19 October 2019

Jokowi Menyesal Buka Keran Impor, Ugal-ugalan, Rizal Ramli: Ganti Strategi Ekonomi !

KONFRONTASI- Pernyataan Presiden Joko Widodo yang menyesal karena membuka keran impor secara ugal-ugalan, telat.

Meski demikian, lebih baik telat daripada tidak sama sekali menutup keran impor ugal-ugalan.

Demikian disampaikan begawan ekonomi Rizal Ramli dalam kicauan di Twitter, ditulis Selasa (17/9/2019).

“Walaupun Presiden Jokowi sangat terlambat, tapi kesadaran bahwa impor ugal-ugalan merugikan industri dan pertanian RI itu penting,” tegas dia.

“Mendesak untuk segera ganti strategi (ekonomi),” lanjut eks Tim Panel Ekonomi ini.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengisyaratkan menyesal sempat membiarkan pintu impor terbuka lebar. Akibatnya, kinerja industri tekstil di dalam negeri sempat lesu, bahkan ekspornya pun melemah di tengah tekanan perlambatan ekonomi global.

Jokowi menyampaikan hal itu saat menerima pelaku usaha yang tergabung dalam Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dan Asosiasi Produsen Serat Sintetis dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) di Istana Merdeka, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (16/9/2019).

Berdasarkan catatan Jokowi, pertumbuhan ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) turun 0,6 persen pada kuartal II 2019 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan itu sejalan dengan minimnya pangsa pasar Indonesia di kancah internasional, yaitu 1,6 persen dari total perdagangan tekstil dunia.

Hasil gambar untuk rizal ramli megawati, Puan maharani

Sementara, pangsa pasar negara-negara tetangga, seperti Vietnam masih sekitar 4,59 persen dan Bangladesh 4,72 persen dari total perdagangan internasional. Sedangkan dominasi pangsa pasar masih dikuasai oleh China mencapai 31,8 persen.

Asosasi Pertekstilan Indonesia (API) menyatakan sembilan anggota mereka telah gulung tikar terlindas oleh produk impor. Mereka kalah bersaing dengan produk impor karena biaya produksi di dalam negeri yang lebih tinggi.

Perang dagang antara AS dengan Cina belakangan ini telah membuat produk TPT Cina membanjiri pasar Indonesia dengan harga yang lebih kompetitif. Akibatnya, pabrik lebih memilih gulung tikar.

Ade menuturkan mereka yang tidak bertahan menjadi produsen tekstil memilih banting setir menjadi importir TPT. Kondisi tersebut mau tidak mau memberikan konsekuensi pada pengurangan jumlah karyawan.

“Kalau importir hanya butuh paling 10 orang, kalau produksi membutuhkan mungkin 600-1.000 tenaga kerja,” katanya, Selasa (10/9/2019). (FF)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...