14 October 2019

Kalau Rupiah Tembus Rp15.000/dolar AS, Jokowi-JK Sebaiknya Mundur karena Ekonomi Bangsa Kita Hancur

KONFRONTASI- Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar terpuruk hingga menembus Rp15.035 per Dolar Amerika, kemarin. Kondisi ini tentu saja menimbulkan keresahan di masyarakat, tak terkecuali pedagang kaki lima.

Ketua Aliansi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) Dokter Ali Mahsun mendesak Presiden Joko Widodo tim ekonominya untuk segera bertindak mengatasi krisis.

“Jokowi-JK harus mencegah kebangkrutan negara dan kurangi beban penderitaan rakyat. Jika gagal, demi keutuhan bangsa dan Negara RI, Jokowi-JK harus segera mengundurkan diri sebagai satu paket Presiden dan Wapres RI,” kata Ali dalam keterangan persnya yang diterima redaksi di Jakarta, Selasa (25/08). Kedua pemimpin itu terbukti inkompeten dan dinilai tidak becus mengatasi masalah ekonomi.

Menurut dia, Jokowi-JK mundur adalah jalan terbaik demi keutuhan bangsa agar terhindar dari disintegrasi. “Tak boleh ngotot kalau memang tak mampu memimpin dan mengelola negara bangsa Indonesia,” tegasnya.

Ali meminta Jokowi untuk mengingat bahwa Indonesia lahir dan merdeka dari pengorbanan puluhan juta nyawa leluhur. Tak boleh korbankan Negara Bangsa Indonesia karena keangkuhan dan ambisi kekuasaan.

“Luweh arif lan saene mundur, pamitan lan nyuwon pangapuro nang sedoyo rakyat lan bongso Indonesia ben orak tambah ruwet (Lebih arif dan sebaiknya mundur, pamitan dan mohon maaf kepada seluruh rakyat dan bangsa Indonesia agar tidak tambah kompleks),” pungkasnya.

LIMA BANK AMBRUK

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan, pelemahan nilai tukar rupiah hingga level Rp 15.000 per dollar AS akan menghantam permodalan lima bank nasional yang bakal ambruk pula dihempas krisis moneter ini.

Deputi Komisioner Pengawasan Perbankan OJK Irwan Lubis mengatakan, penyataan tersebut didasarkan pada hasil stress test yang dilakukan OJK terhadap perbankan di Indonesia, tetapi Irwan enggan menyebutkan nama sejumlah bank tersebut.

"Depresiasi rupiah terhadap dollar AS jika sampai Rp 15.000 per dollar AS akan meng-hit (menghantam) permodalan satu hingga lima bank nasional," ujar Irwan saat jumpa pers di Jakarta, Kamis (12/3/2015).

Irwan menuturkan, terkait hasil stress test tersebut, OJK sudah memanggil manajemen bank yang kinerjanya berpotensi terganggu oleh pelemahan rupiah.

"Kalau rupiahnya Rp 14.000 per dollar AS, bank-bank di sini masih oke," kata Irwan.

Rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) perbankan hingga akhir Januari 2015 tercatat sebesar 21,01 persen, naik dibandingkan Desember 2014 yang mencapai 19,57 persen.

Menurut Irwan, peningkatan tersebut disebabkan oleh membesarnya jumlah laba yang ditahan oleh bank. Rasio tersebut juga dinilai masih jauh lebih tinggi dari batas normal yang sebesar 14 persen.

Irwan menambahkan, jika depresiasi rupiah menembus Rp 15.000 per dollar AS, maka kondisi tersebut akan mengganggu stabilitas makro ekonomi. Variabel pertumbuhan ekonomi dinilai akan mengalami penurunan, mengikuti pelemahan rupiah.

Selain itu, lanjut Irwan, pelemahan rupiah juga akan mendorong peningkatan rasio kredit bermasalah (NPL) dan sebagian besar indikator ekonomi makro.

"Kami berharap rupiah tidak tertekan lebih jauh lagi," kata Irwan.

Berdasarkan data kurs JISDOR Bank Indonesia pada Kamis, nilai tukar rupiah kembali melemah menjadi Rp 13.176 per dollar AS, dibandingkan hari sebelumnya Rp 13.164 per dollar AS. (roy)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...