27 May 2018

Kepemimpinan Amanah dan Solusi Permasalahan Bangsa

Oleh:  Muhammad Musa *

 

 

Indonesia dalam waktu dekat mencari pemimpin-pemimpin baru, baik di tingkat lokal ataupun nasional. Tahun 2019 adalah tahun politik, yang mana Indonesia akan menyelenggarakan pesta demokrasi lima tahunan mencari wakil-wakil rakyat dan dilanjutkan pada pencarian kepemimpin nasional. Disamping itu yang lebih dekat lagi, setelah lebaran nanti ada pemilihan kepala daerah, mulai dari tingkat provinsi hingga tingkat kota dan kabupaten.

Para pemimpin tersebut baik pemimpin tingkat daerah maupun tingkat nasional, diharapkan dapat menjadi bagian dari solusi bagi permasalahan bangsa ini, yang kelak akan mengantarkan kembali pada masa kejayaan nusantara yang “gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo”.

Tulisan berikut akan mengupas masalah kepemimpinan dari sudut pandang ajaran Islam, baik yang bersumber pada Al-Qur’an dan hadits.

Kepemimpinan Dalam Islam

Allah Subhanaahu Wa Ta’ala menjadikan manusia di muka bumi, untuk menjadi pemimpin (khalifah fil ard) dan menjadi solusi dari berbagai macam problematika penduduk bumi (rahmatan lil ‘alaamiin). Amanah ini tidak diberikan begitu saja oleh Allah Subhanaahu Wa Ta’ala, melainkan sudah diberikan bekal yang cukup dengan kesempurnaan fisik dan keelokan struktur batin yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya.

Kepemimpinan jika ditinjau dalam refrensi fiqih syiasah, maka dapatlah dipahami bahwa kepemimpinan bukanlah sesuatu yang menjadi obyek untuk diperebutkan, melainkan sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan kepada Sang Pencipta (Khaliq) yang telah memberikan mandat. Pertanggungjawaban itu akan diterima jika memiliki integritas, kompetensi, dan ketaatan menjalankan perintah Sang Khaliq. Hal ini dapat dibuktikan dalam sejarah bagaimana para khulafa’u rasyidiin, yaitu kepemimpinan para sahabat setelah Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam wafat, ketika mereka terpilih, seraya mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun”.

Akan berbeda jadinya, jika kepemimpinan menjadi sesuatu yang dikejar dan diperebutkan. Menghalalkan secara cara untuk meraihnya. Bahkan dalam psikologi politik dikatakan, bahwa orang yang berambisi terhadap kepemimpinan, maka kelak ketika ia akan menjadi pemimpin yang otoriter dan diktator. Dalam hal ini Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam mengingatkan kepada Abu Dzar: “Wahai Abu Dzar, kamu ini lemah, sedangkan tugas itu adalah amanah, dan pada hari kiamat hal itu akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya sesuai haknya dan menjalankannya dengan baik” (H.R. Muslim No.1725).

Kepemimpinan dalam Islam pada dasarnya memiliki risiko tinggi (high-risk), tetapi juga bernilai tinggi (high-value). Karena Allah Subhanaahu Wa Ta’ala memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para pemimpin yang adil, sebaliknya Allah Subhanaahu Wa Ta’ala juga mengancam para pemimpin yang berlaku dzalim. Imam Ghazali mengatakan, ”Pemimpin yang adil dalam satu hari, lebih baik daripada beribadah kepada Allah Subhanaahu Wa Ta’ala selama 70 tahun”. Itulah cara Allah menghargai pemimpin. Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, ”kullu kum roin wa kullukum mas’ulun anraiyathi”. “Tiap kamu adalah pemimpin, dan tiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya”...

 

Muhammad Musa  adalah Alumni Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir.

Category: 
Loading...