15 October 2018

Koalisi Demokrat-Gerindra-PAN-PKS Harus Pertimbangkan Prabowo-Rizal Ramli untuk Kalahkan Jokowi. Prabowo-AHY hampir Pasti Kalah !

KONFRONTASI- Kubu Jokowi yakin menang kalau menghadapi duet Prabowo-AHY (Agus Yudhoyono), dan itu yang dikehendaki oleh kubu Jokowi sejak awal.  Sosok AHY terlalu prematur, dipaksakan dan ringkih untuk tarung hadapi Jokowi dan wapresnya  di Pilpres 2019. Oleh sebab itu, penting bagi Koalisi Gerindra-Demokrat-PKS-PAN agar mempertimbangkan figur yang lebih kuat, kredibel dan berkualitas dalam menghadapi Jokowi. Nama-nama seperti Rizal Ramli dan Anies Baswedan jauh lebih rasional, realistis dan obyektif untuk disandingkan sebagai Cawapres Prabowo karena akan mengubah peta permainan dan menimbulkan efek kekalahan bagi Jokowi. PKS,PAN dan Demokrat harus menimbang matang, rasional  dan obyektif, soal figur yang pantas, dan kredibel untuk mendampingi Prabowo agar tidak ‘’waton suloyo’’ (asal melawan)  menghadapi Jokowi.

Demikian benang merah pandangan analis politik Ray Rangkuti, Muh Nabil MA dari CSRC UIN Jakarta dan dosen Unhan Aris Arif Mundayat PhD secara terpisah, kemarin.

Masuknya Demokrat akan memperkuat Gerindra,PAN,PKS, namun itu saja tidak cukup sebab untuk melawan Jokowi, Prabowo butuh cawapres yang kredibel dan visioner seperti Rizal Ramli atau Anies Baswedan . ‘’Atau setidaknya  RR (dan Anies Baswedan) jauh lebih kuat ketimbang AHY, karena Rizal Ramli memiliki  visi-misi dan rekam jejak serta basis sosial yang jelas, terang dan secara kalkulatif lebih rasional dan obyektif,’’ kata mereka.   

PKS,PAN dan Demokrat harus menimbang matang, rasional  dan obyektif, soal figur yang pantas, dan kredibel untuk mendampingi Prabowo agar tidak ‘’waton suloyo’’ (asal melawan tapi kalah) menghadapi Jokowi. Duet Prabowo-RR lebih potensial kalahkan Jokowi.

Pakar psikologi politik Universitas Indonesia, Hamdi Muluk, menilai, jika Demokrat dan Gerindra nantinya memutuskan koalisi dalam Pilpres 2019, PAN dan PKS tak punya daya tawar tinggi dalam menentukan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden. "Kalau terjadi koalisi Demokrat, Gerindra, PAN, PKS, yang jadi pemimpinnya, ya Demokrat dan Gerindra karena dia punya daya tawar tinggi," ujar Hamdi kepada Kompas.com, Rabu (25/7/2018).

 

 Ada beberapa alasan Demokrat dan Gerindra memiliki daya tawar yang lebih besar. Pertama, koalisi Gerindra dan Demokrat cukup untuk mengusung pasangan capres-cawapres. Syarat ambang batas pencalonan presiden (presidential threshold) sesuai Pasal 222 UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu, yakni parpol atau gabungan parpol harus memiliki 20 persen kursi DPR atau 25 persen suara sah nasional pada Pemilu 2014 lalu.

Pada Pemilu 2014 lalu, Demokrat memperoleh 61 kursi atau 10,9 persen dan 12.728.913 suara atau 10,19 persen. Baca juga: Prabowo: AHY Jadi Cawapres, Kenapa Tidak? Sementara Gerindra memperoleh 73 kursi atau 13 persen dan 14.760.371 suara atau 11,81 persen. Jika digabung, Gerindra dan Demokrat memiliki 23,9 persen kursi DPR. Kedua, kata Hamdi, Prabowo Subianto masih menjadi figur kuat dalam sejumlah survei. Ketiga, Demokrat memiliki elektabilitas dan logistik yang kuat. Situasi itu, menurut Hamdi, membuat manuver PAN dan PKS menjadi sempit.

"Nah, tentu PKS dan PAN tidak bisa banyak mengatur, dia enggak akan mudah menyodor-nyodorkan calon wapres, misalnya. Nah, toh begini juga, kalau Demokrat-Gerindra jadi, itu cukup ya. Jadi daya tawar PKS dan PAN kecil sekali," kata dia. (sumber2)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...