16 June 2019

Kecerdikan KPU, Umumkan Pemenang Pilpres H-1 Demo 22 Mei

KONFRONTASI -  Alhamdulillah hari selasa, tanggal 21 Mei 2019 pukul 2 dini hari, KPU sudah mengumumkan Capres pemenang pemilu. Banyak ucapan selamat yang mengalir deras di media sosial. Berarti banyak warga negara Indonesia yang bangga dan senang atas presiden terpilih.

Meskipun pilpres tahun ini diwarnai banyak drama oleh barisan sakit hati karena tak terima kalah, rupanya Tuhan masih memihak rakyat Indonesia. Berulangkali saya tulisakan dalam artikel kalau kemerdekaan ini atas berkat rahmat Allah Yang Maha Esa. Jadi, sudah sewajarnya jika Tuhan ikut menjaga keutuhan bangsa dan tanah air kita.


 
Pak Jokowi dan Pak Ma'ruf Amin memang pantas memimpin Indonesia. Jokowi sendiri sangat mencintai negaranya dan berharap Indonesia segera menjadi salah satu negara maju. Pembangunan infrastuktur di eranya dikebut habis-habisan. Bukan hanya Java sentris tapi menyeluruh ke pelosok negeri. Kekayaan yang dikuasai segelintir orang kini dibagi rata. Pantas manusia-manusia cendana mulai bermunculan menjerit merasa kekayaannya dirampok, padahal merekalah perampok sesungguhnya.

Jokowi yang terlalu nasionalis dengan melindungi bermacam etnis dan minoritas membuatnya dituduh sebagai PKI. Dengan adanya Ma'ruf Amin yang notabenen mewakili islam moderat harusnya menghilangkan semua prasangka itu. NU sebagai organisasi islam moderat terbesar di indonesia dengan Banser dan Ansornya juga turut menjaga keutuhan NKRI.

Wajar sekali kalau rakyat Indonesia memenangkan pasangan ini. Karena tidak ada kepentingan lain selain mewujudkan Indonesia maju sebagai berkat kemerdekaan dari Tuhan.

Lantas bagaimana dengan aksi massa 22 Mei yabg tinggal sehari? Kecewa. Pastinya niatan jahat mereka untuk mengintervensi KPU gagal total di tengah jalan. Apa yang mau didemo kalau pengumuman hasil rekapitulasi sudah selesai? Sebagai mereka bahkan melaknat KPU karena selangkah lebih maju. Hahahahaha

Mungkin rencana makar bertajuk aksi damai mereka tetap berlanjut. Saya sarankan KPU menjadwalkan tanggal 22 Mei sebagai hari libur. Toh, mereka sudah bekerja keras sampai detik ini. Biarlah mereka beristirahat dan bersantai di rumah.

Urursan pendemo biar ditemui aparat keamanan. Biarlah mereka mendemo kantor kosong. Tidak ada yang berhak mengintervensi KPU sekalipun presiden. Kalau mereka tetap memaksakan kehendak lebih baik tak usah ada pemilu, demo saja. Ini negara yang taat pada aturan bukan pada demo.

Oh ya, untuk bocoran kepergian Prabowo ke Brunei ada salah satu sumber yang mengatakan jika mereka mendapat penolakan. Kunjungan prabowo ditolak sultan brunei. Prabowo diusir dari Brunei.

Kedatangan prabowo ke Brunei pada 16 mei 2019 menimbulkan kemarahan Sultan Brunei dan menolak bertemu prabowo. Rombongan prabowo ditolak saat akan masuk ke istana raja. Itulah sebabnya sebabnya tidak ada satu pun media Brunei yang memberitakan kedatangan prabowo.


 
Karena misi kedatangan prabowo membawa maksud buruk. Yaitu minta suaka politik dan menjelekkan indonesia. Prabowo juga mencoba membujuk raja brunei mengakui kemenangan prabowo pada pilpres 2019.

Sultan brunei menolak permintaan prabowo. Raja memerintahkan prabowo dan rombongannya segera pulang ke indonesia. Karena provokasi prabowo akan merusak persahabatan indonesia-Brunei.

Itulah sebabnya rombongan prabowo pulang lebih awal daripada jadwal semula. Rombongan prabowo hanya tinggal beberapa jam di Brunei. Tidak ada satu pun pejabat brunei yang mengantar kedatangan dan kepulangan prabowo dan rombongan.

(Rangkuman dari berbagai sumber).

Makanya pesawat pribadi Prabowo dan rombongan hanya tinggal selama 3 jam di sana. Siang berangkat dan malam sampai di Kertanegara. Malang benar nasib Capres gagal move on ini. Hanya pendukungnya yang buta hatinya yang mengakuinya sebagai presiden Kertanegara.

Sudah ditinggal partai koalisi sekarang tidak dipercaya negara tetangga yang mayoritas islam. Mau dibawa kemana nasib Prabowo dkk.

Sedang Gerindra kini dihantam ombak besar setelah PDIP menyatakan membuka peluang untuk bergabung menjadi koalisi. Oh, sungguh teramat nasibnya Om Wowo. Belum lagi mantan istrinya, putri kerajaan Cendana alias mbk Titiek yang harap-harap cemas. Dia bersiap jadi ibu negara, yang ada jadi ibu rumah tangga. Hahahaha

Itu membuktikan rakyat Indonesia masih cerdas dan waras. Kita sama-sama mencintai Indonesia dan menginginkan negeri ini maju ke depan. Bukan ke era orba atau era bapaknya mbk Titiek. Semoga kalian semua beserta pendemo 22 mei cepat move on.

Saran saya mendingan urungkan niat berdemo dan perbanyak istighfar di bulan ramadhan. Toh, polisi sudah mengungkap bakal banyak teroris yang siap meledakkan diri. Jadi buat apa berdemo lagi, pengumunan sudah dibacakan. Kasihan kalau nyawa melayang sebelum lebaran.

Begitulah kura-kura (Jft/Seword)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...