27 May 2017

Jusuf Kalla, Kubu Bisnisnya dan Pertamina

KONFRONTASI- Lagi-lagi kubu JK diduga bergerak di proyek  proyek pertamina, demikian sumber dari tim tata kelola migas pimpinan Faisal Basri, yang sudah dibubarkan. Dari dulu hingga saat ini, Pertamina kerap menjadi bancakan berbagai pihak. 

Pertamina bakal mendapat tugas baru dari pemerintah. Tugas baru itu adalah menaikkan cadangan operasional bahan bakar minyak (BBM) dari 18 hari menjadi 30 hari. Untuk merealisasikan proyek ini, Pertamina membutuhkan tambahan tangki sebesar 2 juta kiloliter, yang dananya ditaksir mencapai Rp 24 triliun. Dana sebesar ini dipakai untuk membangun terminal penyimpanan Rp 14 triliun dan Rp 10 triliun untuk tambahan pengadaan BBM.

Selain itu, Pertamina juga akan mencari tangki penyimpanan milik BUMN lain yang menganggur agar bisa difungsikan untuk menyimpan cadangan BBM nasional. Menteri ESDM Sudirman Said sudah member sinyal agar Pertamina memanfaatkan storage milik PLN yang menganggur. Menurut Sudirman, jika terlaksana kesepakatan Pertamina dan PLN, akan ada penambahan kapasitas penyimpanan cadangan BBM selama 10 hari.

Sudirman berharap, fasilitas penambahan penyimpanan cadangan operasional BBM itu datang dari sektor swasta, selain tentu saja Pertamina.

Pembangunan fasilitas cadangan operasional BBM itu adalah untuk mengantisipasi kelangkaan BBM secara nasional. Selain itu, tahun ini pemerintah juga merencanakan mengeluarkan beleid yang mengatur penggarapan mega proyek untuk mengantisipasi kelangkaan BBM di seluruh Indonesia dengan  mengajak pihak swasta.

Karena proyek ini bernilai triliunan rupiah, mulai muncul rumor. Karena rumor, tentu saja kebenarannya masih perlu didalami. Rumor itu menyebutkan, proyek penambahan cadangan BBM itu akan digarap Pertamina bersama perusahaan dalam Grup Kalla, milik Wakil Presiden Jusuf Kalla dengan kucuran kredit dari bank pemerintah.

Rumor ini langsung menyulut reaksi dari pengamat ekonomi politik dari Universitas Bung Karno Gede Sandra. “Jika info yang beredar benar adanya, maka Jusuf Kalla (JK) menang banyak terhadap Jokowi,” kata Gede.

Menurut Gede, ini adalah proyek kedua yang dimenangkan Grup Kalla setelah sebelumnya PT Bumi Sarana Migas (BSM)—unit usahanya—berhasil menggandeng Pertamina untuk membangun proyek LNG Receiving Terminal di Banjarnegara Pulosari Pandeglang, Banten.

Kedua perusahaan berencana menggarap proyek terminal LNG berkapasitas 500 million standard cubic feet per day (mmscfd), atau sama dengan 4 juta ton LNG. Belum diketahui, berapa besar dana yang dianggarkan untuk membangun proyek ini. Hanya saja sebagai gambaran, kalau pembangunan LNG Bontang berkapasitas 2 juta ton menelan investasi Rp 3,4 triliun, proyek LNG Receiving Terminal diperkirakan sekitar Rp 6,8 triliun.

Menurut rencana, proyek LNG Receiving Terminal ditujukan untuk memenuhi LNG di Jawa barat.

Jika proyek ini terwujud, ini semakin menambah deretan proyek yang digarap Kalla Group. Kalla Group adalah kelompok usaha milik Wakil Presiden JK. JK adalah pengusaha terbilang sukses, yang kini memiliki banyak lini bisnis, mulai dari otomotif, konstruksi, energi, keuangan, properti, dan transportasi.

Menurut Direktur Eksekutif Energi Watch, Ferdinand Hutahaean, pratik bisnis di era reformasi memang tidak sevulgar di era Orde Baru. Bisa jadi karena saat ini banyak pihak yang mengawasi. Hanya saja, kali ini seolah muncul kembali pada sejumlah proyek Pertamina.

Kalau benar, kasihan sekali nasib Pertamina, dari dulu kerap menjadi bancakan berbagai pihak. (kf/http://indonesianreview.com)

Category: 

loading...

Related Terms



News Feed

Loading...

Baja juga