21 November 2018

Ketegangan Megawati vs SBY Makin Memburuk. Hati telah Remuk?

KONFRONTASI- Ketegangan dan konflik kepentingan antara Mantan Presiden Megawati Sokearnoputri dan SBY makin buruk. Hati  masing-masing mantan presiden ini telah remuk, barangkali. Dan hati maupun sukma politisi parpol  kedua pihak pun remuk. ''Sakitnya tuh di sini,'' kata seorang politisi PDIP yang kaget melihat SBY di Televisi menyebut nama Megawati sebagai sosok yang menghambat bergabungnya Demokrat ke kubu Jokowi. Sebaliknya politisi Demokrat juga mengeluh ''sakitnya tuh di dada dan di hati,'' akibat ketegangan politik personal ini..

Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Lili Romli mengatakan, elite politik di Tanah Air seharusnya memberikan keteladan pada anak-anak bangsa. Karena itu, Lili pun menyesali buruknya hubungan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang terbuka ke hadapan publik. “Ya saya kira, mestinya mereka berpolitik secara dewasa," ujar Lili saat dihubungi, Kamis (26/7/2018). "Contoh teladan yang baik adalah pada Mohammad Hatta, meski berseberangan dengan Soekarno tapi mereka tetap berhubungan dan bersahabat dengan baik dan santun," kata dia.

Menurut Lili, buruknya hubungan elite politik dikhawatirkan berdampak langsung ke masyarakat. Permusuhan itu juga dinilai tidak baik bagi pembelajaran politik dan perjalanan bangsa ini. "Kalau sikap elite politik seperti itu, tidak elok dilihat oleh rakyat," tutur Lili. Sebelumnya, SBY mengakui bahwa hubungan antara dirinya dengan Megawati Soekarnoputri belum sepenuhnya membaik. "Kalau hubungan saya dengan ibu Megawati, saya harus jujur belum pulih, masih ada jarak," ujar SBY saat jumpa pers di kediamannya di Kuningan, Jakarta, Rabu (25/7/2018) malam. Konflik antara Megawati dengan SBY berawal dari niat SBY maju Pilpres 2004. Saat itu, Megawati menjabat sebagai presiden dan SBY menjabat Menko Polhukam. Singkat cerita, SBY kemudian mundur sebagai menteri lalu mendeklarasikan Partai Demokrat. SBY kemudian maju sebagai capres bersama Jusuf Kalla, kemudian memenangi Pilpres 2004. Saat itu, pasangan SBY-JK mengalahkan Megawati sebagai petahana yang berpasangan dengan tokoh Nahdlatul Ulama, Hasyim Muzadi.

Wakil Sekjen Partai Demokrat Rachland Nashidik menegaskan, Komandan Satuan Tugas Bersama Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono ( AHY) selama ini sudah bekerja keras untuk mendapat pengakuan rakyat. Oleh karena itu lah, putra sulung Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY) tersebut terus meningkat elektabilitasnya. "Yang menilai AHY paling bagus dan pantas jadi Cawapres bukan SBY tapi rakyat yang ditanya melalui survei," kata Rachland dalam keterangan tertulisnya, Kamis (26/7/2018). Baca juga: Wasekjen PPP: Bukankah Elit Demokrat Bilang Siapapun Koalisinya, AHY Cawapres? Hal ini disampaikan Rachland menanggapi sindiran Sekjen PDI-P Hasto Kristiyanto. Hasto sebelumnya menyebut bahwa SBY hanya berjuang untuk kepentingan politik anaknya, bukan untuk rakyat. Rachland pun balik menyindir posisi putri Megawati, Puan Maharani, yang kini duduk sebagai Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. "Hasto mungkin perlu bandingkan ini dengan Puan. Apakah Puan layak jadi Menko menurut rakyat, atau cuma menurut Ibunya? Menurut saya Puan tidak layak," kata Rachland.

 

Wakil Sekjen Partai Demokrat Rachland Nashidik menegaskan, Komandan Satuan Tugas Bersama Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono ( AHY) selama ini sudah bekerja keras untuk mendapat pengakuan rakyat. Oleh karena itu lah, putra sulung Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY) tersebut terus meningkat elektabilitasnya. "Yang menilai AHY paling bagus dan pantas jadi Cawapres bukan SBY tapi rakyat yang ditanya melalui survei," kata Rachland dalam keterangan tertulisnya, Kamis (26/7/2018). Baca juga: Wasekjen PPP: Bukankah Elit Demokrat Bilang Siapapun Koalisinya, AHY Cawapres? Hal ini disampaikan Rachland menanggapi sindiran Sekjen PDI-P Hasto Kristiyanto. Hasto sebelumnya menyebut bahwa SBY hanya berjuang untuk kepentingan politik anaknya, bukan untuk rakyat. Rachland pun balik menyindir posisi putri Megawati, Puan Maharani, yang kini duduk sebagai Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. "Hasto mungkin perlu bandingkan ini dengan Puan. Apakah Puan layak jadi Menko menurut rakyat, atau cuma menurut Ibunya? Menurut saya Puan tidak layak," kata Rachland.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Respons Demokrat atas Sindiran PDI-P soal SBY hanya Perjuangkan Kepentingan AHY", https://nasional.kompas.com/read/2018/07/26/23101091/respons-demokrat-atas-sindiran-pdi-p-soal-sby-hanya-perjuangkan-kepentingan.
Penulis : Ihsanuddin
Editor : Diamanty Meiliana
Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Lili Romli mengatakan, elite politik di Tanah Air seharusnya memberikan keteladan pada anak-anak bangsa. Karena itu, Lili pun menyesali buruknya hubungan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang terbuka ke hadapan publik. “Ya saya kira, mestinya mereka berpolitik secara dewasa," ujar Lili saat dihubungi, Kamis (26/7/2018). "Contoh teladan yang baik adalah pada Mohammad Hatta, meski berseberangan dengan Soekarno tapi mereka tetap berhubungan dan bersahabat dengan baik dan santun," kata dia. Baca juga: Kata SBY, Tuhan Belum Menakdirkan Hubungannya dengan Megawati Kembali Normal Menurut Lili, buruknya hubungan elite politik dikhawatirkan berdampak langsung ke masyarakat. Permusuhan itu juga dinilai tidak baik bagi pembelajaran politik dan perjalanan bangsa ini. "Kalau sikap elite politik seperti itu, tidak elok dilihat oleh rakyat," tutur Lili. Sebelumnya, SBY mengakui bahwa hubungan antara dirinya dengan Megawati Soekarnoputri belum sepenuhnya membaik. "Kalau hubungan saya dengan ibu Megawati, saya harus jujur belum pulih, masih ada jarak," ujar SBY saat jumpa pers di kediamannya di Kuningan, Jakarta, Rabu (25/7/2018) malam. Konflik antara Megawati dengan SBY berawal dari niat SBY maju Pilpres 2004. Saat itu, Megawati menjabat sebagai presiden dan SBY menjabat Menko Polhukam. Singkat cerita, SBY kemudian mundur sebagai menteri lalu mendeklarasikan Partai Demokrat. SBY kemudian maju sebagai capres bersama Jusuf Kalla, kemudian memenangi Pilpres 2004. Saat itu, pasangan SBY-JK mengalahkan Megawati sebagai petahana yang berpasangan dengan tokoh Nahdlatul Ulama, Hasyim Muzadi.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Hubungan SBY dan Megawati Buruk, Elite Dinilai Tak Dewasa Berpolitik", https://nasional.kompas.com/read/2018/07/26/08174801/hubungan-sby-dan-megawati-buruk-elite-dinilai-tak-dewasa-berpolitik.
Penulis : Reza Jurnaliston
Editor : Bayu Galih
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...