menerima Rp 1.148.340. Memang relatif kecil, tetapi setidaknya masih di atas garis kemiskinan yang pada Maret 2019 sebesar Rp 313.232/kapita/bulan.

Namun kalau sang buruh tani sudah berumah tangga, situasinya akan berbeda. Dengan asumsi satu KK berisi empat orang, maka pendapatan keluarga buruh tani itu adalah Rp 287.085/kapita/bulan. Sudah di bawah garis kemiskinan.

Ini menjadi salah satu penyebab mengapa sektor pertanian semakin ditinggalkan. Rasional saja, siapa sih yang mau miskin?

BPS mencatat jumlah tenaga kerja di sektor pertanian pada 2018 adalah 38,7 juta orang. Dalam lima tahun terakhir, jumlah tenaga kerja di sektor ini terus menurun.

Keterangan foto tidak tersedia.

 
Sektor Pertanian Butuh Investasi Ilustrasi Pekerja Pertanian (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
 

Sektor Pertanian Butuh Investasi

Untuk membuat para petani naik kelas dan lebih sejahtera, sektor pertanian juga harus berubah dari tradisional menjadi modern. Dengan begitu, produktivitas dan nilai tambah hasil pertanian akan meningkat sehingga upah buruh tani bakal ikut terkerek.

"Peralihan ini membutuhkan kebijakan makroekonomi yang memadai, adopsi teknologi, infrastruktur, serta akses pasar. Semuanya membutuhkan waktu dan investasi jangka panjang," sebut riset Organisasi Pangan Dunia (FAO) yang berjudul Policy to Fully Exploit and Develop the Agricultural Potential.

Teknologi, sumber daya, institusi, dan akses pasar tersebut haruslah difokuskan untuk melakukan diversifikasi. Menurut FAO, petani akan kesulitan kalau hanya bergantung pada satu tanaman. Diversifikasi menjamin keberlangsungan produksi, dan tentu saja pendapatan.


Untuk mewujudkan itu, sektor pertanian harus menerima lebih banyak investasi. Namun sepertinya masih jauh panggang dari api.

Sepanjang Januari-September 2019, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat lima sektor terbesar penerima investasi adalah transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi, listrik, gas, dan air, konstruksi, perumahan, kawasan industri, dan gedung perkantoran, serta pertambangan. Tidak ada nama pertanian.



"Pertumbuhan sektor pertanian yang berkelanjutan membutuhkan hubungan antara produksi dari petani dengan sektor-sektor lainnya. Ini hanya bisa diwujudkan melalui investasi," sebut riset FAO.(Jft/CNBC)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...