19 June 2019

Kampanye Panas, Siapa Biangnya

Oleh : Syaroni, SEI

Kampanye Pemilu terasa makin memanas dan mencekam. Publik mulai disuguhkan "pertunjukan" yang tidak pantas, cara-cara kotor, dan jauh dari nilai-nilai demokrasi.

Publik terhenyak kaget ketika pada 15/12/2018, tersebar berita tentang pengrusakan atribut Partai Demokrat di Pekanbaru, Riau. Saat kejadian, berhasil ditangkap 1 orang pelaku yang mengaku dibayar Rp. 150 ribu. Dari pengakuannya didapat informasi bahwa komplotan pengrusak berjumlah 35 orang yang terbagi dalam 5 kelompok, satu regu terdiri 7 orang.

Tiga hari sebelumnya, tepatnya pada 12/12/2018 di Restoran Rumah Bari Palembang, Sumatera Selatan, sejumlah orang yang berjumlah 25 orang mengaku sebagai kader PAN mendeklarasikan diri mendukung pasangan Jokowi-Ma'ruf. Tak ayal, klaim ini langsung dibantah oleh pengurus PAN Sumsel dan menyatakan orang-orang tersebut bukan kader PAN. Cara-cara kotor tersebut dimaksudkan untuk menggembosi suara Prabowo-Sandi.

Sehari sebelumnya, 11/12/2018, dari rumah Kyai Ma'ruf Amin di Jalan Situbondo, Menteng, Jakarta Pusat, terlontar sesumbar dan tantangan yang tidak pantas. Pelakunya adalah La Nyalla, salah satu pendukung Jokowi-Ma'ruf. Usai bertemu Kyai Ma'ruf Amin, La Nyalla sesumbar jika di Madura dimenangkan oleh Prabowo-Sandi, dirinya siap dipotong lehernya. Tidak berhenti di situ, La Nyalla juga menantang Prabowo untuk memimpin Sholat dan membaca Al-Qur'an.

Akhir-akhir ini, juga muncul serangan bertubi-tubi kepada Cawapres Sandiaga Uno. Pertama, terkait kasus poster penolakan di Pasar Kota Pinang, Labuhan Batu, Sumatera Utara. Kedua, soal membangun tol tanpa utang.

Para elit pendukung Jokowi menyerang secara serempak, tak terkecuali Ketua Tim Kampanye Nasional Erick Thohir. Bahkan dalam kasus poster penolakan, Erick menuduh Cawapres Sandiaga Uno sedang memainkan sandiwara. Sementara dalam kasus pembangunan tol tanpa utang, Erick mengklaim bahwa gagasan Cawapres Sandiaga Uno mustahil terwujud.

Serangan juga menyasar area medsos dalam  bentuk penyebaran meme, dimana dalam meme tersebut ditampilkan gagasan membangun tol tanpa utang dan utang korporasi milik Sandiaga Uno. Padahal antara keduannya tidak memiliki kaitan. Bahkan secara substantif juga beda, yang satu adalah kebijakan publik negara, sementara yang satunya lagi adalah wilayah korporasi.

Atas makin maraknya model kampanye dengan gaya menyerang, yang menjadikan suhu kampanye mulai memanas, maka perlu dicari penyulutnya.

Setelah ditelusuri ternyata Ketua TKN Jokowi-Ma'ruf, Erick Thohir, pernah melontarkan ajakan menyerang. Kalimat persisnya adalah "...jadi mau tidak mau kita harus ofensif sekarang". Kalimat tersebut dilontarkan oleh Erick Thohir dalam acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Direktorat Hukum dan Advokasi di Hotel Acacia, Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis 13 Desember 2018.

Memang sulit menyimpulkan bahwa rentetan peristiwa di atas memiliki hubungan dengan pernyataan Erick Thohir. Namun setidaknya, publik tahu bahwa Erick Tohir pernah melontarkan ajakan "menyerang". Mestinya sebagai Ketua TKN, Erick Thohir bisa berkata lebih bijak. Berkata "provokatif" bisa menimbulkan kesalahan penafsiran di kalangan pendukungnya.

Sekarang, silahkan publik menilai sendiri!

----------------
*Ketua Presidium PRIMA
(Perhimpunan Masyarakat Madani)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...