14 December 2019

Jokowi Harus Singkirkan Campurtangan Jusuf Kalla dalam Rombak Kabinet

KONFRONTASI- Untuk menegakkan wibawa istana presiden, maka Presiden Jokowi harus mampu menyingkirkan kepentingan Jusuf Kalla alias JK, karena hak menentukan menteri-menteri serta pembantunya adalah mutlak milik presiden. Karena itulah, publik harus benar-benar mengawasi dan memberi dukungan kepada Presiden Jokowi untuk tidak ragu menggunakan hak prerogatifnya tanpa khawatir ada intervensi dari JK.  

Di tengah udara yang begitu gerah di Jakarta, hari Selasa (19/05/2015) Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla melakukan pembicaraan empat mata di Kantor Presiden, Komplek Istana, Jakarta. Pembicaraan yang berlangsung sekitar 45 menit itu, salah satunya membahas mengenai reshuffle (perombakan) kabinet.

Awalnya, reshuffle akan dilakukan setelah hari raya Idul Fitri. Namun, setelah sejumlah perwakilan elemen mahasiswa bertemu dengan Presiden Jokowi, reshuffle akan dipercepat. “Dalam waktu dekat agar lebih baik dan meyakinkan,” kata Jusuf Kalla, Wakil Presiden.

Kapan reshuffle akan diumumkan? Bisik-bisik di lapangan menyebutkan, perombakan kabinet dilakukan pertengahan bulan Juni, beberapa hari sebelum Ramadan. Ada dua sampai tiga menteri yang akan diganti, sementara beberapa menteri bertukar posisi karena selama ini penempatannya kurang tepat.

Siapa saja menteri yang bakal diganti? Semuanya masih samar-samar. Namun banyak kalangan mendesak agar Jokowi mengganti beberapa menteri di bidang ekonomi. Mereka melihat, tim ekonomi adalah titik paling lemah pemerintahan Jokowi-JK. Namun JK bakal campur tangan dan kalau Jokowi kalah kuat sama JK akibat tekanan JK dan kubunya, maka bisa dipastikan reshuffle kabinet hanya menguntungkan JK, dan kandang Banteng bakal gigit jari lagi, juga rakyat bakal gigit jari lagi.

 Saat ini, ekonomi Indonesia melambat dan hanya tumbuh 4,7 persen. Padahal di saat yang sama, pertumbuhan ekonomi negara tetangga naik. Sebut saja Filipina dengan pertumbuhan ekonomi 7,3 persen.

Ekonomi Filipina naik karena memiliki tim ekonomi yang bagus. Sementara Indonesia jatuh karena tim ekonominya sangat lemah. Beredar di publik bahwa tim ekonomi dalam Kabinet Kerja ini merupakan "bawaan" Jusuf Kalla, dengan indikasi jelas posisi Sofyan Djalil yang duduk di kursi Menko Perekonomian.

"Artinya, secara tidak langsung, JK adalah biang dari ketidakmampuan pemerintah untuk merespon perkembangan ekonomi global dan untuk keluar dari berbagai defisit makro domestik. Mungkin pada titik ini, setelah satu semester berjalan, Jokowi baru menyesal kenapa tidak memilih sendiri tim ekonominya dan malah serahkan kuasanya ke JK," kata dosen dan peneliti dari Universitas Bung Karno (UBK), Gede Sandra, beberapa saat lalu (Senin, 18/5). 

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...