23 November 2017

Lagi, Akademisi Desak Ekonom Rizal Ramli Membantu Jokowi-JK

KONFRONTASI- Jokowi-JK diharapkan  konsisten tidak membangun kabinet transaksional, dan untuk itu, teknokrat senior anti-Neoliberal yakni Rizal Ramli PhD, diminta membantu Jokowi-JK membenahi  perekonomian ke depan. Di bawah Presiden SBY, ekonomi besar pasak dari pada tiang, telah membuat kehidupan sosial-ekonomi rakyat sangat pengap , apalagi  korupsi merajalela.

Demikian pandangan dua akademisi muda Cherry Augusta MA yang kini  mahasiswa PhD di University of London (King’s College)  dan Pengajar FISIP Universitas Airlangga, Surabaya, Airlangga Pribadi MA yang kini kandidat PhD di Murdoch University, Australia.  Permintaan pada ekonom senior Dr Rizal Ramli agar masuk dalam kabinet Jokowi-JK (Joko Widodo dan Jusuf Kalla)  makin menguat. Beberapa waktu lalu dukungan dan permintaan datang dari kalangan muda PDI Perjuangan. Belakangan kalangan akademisi menyuarakan hal serupa.

Airlangga dan Cherry Augusta adalah intelektual muda yang menolak Neoliberalisme, dan meminta Rizal Ramli membantu Jokowi memperbarui ekonomi yang korup sebagai warisan SBY yang rezimnya sangat transasksional, yang diperburuk kabinet politik ala SBY yang lembek, tak efektif.

''Dr. Rizal Ramli  adalah ekonom senior, sangat kredibel,  tangguh dan nampak paling loyal membantu Pak Jokowi, kami mohon beliau mau membantu Jokowi membangun ekonomi kerakyatan, pro-konstitusi. Rakyat miskin makin miskin,sedang elite kaya makin kaya, sehingga Jokowi-JK butuh Rizal Ramli untuk masuk kabinet Jokowi-JK, mengatasi kesenjangan struktural dan ketimpangan ekonomi,'' kata Cherry Augusta, akademisi muda yang pernah mengajar sebagai asisten dosen di UGM dan UNPAD.

Airlangga Pribadi dan Cherry Augusta mengingatkan, apabila Jokowi-JK mengakomodasi semua kepentingan, sejarah kabinet pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan berulang. Kabinet yang terbentuk adalah kabinet "gemuk" yang tersandera kepentingan politik dan koalisi.

Harus ada pembaruan dan revolusi mental di seluruh lini,  dan di sini yang jadi soal, menurut Airlangga dan Cherry,  bagaimana meyakinkan dan memastikan sang calon menteri sungguh profesional, jujur, tidak berkepentingan memperkaya diri dan kelompok, dan mau bekerja untuk rakyat. Dengan demikian, anggota kabinet yang dipilih tidak menjadi atau dikelilingi "parasit" atau "benalu", yaitu orang-orang yang sarat kepentingan ekonomi dan politik segelintir atau sekelompok orang.

Direktur Eksekutif IndoStrategi, Andar Nubowo MA, misalnya, mengatakan Rizal Ramli merupakan  kandidat terbaik mengisi posisi Menko Perekonomian. Rekam jejak Rizal Ramli, kredibilitas serta integritasnya menurut Andar yang juga dosen Fisip  UIN Syarif Hidayatullah, sudah teruji. ''Rizal sangat berintegritas dan kompeten.'' kata Andar, alumnus EHESS Perancis.

Akademisi Universitas Paramadina, Dr Herdi Sahrasad dalam perbincangan beberapa saat lalu menyampaikan pernyataan serupa. Bahkan menurut Herdi, Rizal Ramli yang kini adalah salah seorang anggota Panel Ahli PBB untuk UNDP, pantas ditempatkan sebagai Menko Polhukam dan Menko Perekonomian. "Bang Rizal (Ramli) bisa ditempatkan Jokowi pada dua posisi itu untuk melakukan revolusi mental kelembagaan di bidang ekuin atau polhukam," ujar mantan peneliti tamu di Monash University Australia, Indiana University AS, Departemen Ilmu Politik Univ. California  Berkeley dan Southeast Asia Center, Universitas Washington Seattle, AS itu.

Sekali lagi,  kata Airlangga, memilih menteri merupakan hak prerogatif presiden. Jokowi dituntut tegas dengan memilih menteri sesuai kebutuhan dan keinginan rakyat, sang pemberi mandat. (Kj)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...