14 October 2019

Iwan Ratman: Harusnya Harga BBM Pertamina Turun Sejak Dua Tahun Lalu

KONFRONTASI- Banyak cara untuk menarik dukungan publik demi terus berkuasa. Dalam hal ini, Presiden Joko Widodo mengambil kebijakan populis di tahun politik 2019 ini yaitu menurunkan harga BBM. Dia menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) belum lama ini. Akankah efektif menarik massa? Saat ini, kata ahli perminyakan Iwan Ratman PhD,  hal itu sudah terlambat dan tak menarik perhatian rakyat.

Penyesuaian harga BBM berlaku untuk jenis Pertalite, Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite dan Dex. Pertalite turun sebesar Rp150 per liter dari Rp7.800 menjadi Rp7.650. Sementara Pertamax turun sebesar Rp200 per liter dari Rp10.400 menjadi Rp10.200.

Kemudian Pertamax Turbo turun sebesar Rp250 per liter dari Rp12.250 menjadi Rp12.000, Dexlite turun sebesar Rp200 per liter Rp10.500 menjadi Rp10.300 dan Dex turun sebesar Rp100 per liter dari Rp11.850 menjadi Rp11.750. Tidak sampai situ saja, Jokowi pun kemungkinan akan menurunkan harga premium.

Pengamat migas Iwan Ratman mengatakan, naik turunnya harga BBM dipengaruhi harga crude atau minyak mentah.

“Sebenarnya harga minyak mentah sudah lama turun, masalahnya sekarang, kenapa pada saat 2 tahun lalu, saat harga crude 30-40 dolar, harga BBM Pertamina masih manteng. Jadi kalau sekarang, harga BBM diturunkan, mereka masih untung,” kata Iwan, mantan Direktur korporasi minyak dunia, Total dan Shell di Eropa.

Terlepas dari hal tersebut, Iwan mengatakan, mis-persepsi harga BBM sebenarnya penyakit lama. Rakyat tahunya membeli premium RON 88 dengan harga murah, padahal ada subsidi dalam penetapan harga tersebut.

“Begini, zaman dulu, kilang pertamina biasa memproduksi RON di bawah 88. Sementara, di kilang baru terutama luar negeri, kebanyakan yang diproduksi RON 92. Dan untuk menjadikan RON 88, mereka butuh ‘blending’ pakai TEL, MTBE. Jadi untuk menurunkan kualitas, dibutuhkan biaya tambahan dengan cukup tinggi. Sudah biayanya tinggi, kualitasnya jelek,” papar dia kepada KedaiPena.Com, ditulis Senin (25/2/2019).

Ia pun meminta Pemerintah tidak lagi meminta Pertamina berjualan RON 88. Karena Pertamina pasti rugi. Kalau mau, Pertamina menjual RON 92, dan meminta pabrik untuk memproduksi mobil dengan spesifikasi mesin RON 92.
 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...