22 August 2019

Kirim Surat Terbuka ke PM Malaysia, Fahri Minta Kasus Surat Suara Tercoblos Dilanjutkan

KONFRONTASI -   Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah menuliskan surat terbuka untuk Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad yang meminta agar pihak Malaysia melanjutkan penyelidikan kasus surat suara tercoblos.

Menurut Fahri sebagaimana dikutip beritabuana.co dari akun twitter @Fahruhamzah, Senin (15/4/2019), kasus tersebut bisa dilanjutkan untuk mengetahui siapa oknum yang ada di baliknya.

Dirinya juga menyinggung keterangan pihak Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang dianggap meremehkan kasus tersebut.

Berikut isi surat terbukaFahri Hamzah kepada PM Malaysia, Mahathir Mohamad:

“Tun Mahatir yth @chedetofficial,

Kami Rakyat INDONESIA menitip pesan Agar kasus kecurangan pilihan raya yg sedang diproses kepolisian diraja Malaysia tidak ditutup sebab itu merupakan kejahatan pemilu yang kentara.

Beri hak kami untuk mengetahui siapa dibalik semua ini.

Untuk Tun Mahathir @chedetofficial ketahui, ada ribuan kertas suara ditemukan ditempatkan yg ilegal telah ter-coblos untuk calon anggota @DPR_RI partai tertentu dan calon Presiden yg berasal dari kubu yang sama dengan otoritas INDONESIA di Malyasia.

Sungguh mencurigakan!

Maka, dengan perasaan serantau dan bersaudara, ijinkan kami mengetahui siapa pelaku kejahatan ini.

Otoritas pemilu Indonesia di Jakarta @KPU_ID sepertinya menganggap remeh kasus ini.

Dan kami dengar ada upaya agar kasus ini dihentikan karena dianggap tidak ada pidana.

Maka, dengan rendah hati, kami mohon Tun @chedetofficial yg bijaksana melanjutkan perkara ini secepatnya demi menjaga pemilu Indonesia.

Terima kasih dari saya yang menyampaikan surat ini secara terbuka.

Fahri Hamzah. Cc: @drwanazizah @anwaribrahim @KPU_ID @bawaslu_RI,” tulis Fahri Hamzah.”

Sebelumnya Fahri mendesak penyelenggara pemilu, yakni KPU dan Bawaslu untuk mengusut tuntas asal kertas suara tercoblos tersebut.

“Pertanyaan saya, kenapa ada pihak yang bukan panitia pemilu punya akses, kenapa dan siapa Davin Kirana, dan kenapa 01 yang dicoblos?. Jawabannya saya sudah tahu, tapi mereka nggak mau tahu,” cetus inisator Gerakan Arah Baru Indonesia (GARBI) itu.

Dijelaskan Fahri bahqa kertas suara itu adalah dokumen negara, sesuatu yang berharga dan harus dijaga dengan segala cara. Kasus Malaysia ini, lanjut dia, menjelaskan adanya kertas suara liar.

“Yang jadi pertanyaannya, siapa yang mencetak? Menurut saya, ini bagian dari pemanfaatan data invalid,” kata Anggota DPR RI dari Dapil Nusa Tenggara Barat (NTB) itu lagi.

Efek langsung dari diakuinya ada “data invalid” dalam 192 juta pemilih, menurut penilaian Fahri adalah terjadinya pencetakan kartu suara lebih.

“Siapa yang mencetak, di mana, dan distribusi untuk apa, terjawab dengan kasus Malaysia. Tapi yang jadi pertanyaan, beranikah kita mengusut tuntas?” pungkas Fahri Hamzah. (jft/BB)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...