21 January 2020

Kesal Impor Migas, Jokowi Juga Jengkel Banjir Baja Impor

KONFRONTASI -   Presiden Jokowi kembali mengingatkan kepada para menteri untuk melakukan kebijakan subtitusi impor dengan menekan impor migas hingga barang industri dasar seperti baja yang masih banyak diimpor. Jokowi mengakui kebutuhan baja 9 juta ton per tahun tapi baru terpenuhi 60% dari dalam negeri.

"Jenis bahan baku yang besar angka impornya, besi baja US$ 8,6 miliar, dan industri petrokimia US$ 4,9 miliar...," kata Jokowi di Istana, Rabu (11/12)

Jokowi dengan tegas menggarisbawahi agar peluang investasi untuk industri subtitusi impor harus dibuka lebar, antara lain sektor besi baja, petrokimia. Bila investasi masuk deras ke sektor ini maka bisa mengurangi impor baja dan petrokimia.

"Tolong jadi catatan BKPM (Bahlil Lahadalia), jadi catatan Pak Menko Maritim dan Investasi (Luhut Binsar Pandjaitan)!" seru Jokowi.

Sebelum menyentil banjir baja impor, Jokowi juga menyinggung soal impor migas yang nilainya lebih besar. Saat itu Jokowi terlihat kesal menyampaikannya.

Adapun soal impor baja yang deras, Asosiasi Besi Baja Indonesia (IISIA) pernah melakukan catatan, soal faktor-faktor penyebabnya, antara lain:

Pertama, Permendag No 110 tahun 2018 tentang ketentuan impor besi baja dan baja panduan dan produk turunannya, yang sebelumnya diatur pada Permendag No 22 tahun 2018, yang menyebabkan penghapusan pertimbangan teknis sebelum impor baja. Hal ini menyebabkan impor baja semakin mudah dan tidak ada sistem kontrol izin impor.

Kedua, praktik menghindari terutama dalam impor baja, antara lain praktik pengalihan pos tarif impor (HS Code) baja karbon menjadi paduan. Selain itu, baja karbon untuk konstruksi dialihkan menjadi baja paduan dengan harga yang lebih murah dari baja karbon.

Harga baja paduan impor dari China sangat murah karena mendapatkan keunggulan tax rebate atau insentif bagi para eksportir sebesar 9%-13%. Negara pemasok baja impor khususnya China terhindari dari bea masuk anti dumping 20% karena ada perdagangan bebas ASEAN-China atau ACFTA.

Ketiga, kebijakan Trump yang memicu perang dagang membuat produk-produk baja impor China yang biasa masuk Amerika Serikat (AS) tak bisa masuk lagi, sehingga ada pengalihan pasar ke Asia Tenggara.

Keempat, hadirnya perdagangan bebas, membuat bea masuk umum atau most favoured Nation (MFN) untuk produk baja telah diturunkan dan sampai 0%.(Jft/CNBC)

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...