14 November 2019

Invasi Kandang 'Banteng', Prabowo-Sandi Optimis Menang di Jawa Tengah

KONFRONTASI -  Calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto, sejak 13 Februari lalu, turun berkampanye di Jawa Tengah (Jateng) Gerilya politik tersebut dilakukan ke tempat-tempat yang selama ini diketahui menjadi basis suara pemilih PDI Perjuangan. Tanpa ragu dan gentar, mantan Komandan Jenderal Kopassus itu membakar semangat para pendukungnya.

Seolah tak ingin mengulang kekalahan di Pilpres 2014, capres 02, Prabowo bergerilya ke daerah basis pendukung rivalnya, capres nomor urut 01 Jokowi-Ma’ruf Amin. Sebab, jika berkaca pada Pilpres 2014, pasangan Prabowo-Hatta mengalami kekalahan terbesar di Jateng.

Dalam dua hari belakangan, Prabowo mengunjungi empat kabupaten di Jateng, yakni Purbalingga, Banjarnegara, Blora dan Grobogan. Sementara pada Jumat (15/2/2019) Prabowo menyampaikan pidato kebangsaan di Hotel PO, Semarang.

Selama berkampanye di Jateng, Prabowo mengangkat sejumlah isu, antara lain isu korupsi, penghentian impor dan pertanian.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Edhy Prabowo mengatakan, Badan Pemenangan Nasional pasangan Prabowo-Sandiaga (BPN) memang fokus untuk memenangkan perolehan suara di Pulau Jawa, khususnya di Jateng.

Sementara, Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional, Andre Rosiade, mengungkapkan, sambutan Pak Prabowo luar biasa di Jateng. Bahkan, lanjut dia, tanpa harus dimobilisasi, masyarakat sudah sangat antusias dan ramai.

Adapun langkah Prabowo-Sandiaga meraup suara di Jateng cukup serius. Pasangan ini membangun posko khusus pemenangan mereka di Solo, beberapa bulan lalu. Sejak saat itu, BPN mengklaim elektabilitas pasangannya meningkat. Meski diakui, belum bisa unggul untuk saat ini. "Kami tetap optimis di Jateng, setidaknya memperkecil kekalahan ya," jelas Andre.

Pidato Kebangsaan

Pada Jumat (15/2/2019), Prabowo menyampaikan pidato kebangsaan di Hoyel PO, Semarang. Dalam pidatonya yang bertemakan "Mewujudkan Swasembada Energi, Pangan dan Air" tersebut, Prabowo mengibaratkan negara sebagai tubuh manusia. Jika ada yang sakit maka dirasakan semua.

Sementara pemerintah, kata Prabowo, harus berani introspeksi atas kondisi tubuh negara.

"Harus berani melihat realita kalau ada masalah, ada kekurangan, kalau ada penyakit, harus berani mengatakan ini masalahnya, ini kekurangannya," ucap Ketua Umum Gerindra itu.

Di antara yang harus dievaluasi menurutnya, pengelolaan negara yang kekayaan alamnya tak dinikmati oleh rakyat, dan banyak di luar. Terutama, soal pajak yang dikejar Presiden Jokowi lewat tax amnesty. "Menkeu mengakui ada uang WNI di luar kalau enggak salah Rp11.400 triliun," paparnya.

Sebelum mengalami keterpurukan yang lebih jauh, dia menegaskan, pemimpin harus bisa merawat, membina, memelihara dan memupuk sebuah negara. Jika mengalami kerusakan maka harus berkonsultasi dengan para pakar dan ahli agar bisa diselamatkan.

"Berani untuk meneliti keadaan sendiri, harus berani melihat realita. Kalau ada masalah, kalau ada kekurangan, kalau ada penyakit harus berani untuk mengatakan ini masalahnya, ini kekurangannya," tegas Prabowo.

Prabowo kembali menegaskan bahwa kekayaan Indonesia sudah berpuluh-puluh tahun berada di luar negeri. Tidak asal bicara, Prabowo pastikan yang dia ucapkan berdasarkan bukti dan fakta.

"Saya sebut inti masalah, inti persoalan bangsa Indonesia adalah mengalir ke luar kekayaan nasional. Ini bisa kita buktikan dan pemerintah yang sekarang berkuasa sendiri mengakui lebih banyak uang milik orang Indonesia di luar Indonesia daripada di dalam Indonesia," ucap dia.

Prabowo minta tidak ada pihak yang tersinggung dan marah dengan ucapannya, dia minta temuannya menjadi bahan introspeksi dan mencarikan solusi. Dia pun berjanji siap mengembalikan kekayaan Indonesia jika dipercaya memimpin pada periode 2019-2024.

Dalam kesempatan tersebut, Prabowo memamerkan puluhan pakar dan ahli yang terdiri dari enam orang pakar ekonomi, empat orang pakar infrastruktur, 12 orang pakar energi dan pangan, dan 7 pakar SDA dan lingkungan hidup.

Dengan pakar yang mendukungnya, Capres nomot urut 02 ini yakin mampu mengembalikan kekayaan Indonesia yang dia sebut saat ini mayoritas berada di luar negeri. Prabowo optimistis dengan pemerintahan yang kuat, tegas dan bebas korupsi maka Indonesia akan kembali merebut kejayaan.

"Memperingatkan bangsa Inodnesia, mengapa kekayaan Indonesia tidak tinggal di Indonesia, berarti kita mengarah ke keterpurukan. (Puluhan pakar) ini adalah tim yang membantu kami, tim dari Prabowo Subianto-Sadiaga Salahuddin Uno yang membantu merancang solusi untuk pesoalan bangsa yang akan kita atasi. Tapi tentunya tidak semua di atas, ada juga yang tidak hadir," kata Prabowo.

"Pakar-pakar ini yang meyakinkan saya Indonesia mampu, Indonesia bisa berdiri di atas kaki sendiri. Profesi saya dulu adalah tentara, serdadu. Tapi saudara-saudara bahwa serdadu, tentara mengerti arti penting dari pada ekonomi. Karena setelah saya pelajari sejarah perang, ternyata hampir semua perang adalah memperebutkan sumber daya ekonomi. Hampir semua perang karena sumber daya alam dan tadi memperebutkan pangan, lahan pangan, lahan energi dan lahan air," papar Prabowo.

Sebelum menutup pidatonya, tak lupa Prabowo meneriakkan takbir dan merdeka. "Sebagai muslim izinkan saya mengumandangkan takbir. Allahu akbar..!! Allahu akbar..!! Allahu akbar..!! Merdeka..!! Merdeka..!! Merdeka..!! Terima kasih, selamat berjuang," ucap Prabowo.

Yakinkan Masyarakat

Sementara itu, pengamat komunikasi politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio menilai pentingnya Prabowo melakukan pidato kebangsaan jelang debat kedua, Minggu (17/2/2019) mendatang.

Melalui forum pidato tersebut, lanjut Hendri, Prabowo bisa semakin menyakinkan pemilih terhadap dirinya melalui pemaparan visi, misi dan program-program kerjanya, jika terpilih nantinya. "Tentu Pak Prabowo melakukan itu dalam usaha untuk meyakinkan para pendukungnya," ujar Hendri di Jakarta, Jumat (15/2/2019).

Sementara bagi petahana Joko Widodo (Jokowi,) ia menilai tidak perlu. Karena sudah memiliki banyak kesempatan langsung bertemu masyarakat untuk berinteraksi dan menjelaskan programnya.

"Jadi kalau Jokowi memberikan pidato kebangsaan lagi sebagai seorang presiden, boleh-boleh saja. Tapi efektivitasnya tidak sebesar Capres atau parpol lain," jelas Pendiri lembaga survei KedaiKOPI itu.(Jft/HANTER)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...