5 December 2019

Jokowi-JK Alami Krisis Multi Dimensi: Rupiah Jeblok, Republik Anjlok !

KONFRONTASI- Ekonomi Jokowi-JK kian memburuk saja. Seakan kita di lorong tiada ujung akibat pemerintahan yang salah urus, limbung

Ceritanya diawali: Begitu pulang dari Aceh (11/03/2015), Presiden Jokowi langsung mengadakan rapat dengan para menteri bidang keuangan, pejabat BI, dan OJK. Para investor pasar modal pun berharap akan ada kabar baik dari pemerintah.

Tapi harapan para investor tersebut segera berganti dengan kekecewaan. Hasil rapat dadakan tersebut ternyata sama sekali tidak memperlihatkan adanya sense of crisis. Ditambah lagi dengan ketidakberanian Jokowi untuk menjelaskan kepada publik tentang tindakan yang akan segera diambil. Hanya seorang menteri keuangan, yang menjelaskan hasil keputusan rapat tersebut, itupun hanya berupa program bersifat  jangka menengah. Padahal investor asing sudah panik dengan dengan kondisi rupiah sekarang.

Kepanikan itu langsung tercermin di bursa saham. Investor asing menjual saham lebih dari  Rp 1 trilyun, karena mereka merasa pemerintah tidak serius dalam masalah penurunan rupiah. Saham-saham berkapitalisasi besar seperti Bank Central Asia (BBCA) dan Astra International (ASII) jadi sasaran jual mereka. Akibatnya indeks terpangkas sebesar 43 point. Kalau saja tidak ada intervensi dari investor-investor yang terafiliasi dengan pemerintah, dipastikan indeks akan terpangkas lebih dalam.

Investor asing hengkang, akibatnya sudah dapat diduga rupiah keok. Rupiah berdasarkan kurs tengah BI ditutup di level Rp 13.164 atau mengalami penurunan sebesar 105 pont dibanding hari sebelumnya.

Awal kecewanya mereka sebenarnya dari penyataan-pernyataan para pejabat tinggi yang terkesan meremehkan persoalan penurunan rupiah. Seperti pernyataan Jusuf Kala, mengatakan bahwa penurunan rupiah baik untuk ekspor. Pernyataan tersebut bisa dibilang naïf, karena ekspor utama kita adalah komoditas yang sifatnya barangnya inelastis terhadap harga. Sifat barang inelastis adalah perubahan harga kurang mempengaruhi terhadap perubahan volume permintaan barang tersebut. Misalnya, penurunan harga beras sebesar 10% tidak akan menambah permintaan terhadap beras sebesar 10%. Jadi penurunan rupiah tidak serta merta akan menambah volume ekpor komoditas kita.

Sialnya, dalam kondisi seperti ini justru harga CPO dan batubara yang merupakan produk ekspor andalan kita, sedang mengalami penurunan harga. Dalam satu minggu ini saja harga CPO telah turun  sebesar 5.8%. Penurunan ini terjadi karena lemahnya permintaan dari Cina. Harga Batu Bara bernasib sama, setelah sempat bangkit pada bulan Januari, sekarang kembali terperosok dibawah USD 65 per ton.

Dalam kondisi  seperti ini, kita membutuhkan kehadiran seorang  presiden agar dapat memberikan ketenangan kepada Investor. Presiden juga harus cepat mengambil  kebijakan ekonomi, bukan cuma retorika politik.

Ketidakberanian seorang presiden untuk tampil dan menjelaskan langkah-langkah apa yang akan diambil, menunjukan bahwa sang presiden dan wakilnya adalah sosok loyo, tak bervisi, tak berdaya dan safety player! (Indonesian Review)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...