19 July 2019

Menteri-Menteri Perekonomian Tak Kompeten, Rupiah Makin Terpuruk

KONFRONTASI- Para menteri bidang ekonomi dinilai tidak cukup mumpuni untuk memulihkan kondisi perekonomian bangsa yang tengah terpuruk.   

''Rupiah terus melemah dan Jokowi terancam ambruk jika para menteri kabinet tidak diganti,'' tegas pengajar UIN Jakarta Andar Nubowo MA.

Andar menilai, rakyat kian cemas kalau rupiah terus melemah dan ledakan protes serta demo bakal meluap jika kondisi ekonomi terus terpuruk, dimana Jokowi terancam destabilisasi.

Sebelumnya, ekonom senior Rizal Ramli mengkritik menteri-menteri ekonomi di kabinet Presiden Joko Widodo yang dianggapnya tidak memiliki kebijakan jelas untuk meredam laju pelemahan rupiah, dan justru kerap melontarkan pernyataan yang tidak relevan.

Mantan menteri perkeonomian itu menilai tergerusnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak sepenuhnya kesalahan pemerintah sekarang, namun kinerja para menteri tidak membantu keadaan.

"Jokowi memang kurang beruntung. Warisan SBY (Presiden Susilo Bambang Yudhoyono) yaitu Quattro Deficit -- defisit perdagangan, neraca berjalan, neraca pembayaran, dan defisit anggaran -- masih akan terus menekan rupiah," kata Rizal dalam pesan tertulis yang diterima redaksi Jumat (13/3).

"Kurs Rp13.250 per dolar masih akan tertekan karena dolar AS yang terus menguat, kewajiban utang yang semakin besar, dan tidak adanya kebijakan jelas dan agresif untuk membuat surplus perdagangan dan neraca berjalan," tambahnya.

Yang ada, menurut Rizal, adalah statemen-statemen asal bunyi (asbun) seperti "kalau rupiah melemah Rp 100 per dolar, negara untung Rp 2,3 triliun", tanpa menyebutkan bahwa beban pembayaran utang akan semakin besar.

Juga "kecilnya kiriman TKI membuat Rupiah rapuh" atau "ekspor akan meningkat jika rupiah terus melemah" tanpa menjelaskan bahwa sebagian besar ekspor manufaktur Indonesia sangat padat impor komponen sehingga dampak pelemahan rupiah juga kecil, kritiknya.

Sementara itu, ekspor komoditas masih terkendala permintaan dunia yg melemah.

Anjloknya rupiah ini adalah sebuah wake up call untuk pemerintahan Jokowi, dan presiden tidak bisa hanya terus bicara soal-soal mikro seperti infrastruktur, proyek dan lain-lain, tapi juga harus canggih dalam merumuskan kebijakan dan berbicara tentang ekonomi makro, papar menteri di era Presiden Abdurrahman Wahid ini.

"Perlu disadari bahwa defisit transaksi berjalan, sebagian besar dibiayai oleh aliran hot money atau speculative inflows. Itulah yang menyebabkan mengapa Bank Indonesia sangat hati-hati. Penurunan bunga beberapa waktu lalu oleh BI 0,25% cukup untuk menunjukkan bahwa BI tidak super monetarist. Karena Penurunan tingkat bunga sangat besar akan membuat rupiah anjlok mendekati Rp14.000 per dolar," pungkasnya.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...