9 April 2020

Negeri Ini Bebas Corona, Mengapa Dunia Tidak Percaya?

KONFRONTASI -  Ilmuwan dunia, termasuk PBB, seolah tidak percaya Indonesia terbebas dari virus Corona (2019-nCoV) yang bermula dari Wuhan, China. Benar tidak ada atau tidak memiliki kemampuan mendeteksinya?

Baru-baru ini, Singapura "menuduh" ada enam orang suspect virus corona memasuki Batam. Namun Kementerian Kesehatan membantah hal tersebut.

karena setelah dilakukan pemeriksaan, mereka tidak menunjukkan demam dan sesak nafas.

Sebelumnya, ahli Epidemiologi Marc Lipsitch di Harvard TH Chan School of Public Health juga menyatakan keheranannya karena Indonesia belum melaporkan adanya kasus corona di Indonesia. Menurut riset yang dilakukan, Indonesia mestinya sudah menemukan kasus penularan corona mengingat tingginya lalu-litas manusia dari dan ke Wuhan. 
Hal yang sama disampaikan Dr Navaratnasamy Paranietharan, Perwakilan WHO di Indonesia.  Meski memuji langkah Indonesia dalam melakukan antisipasi terhadap penyebaran nCov, tetapi Navaratnasamy meminta agar Indonesia menyediakan alat tes  khusus untuk mengkonfirmasi virus corona.
Mirisnya, WHO prihatin justru karena Indonesia belum melaporkan satu pun kasus yang dikonfirmasi.

Salah satu penyebab kekuatiran jika sebenarnya virus corona sudah menyebar ke Indonesia  tetapi tidak terdeteksi adalah karena Indonesia disebut belum menerima alat tes khusus yang diperlukan untuk bisa mendeteksi dengan cepat virus corona jenis baru. Otoritas medis Indonesia hanya mengandalkan tes pan-coronavirus yang bisa mendeteksi semua kerabat virus corona namun memakan waktu hingga lima hari.

Benarkah Indonesia bebas corona ataukah sebenarnya sudah ada korban tetapi tidak terdeteksi?

Tentu kita sangat bersyukur karena Indonesia menjadi negara yang steril dari nCoV padahal di negara-negara sekitar, termasuk Malaysia dan Singapura, sudah lampu kuning. Prediksi mengapa virus Wuhan enggan masuk ke Indonesia juga sudah dibeber otoritas kesehatan.

Selain iklim tropis, pengawasan ketat di pintu masuk dan kesigapan aparat medis,  ada hal lain menurut Dirjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes RI, dr Bambang Wibowo, SpOG(K), MARS yang menghalangi virus corona masuk ke Indonesia, yakni kekuatan doa.

Namun demikian, kita pun menjadi was-was apakah memang benar tidak ada ataukah alat pendeteksi keberadaan virus mematikan itu yang tidak mumpuni. Harapan kita tentu pada yang pertama. Tetapi andai hal yang kedua yang terjadi- apa pun alasannya, tidak dapat ditolerir.


Kita tidak ingin pemerintah menutupi fakta sebenarnya karena alasan-alasan yang tidak berhubungan dengan kesehatan, semisal menjaga agar tidak terjadi kepanikan atau huru-hara sosial. Sebab resikonya jauh lebih berbahaya. Jangan sampai masyarakat tahu setelah menjadi wabah yang sulit dikendalikan.

Sekali lagi, kita percaya pada kemampuan pemerintah. Juga jaminan dari Kepala Kantor Staf Kepresdenan Moeldoko yang menyatakan Indonesia memiliki alat untuk mendeteksi virus corona.

Namun kekuatiran sejumlah pihak, juga harus menjadi perhatian serius. Kita meyakini, pernyataan ahli dari Harverd, juga perwakilan WHO, tidak sembarangan. Kita percaya dengan kredibilitas mereka dan pernyataannya tidak diimbuhi tendensi lain.

Untuk itu, ada baiknya- meski kita percaya sudah dilakukan, pemerintah mengikuti prosedur yang ditetapkan WHO dengan lebih ketat dan transparan. Pemerintah harus bisa meyakinkan semua pihak, termasuk WHO, bahwa tidak ada yang ditutup-tutupi


Tanpa mengurangi sedkit pun kepercayaan kepada pemerintah, khususnya otoritas kesehatan, sikap yang lebih terbuka sangat diperlukan karena akan meningkatkan kewaspadaan masyarakat. Bahwa mungkin timbul hal-hal lain, pihak-pihak terkait tentu dapat mengantisipasinya.

Sekali lagi, kita percaya pada kemampuan pemerintah. Juga jaminan dari Kepala Kantor Staf Kepresdenan Moeldoko yang menyatakan Indonesia memiliki alat untuk mendeteksi virus corona.

Namun kekuatiran sejumlah pihak, juga harus menjadi perhatian serius. Kita meyakini, pernyataan ahli dari Harverd, juga perwakilan WHO, tidak sembarangan. Kita percaya dengan kredibilitas mereka dan pernyataannya tidak diimbuhi tendensi lain.

Untuk itu, ada baiknya- meski kita percaya sudah dilakukan, pemerintah mengikuti prosedur yang ditetapkan WHO dengan lebih ketat dan transparan. Pemerintah harus bisa meyakinkan semua pihak, termasuk WHO, bahwa tidak ada yang ditutup-tutupi.

Tanpa mengurangi sedkit pun kepercayaan kepada pemerintah, khususnya otoritas kesehatan, sikap yang lebih terbuka sangat diperlukan karena akan meningkatkan kewaspadaan masyarakat. Bahwa mungkin timbul hal-hal lain, pihak-pihak terkait tentu dapat mengantisipasinya.

(jFt/KOMPASIANA)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...