27 May 2017

Jokowi Maunya Nempel JK dan Tergantung JK jika Dipilih jadi Presiden. Jelas Jokowi Tidak Pantas jadi Presiden

KONFRONTASI-Wacana Jokowi soal  peleburan kantor presiden dan wakil presiden dari kubu Jokowi-Jusuf Kalla (JK) dinilai sebagai bukti bahwa Jokowi tidak mandiri dalam mengambil keputusan. Inilah alasan Mengapa Jokowi Sangat Tidak Pantas Menjadi Presiden 2014:

1. Jokowi janji untuk konsen urusi Jakarta

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gerindra, Ahmad Muzani menghormati jika pada saatnya nanti PDI Perjuangan (PDIP) akan mencalonkan Joko Widodo (Jokowi) sebagai presiden di Pemilu 2014. Namun, dia hanya mengingatkan bahwa Jokowi pernah berjanji untuk fokus mengurus Jakarta.

Kalau kemudian ada pandangan soal Jokowi itu semata-mata kami hanya ingin mengingatkan Jokowi pernah janji kepada kami dan rakyat Jakarta untuk berkonsentrasi mengurus Jakarta, jelas Muzani di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (3/9).

Karena itu, dia tak ingin menagih janji terhadap Jokowi ini disebut sebagai upaya mencampuri urusan rumah tangga orang.

Tidak ada maksud mencampuri. Jokowi mengatakan ingin konsentrasi mengurus Jakarta. Kami berharap ini tidak disalahpahami, imbuhnya.

Ini bukan karena kekhawatiran pada elektabilitas Jokowi. Secara esensi amanah masyarakat Jakarta harus diselesaikan kepada Jokowi. Kami akan berusaha mengingatkan hal itu, tutur dia.

2. Jokowi janji jalankan amanah 5 tahun

Jokowi diminta memenuhi janji menjalankan amanah memimpin Jakarta selama 5 tahun.

Fadli pun mengungkapkan alasan mengapa tak setuju jika Jokowi berduet dengan Prabowo. Menurutnya, Jokowi sudah punya janji akan membenahi Jakarta selama ia menjabat sebagai Gubernur DKI.

Kalau Jokowi jadi wakil (Prabowo) kita juga jadi enggak konsisten. Karena Pak Jokowi berjanji beliau akan menjalankan amanah 5 tahun menjadi gubernur, pungkasnya.

3. Jokowi lebih pantas jadi presiden di 2019

Meski Jokowi kerap mengungguli Prabowo dalam sejumlah survei, anggota Dewan Pembina Gerindra Martin Hutabarat menilai gubernur DKI Jakarta itu lebih pantas jadi presiden tahun 2019.

Jokowi adalah calon Presiden RI yang sangat potensial. Jokowi sebaiknya menggunakan masa jabatannya yang 4,5 tahun ke depan untuk berhasil memimpin Jakarta, dan sekaligus belajar untuk memahami Indonesia yang sangat plural ini. Gerindra berencana akan mencalonkan Jokowi pada Pilpres 2019, menggantikan Prabowo Subianto yang akan jadi capres Gerindra pada tahun 2014 nanti, ujar Martin dalam rilis yang diterima merdeka.com, Minggu (19/5).

Martin mengatakan Jokowi masih harus belajar tentang Indonesia, sebab Indonesia tidak sesederhana Jakarta. Disadari keberhasilan Jokowi menjadi presiden yang akan datang sangat ditentukan waktu yang tepat saat dicalonkan.

Kalau waktunya dicalonkan tidak tepat, akan merugikan Jokowi sendiri. Sebab memimpin Indonesia tidak sesederhana memimpin Jakarta. Indonesia sangat besar, sangat luas dan sangat majemuk. Diperlukan kepemimpinan yang kuat, arif dan tegas, jelas dia.

4. Jokowi belum layak jadi presiden

Anggota Dewan Pembina Gerindra Permadi menegaskan jika Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) belum layak untuk menjadi presiden RI. Dia berpendapat, sejumlah survei yang selalu mengunggulkan nama Jokowi diurutan teratas adalah sebuah permainan politik.

5. Ahok lebih suka Jokowi jadi gubernur

Ternyata, Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) lebih senang jika Jokowi masih menjabat sebagai Gubernur hingga 2017. Sebab, jika ada persoalan yang membutuhkan keputusan tidak harus dengan dirinya melainkan ke pucuk pimpinan yakni gubernur.

Saya belum makan durian. Ya saya harus makan durian dulu. Tapi saya ingin beliau bertahan. Ya enak, kan Pak Jokowi bisa jadi bemper, Ya kalau ada nanya apa-apa kan tinggal bilang tanya ke gubernur, jelas Ahok sembari tertawa di Balai kota Jakarta, Selasa (3/9).

Ahok pun membantah ketika Jokowi telah berpamitan pada dirinya untuk maju sebagai capres. Sebab, isu yang beredar sejak Mei lalu Jokowi secara pribadi sudah berpamitan dengan Ahok. Enggak, enggak ada, katanya singkat.

Pakar hukum tata negara Universitas Muhammadiyah Jakarta, Chairul Huda mengatakan, rencana kubu Jokowi-JK tersebut menunjukkan kelemahan Jokowi. Sebab, hal itu bukti Jokowi cukup bergantung pada JK.

"Wacana itu merupakan konfirmasi bahwa Jokowi memang tidak mandiri memutuskan sesuatu. Bukan apa-apa, saya kok melihatnya sebagai cermin kelemahan Jokowi dalam hal kapasitas," kata Chairul, Jakarta, Rabu (11/6/2014).

Menurutnya, sejak masa Soekarno sampai sekarang dua lembaga itu itu selalu dipisah. "Ini pertama dalam sejarah Indonesia jika kantor presiden dan wakil presiden dijadikan satu," katanya.

Dia mengatakan seharusnya seorang pemimpin memiliki kemampuan dalam memutuskan. Bukan sekadar menjalankan atau bergantung pada konsultasi dengan wakil presidennya.

"Kenapa tidak sekalian saja Pak JK yang jadi presiden?" sindir Chairul.

Apalagi, Chairul menilai JK lebih dominan dibanding Jokowi. Chairul mencermati sejak debat capres-cawapres perdana, Jokowi terlihat tampil tidak percaya diri.

“Apalagi nanti tak ada pembagian yang jelas, tidak seperti pembagian sebelum-sebelumnya misalnya presiden di pemerintahan dan hubungan luar negeri, wapres bidang ekonomi. Aneh sekali kalau semua dikoordinasi secara bersama-sama,” kata Chairul.

Sebelumnya, Sekretaris Tim Pemenangan Jokowi-JK, Andi Widjojanto mengatakan, jika Jokowi-JK terpilih pada pilpres maka lembaga presiden dan wakil presiden akan melebur jadi satu.

"Cita-cita kami memang memperkuat lembaga kepresidenan. Tidak ada kantor wapres, yang ada presiden dan wapres jadi satu," ujar Andi Widjajanto, Rabu (11/6/2014). [mes]

Category: 

loading...

Related Terms



News Feed

Loading...

Baja juga