26 April 2017

Jiwa Rakyat Terkoyak Saat Rizal Ramli Dibuang dari Kabinet

KONFRONTASI -  SUASANA batin sebagian besar rakyat Indonesia sampai saat ini masih terkoyak sejak mengetahui Rizal Ramli yang selama ini menjadi “mata, telinga dan mulut” rakyat di dalam pemerintahan, tiba-tiba dicopot dari kabinet oleh Jokowi selaku presiden melalui reshuffle Kabinet Jilid 2, Rabu (27/7/2016).

Sebelumnya, isu reshuffle jilid 2 ini memang sudah menggelinding awal tahun 2016 lalu, namun rakyat kalangan bawah percaya bahwa Presiden Jokowi tidak mungkin mencopot menteri yang punya integritas tinggi dan daya keberpihakan rakyat yang sangat besar seperti Rizal Ramli.

Namun sayang sejuta sayang, Rizal Ramli yang dikenal sejak dulu sebagai pejuang pembela hak-hak rakyat kalangan bawah, dan sosok anti-korupsi yang sangat tegas melawan siapa saja yang diniliainya bisa merugikan keuangan negara, juga dikenal sebagai sosok yang senantiasa mengangkat kemulian dan derajat bangsa Indonesia (melawan kesewenang-wenangan asing dan aseng), malah dicopot oleh Jokowi --yang katanya—presiden wong cilik itu.

Alasan Jokowi yang beredar, bahwa Rizal Ramli kerap membuat gaduh atau keributan di dalam kabinet.

Lalu kegaduhan dan keributan macam apa yang dimaksud oleh Jokowi selaku presiden yang mengaku mengusung cita-cita Trisakti bung Karno itu?

Mari kita tengok hubungan antara kegaduhan yang dimaksud oleh Jokowi itu dengan jiwa (cita-cita) yang dikehendaki oleh Trisakti. Apakah memang kegaduhan itu bertentangan dengan Trisakti, atau Jokowi yang malah bertentangan dengan Trisakti (BERDAULAT dalam bidang politik; BERDIKARI dalam bidang ekonomi; dan BERKEPRIBADIAN dalam kebudayaan)?

Dan inilah kegaduhan yang telah dilakukan oleh Rizal Ramli yang menjadi alasan Jokowi menggunakan hak prerogatifnya.

pertama, Rizal Ramli bersuara lantang menolak rencana pembelian pesawat Airbus A350 yang harganya mencapai Rp. 3,3 Triliun hingga Rp. 4,4 Triliun per-unit.

Kedua, Rizal Ramli bersuara meminta proyek listrik 35 ribu megawatt agar hendaknya dikoreksi karena tidak realistis dan dinilai justru kelak hanya bisa membebani anggaran negara.

Ketiga, “mengobrak-abrik” dugaan kasus korupsi di Pelindo II. Keempat, menolak dan melawan “keserakahan” PT. Freeport, serta mengungkap adanya “perang antar-geng” dalam perseteruan antar-mafia minyak dan gas.

Kelima, memperjuangkan kehendak rakyat (khususnya rakyat Maluku) dengan sangat tegas dalam penentuan lokasi pembangunan Kilang Gas Blok Masela secara onshore.

Dan yang keenam, Rizal Ramli dengan sangat tegas pula selaku Ketua Komite Gabungan Reklamasi Teluk Jakarta mengeluarkan rekomendasi penghentian secara permanen reklamasi Pulau G, dan rekomendasi tersebut disambut amat gembira oleh warga Jakarta (khususnya para nelayan di Jakarta Utara).

Rekomendasi yang menjadi kesepakatan bulat dari 3 kementerian itu membuat Ahok selaku Gubernur DKI Jakarta nampak “cacingan”. Boleh jadi, Ahok telah membayangkan kondisi yang sangat mengerikan akan menimpa dirinya jika tidak melakukan langkah-langkah pembelaan terhadap pengembang.

Ahok pun kemudian tergopoh-gopoh ke Istana Negara menghadap Jokowi untuk melaporkan Rizal Ramli yang telah menghentikan reklamasi Pulau G. Boleh jadi, laporan dan pengaduan Ahok ini ikut membuat Jokowi jadi tidak tenang (ikut terusik) bagai “cacing kepanasan”. Belakangan memang dikabarkan Ahok pernah membeberkan bahwa Jokowi tidak akan pernah bisa jadi presiden tanpa sokongan dari pengembang.

Alhasil, Rizal Ramli pun dicopot di saat sedang sangat sengitnya melakukan pembelaan untuk kepentingan bangsa dan negara ini melalui reklamasi teluk Jakarta tersebut, seperti sengitnya ketika melawan “kehendak” mafia migas tentang Freeport dan Blok Masela.

Olehnya itu, alasan Jokowi sebagai presiden mencopot Rizal Ramli dapat dipandang sangatlah MENGADA-NGADA, yakni karena Rizal Ramli dinilai kerap melakukan kegaduhan.

Pertanyaannya, apakah memang Jokowi sebelumnya tidak mengenal karakter “bawaan” Rizal Ramli yang memang sejak dulu tak ingin “MEMBISU” (tak ingin diajak kompromi) ketika melihat gejala penyimpangan yang terjadi di dalam pemerintahan?

Jadi, sangat tidak masuk akal jika Jokowi mengemukakan kegaduhan sebagai alasan utama pencopotan Rizal Ramli. Sebab, kegaduhan yang diperlihatkan Rizal Ramli adalah memang sebuah karakter “kerakyatan” (senasib sepenanggungan dengan rakyat kalangan bawah) yang telah melekat pada dirinya sejak dulu, baik di luar maupun di dalam pemerintahan.

Olehnya itu, Jokowi sebagai presiden sebaiknya tidak perlu mengemukakan alasan kegaduhan yang sangat mengada-ngada itu, sebab hanya akan menyakiti hati rakyat Indonesia kalangan bawah. Terlebih memang, di era teknologi yang sangat canggih seperti ini rakyat tidak lagi sulit untuk dapat mencari sebuah kebenaran, dan sangat mudah mendeteksi sebuah pembenaran.

Jadi berhentilah melakukan pembohongan dan pembodohan di hadapan publik. Sebab, Rakyat Indonesia saat ini sudah bukan lagi anak TK/PAUD seperti yang hidup di era Orde Baru, di mana seluruh informasi yang akan disuguhkan dapat dikendalikan oleh sang penguasa.

Sekali lagi, rakyat Indonesia (terutama kalangan bawah) bukan lagi anak TK/PAUD yang gampang ditipu dengan permainan sulap dan cerita-cerita dongeng dari para penguasa yang licik.

Seperti reshuffle kabinet jilid 2 kemarin pun Rakyat Indonesia sesungguhnya telah mampu merasakan dan meraba secara langsung, tentang alasan apa sebetulnya yang membuat Rizal Ramli (menteri non-parpol) itu harus dicopot.

Alasannya adalah, pertama, Jokowi (dan Ahok) serta Jusuf Kalla nampaknya lebih “memanusiakan” pengembang daripada rakyat yang telah memilihnya. Kedua, Jokowi selaku presiden sepertinya memang sangat jelas-jelas lebih “tunduk” pada selera kelompok tertentu (termasuk parpol penjilat) dari pada harus tunduk pada kehendak rakyat sebagai pemilik kedaulatan.

Dan bagi segelintir rakyat yang mengaku di medsos sebagai rakyat kalangan bawah tetapi ikut menyudutkan secara keras Rizal Ramli sebagai sosok pembuat kegaduhan, saya sarankan ada baiknya bukalah “kedok” di wajahmu, seperti Jokowi yang tak sadar telah membuka “kedoknya” yang selama ini mengaku sebagai presiden WONG CILIK  tetapi sepertinya hanya lebih pas disebut presiden WONG LICIK.

Supaya paham, kenapa Rizal Ramli selalu "berteriak" ke media (bahasa Jokowi dan JK adalah: bikin gaduh), sebetulnya itu adalah cara Rizal Ramli mengadu ke rakyat tentang adanya masalah yang mengarah kepada penyimpangan.

Sebelumnya, Rizal Ramli tentulah telah lebih dulu mengadu ke “bos”, namun karena tidak ditanggapi serius, maka sebagai sosok pejuang dan pengabdi hanya kepada rakyat, maka Rizal Ramli pun lebih memilih mengadu ke rakyat. Mau ngadu ke mana kalau bukan ke rakyat???

Kalau pejabat (menteri lain) bisa "diam" dan dianggap tenang (misalnya "si Tuan Putri" dll) ketika ada masalah, itu karena mereka (menteri) itu memang berasal dari partai, --di mana ketika mereka “menemukan” suatu masalah tentunya enggan untuk berteriak, melainkan “digodok dan disajikan” di internal partai (apalagi kalau masalah menyangkut duit gede.... jangan harap bisa sampai ke telinga rakyat sebagai pemilik kedaulatan)

Namun bagi Rizal Ramli, dengan pencopotannya itu tentulah sudah ia sadari adalah merupakan risiko dari sebuah pengabdian di jalan yang benar. Sehingga saat ini, Rizal Ramli tentulah tidak perlu merasa “goyang” apalagi merasa malu karena dicopot.

Sebab, semua juga orang tahu bahwa pencopotan Rizal Ramli bukanlah karena melakukan sebuah korupsi atau penyimpangan yang dapat merugikan bangsa dan negara, melainkan membela hak-hak dan kepentingan rakyat dengan sangat tegas.

Dan ini sangat berbeda jauh dengan pencopotan yang pernah dialami oleh Jusuf Kalla (JK) ketika menjabat Menteri Perindustrian dan Perdagangan di era Presiden Gus Dur, di mana JK ketika itu dicopot karena ketahuan sedang melakukan korupsi. (Klik tautan untuk melihat sumber)

Dan sejauh ini, semua juga orang tahu, bahwa keberadaan Rizal Ramli di dalam kabinet kerja jilid 1 sangat mengganggu “kenyamanan” pihak-pihak tertentu, misalnya JK, mafia migas, mafia pelabuhan, mafia reklamasi dan lain sebagainya. Olehnya itu sangat diduga kuat bahwa pencopotan Rizal Ramli tidak terlepas dari campur tangan JK, parpol-parpol penjilat, mafia migas, Ahok, pengembang, dan sejenisnya. Dan jika hal ini benar, maka sesungguhnya hak prerogatif presiden bisa dikomersialisasikan.

Dan kini, di dalam Kabinet, tak ada lagi yang bisa diharapkan menjadi “mata, telinga dan mulut Rakyat” seperti dulu yang dilakoni oleh Rizal Ramli di dalam kabinet. Selamat berpesta dan menari-nari di atas penderitaan rakyat!

Jokowi Bisa Copot Rizal Ramli Dari Kabinet,
Tapi Tidak Dari Hati Rakyat!

Ketika mengetahui Jokowi dengan teganya mencopot sosok pembela rakyat seperti Rizal Ramli, para netizen pun menumpahkan kekecewaannya kepada Jokowi. Juga mencurahkan rasa haru dan sedihnya namun memberi semangat kepada Rizal Ramli melalui akun twitter @RamliRizal.

Dan suara-suara netizen ini seakan menunjukkan bahwa Jokowi bisa saja mencopot Rizal Ramli dari kabinet,  tetapi tidak dari hati rakyat yang juga ikut merasa terzolimi. Berikut di antaranya:

1). Sudah sangat jelas, si(apa) sebenarnya yg mengendalikan negeri ini. Terima kasih Dr. @RamliRizal

2). Semangat..semoga sehat & sukses trz pak Rizal Ramli 'tetap berkarya'tetap lah jd 'berlian utk masy INA

3). Di mata orang kecil pak rizal ramli adalah seorang pahlawan..di mata penguasa mungkin ia adalah batu sandungan...orang baik selalu di tindas

4). Kinerja bpk Rizal Ramli cukup baik utk bgs n rakyat Ind bahkan sangat baik,tenaga/pikiran bpk masih sangat diperlukan rakyat.

5). betul pak, kami rakyat siap berjuang bersama bapak untuk keutuhan NKRI pak.

6). salam militansi pak RR.. kami bersamamu

7). RR melawan tikus2 arogan (dwelling time), RR melawan antek neolib (blok masela), RR melawan pengembang rakus (reklamasi)

8).Rakyat Indonesia sgt respek dan apresiasi dg Bapak. Rakyat Indonesia bangga dgn bpk. Tetap semangat berjuang bersama rakyat Pak.

9). BRAVO BUNG .... nama mu tetap bertahta di hati Rakyat Indonesia.

10). semangat trs pak @RamliRizal berjuang tdk hrs duduk di pemerintahan, berjuang brsama rakyat lbh di muliakan, rakyat brsma bpk

11). perjuangan pak Rizal seperti yg kita saksikan td malam di ILC menjadi catatan konsistensi yg gemilang utk rakyat Indonesia

12). Effort yg bapak tunjukkan ke Bangsa Indonesia menunjukkan keberpihakan pd Rakyat bukan hanya omong doang spt @jokowi

13). inilah Indonesia org yang membela rakyat kecil malah di singkirkan

14). terimakasih pak atas dedikasi nya, terlihat jelas sekarang...kepentingan siapa yg di bela oleh pak @jokowi

15). kami bangga rakyat Indonesia memiliki orang-orang seperti Bpk. teruskan perjuangan mu Pak bersama rakyat. berjuanglah utk NKRI

16). Anda yang terbaik, kami bangga dengan Bapak yang tdk gentar menyuarakan kebenaran

17). terimakasih pak RR, anda sdh menunjukkan di pihak mana anda berdiri yaitu rakyat.

18). Berjuang Di Jalan Kebenaran Selamanya DiKenang Dgn Kemuliaan ,, Tetap Berjuang Bersama Rakyat  Pak

19). come on sir! Bapak akan selalu menjadi inspirasi saya dalam hal kebijakan dan kepemimpinan.

20). Pak @RamliRizal Terima Kasih telah bekerja dan berpihak kepada Rakyat Indonesia. Bapak figur yang luar biasa dan berani .. Salut.

21). apapun yg terjadi, kami tahu dan paham ide dan visi abang ttg Indonesia.. kami dukung tetap Abang..salam perubahan

22). inilah negeri aneh org berani membela rakyat malah di singkirkan

23). saya kecewa pak rizal diganti... kepentingan politik lebih diutamakan dari kualitas kerja :(

24). semula aku ga percaya jkw cs, tp saat Bung masuk, ada secercah harap. Kini Bung ditendang, kecewa super-berat aku!

25). lagi lagi fakta yg menyedihkan,sampai" wakil kami yg seperti bapak pun telah disingkirkan!apalagi harapan kami??!! Nelangsa hati
----
SALAM PERGERAKAN PERUBAHAN!!!.(Juft/AMS)

Category: 

loading...


News Feed

Berita Lainnya

loading...
Rabu, 26 Apr 2017 - 19:49
Rabu, 26 Apr 2017 - 19:30
Rabu, 26 Apr 2017 - 19:05
Rabu, 26 Apr 2017 - 19:00
Rabu, 26 Apr 2017 - 18:58
Rabu, 26 Apr 2017 - 18:47
Rabu, 26 Apr 2017 - 18:44
Rabu, 26 Apr 2017 - 18:43