16 December 2017

Jokowi dan Para Tokoh Makan Siang: Bahas Ekonomi-Politik sampai soal Papua

KONFRONTASI- Kelompok diskusi paguyuban Punokawan mengapresiasi langkah pemerintahan Joko Widodo memajukan wilayah Papua dengan menghentikan sementara program transmigrasi.

Anggota paguyuban Punokawan Salim Said mengatakan penghentian transmigrasi akan menghambat orang luar daerah masuk Papua. Biasanya pendatang lebih agresif dikhawatirkan mengganggu kestabilan Papua yang sedang berbenah.

"Kan banyak orang luar Papua masuk ke sana dan biasanya orang luar Papua itu lebih agresif, mereka kan pendatang, orang Papua keteteran, kebijakan itu diubah," katanya di kompleks Istana Kepresidenan, Kamis (4/6/2015).

Penghentian sementara transmigrasi akan berlangsung hingga Papua dirasakan stabil. Diharapkan gerakan separatis hilang dari permukaan bumi Cenderawasih.

Salim menjelaskan konsep pembangunan Papua saat ini lebih jelas. Seperti rice estate dengan melibatkan orang Papua menjadi hal positif karena selama ini orang Papua tidak dilibatkan.

Kemudian perlahan tahanan politik mulai dilepaskan dan wartawan asing dibebaskan masuk. "Tidak perlu ada halangan seperti dulu," ujarnya.

Siang ini, Jokowi mengundang paguyuban Punokawan makan siang. Sejumlah tokoh yang tergabung dalam paguyuban ini dan nampak hadir di Istana antara lain mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) dan akademisi Mahfud MD,  ekonom senior Rizal Ramli, budayawan Jaya Suprana, tokoh pengamat militer dan penulis Salim Said, dan budayawan Franz Magnis Suseno, dan ekonom Christianto Wibisono.

Tokoh senior yang juga pakar di bidang pertahanan dan politik, Salim Said, bertemu dengan Presiden Joko Widodo. Dalam kesempatan itu, Salim menyinggung soal komunikasi Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla (JK) yang dinilainya sering tidak sejalan.

Salim datang bersama tokoh lainnya, seperti Ketua Museum Rekor Indonesia (MURI) Jaya Suprana, mantan Ketua MK Mahfud MD, pakar ekonomi Rizal Ramli dan tokoh HAM HS Dillon. Para punakawan ini diundang Jokowi untuk makan siang sambil berbincang di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (4/6/2015).

Dalam kesempatan itu, Salim mengajukan pertanyaan 'tajam' ke Jokowi. "Saya tanya kepada Presiden, ada apa antara Bapak Presiden dengan Wakil Presiden? Anda semua tahu kan sering berbeda," kata Salim saat ditemui wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan.

Salim mengatakan, pertanyaan itu dijawab langsung oleh Jokowi. Menurutnya tidak ada masalah antara dirinya dengan Wakil Presiden JK.

"Pak Jokowi mengatakan, ah ndak ada apa-apa. Biasa itu. Nanti setelah keputusan diambil, dan siapa yang mengambil keputusan, ya Presiden. Maka semuanya berjalan lancar. Begitu jawab Pak Jokowi ke saya," kata Salim.

"Artinya Pak Jokowi jelaskan antara beliau dan Pak JK biasa itu berbeda pendapat. Tapi nanti setelah diputuskan, maka nanti siapa yang mengambil keputusan, ya Presiden. Maka semuanya berjalan lancar. Begitu jawab Pak Jokowi ke saya," kata Salim.

"Artinya Pak Jokowi jelaskan antara beliau dan Pak JK biasa itu berbeda pendapat. Tapi nanti setelah diputuskan, maka keputusan itu yang berjalan," imbuh peraih gelar PhD dari Ohio State University, Amerika Serikat ini.

Untuk itu, lanjut Salim, dirinya pun mengusulkan kepada Jokowi untuk memiliki juru bicara kepresidenan. Nantinya juru bicara ini bisa menjadi 'corong informasi' dari Presiden dan Wakil Presiden.

"Saya mengusulkan kepada Presiden supaya perlu ada juru bicara kepresidenan. Bukan juru bicara presiden. Kalau ada juru bicara presiden, nanti wapres bikin juru bicara wapres, kan makin lucu. Jadi saya bilang Bapak Presiden, saya srankan bapak mengangkat juru bicara kepesidenan," jelas Saim.

"Beliau memperhatikan itu. Kita lihat saja di hari-hari yang akan datang," tambahnya

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...