23 August 2019

Inilah Kisah Si “Yatim Piatu” yang Sukses Jadi Menteri

KONFRONTASI - Sekitar pukul 16.00 WIB, mobil dinas pelat nomor RI 18 bersama rombongan kendaraan lainnya, berhenti di depan kantor Tribun, Jalan Palmerah Selatan No 14.

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Sumber Daya, Rizal Ramli pun turun dari mobil dan berjabat tangan dengan General Manager Tribun Network Febby Mahendra Putra dan Pemimpin Redaksi Tribunnews.com Dahlan Dahi.

Setelah bersalaman, Rizal yang ditemani delapan rekannya segera naik ke lantai dua tempat redaksi Tribunnews.com.

Di sana, menteri yang dilantik pada 12 Agustus 2015 lalu, melangkahkan kakinya ke arah kiri ruangan dari tangga, melihat para editor Tribun bekerja.

Kedatangan Rizal ke markas Tribun bukan untuk pertama kalinya. Sebelum masuk ke dalam kabinet kerja, Rizal pun sudah pernah terlebih dahulu menyambangi kantor Tribun di gedung lama di Jalan Palmerah Selatan No 3.

"Sekarang gedung Tribun semakin bagus," ungkap Rizal.

Usai melihat para editor, Rizal bersama rombongannya dipersilakan masuk ke dalam ruang rapat yang berada di sebelah kanan usai menaiki tangga.Di sana Rizal duduk berhadap-hadapan dengan rekan dari Tribun.

Dalam diskusi bersama ini, Rizal yang sangat terkenal dengan "Rajawali Ngepret" pun berkisah mengenai kisah hidupnya yang sejak kecil sudah yatim piatu.

"Dari kecil saya sudah anak yatim piatu. Usia 6 tahun, ndak punya bapak ibu. Sedih. Setiap kali Lebaran tidak punya baju baru," kenang Rizal akan masa kecilnya.

Tapi, kepahitan, kesedihan dan penderitaan masa kecil itu diubah Rizal menjadi satu tantangan yang kini bisa menghantarkannya duduk sebagai Menteri Koordinator bidang kemaritiman dan pada masa Presiden Gus Dur diberi kepercayaan menjadi Menteri Koordinator Bidang Ekonomi.

"Saya mau buktikan anak yatim piatu bisa jadi orang," demikian tekadnya saat itu.

Kisah itu pun berlanjut. Saat dirinya diterima masuk ITB, Rizal tak mampu membayar biaya kuliah.

Tapi tak langsung membuat Rizal mundur dan putus asa, menyerah dengan keadaan serta tak melanjutkan pendidikannya.

Enam bulan pertama kuliah memaksa Rizal harus mengumpulkan dana yang cukup untuk bisa membayar biaya kuliah.

"Saya kerja dulu menjadi mandor percetakan di Kebayoran untuk bisa bayar uang kuliah di ITB," kisahnya dengan semangat.

"Punya uang, bayar kuliah, bisa makan, bisa bayar uang kos enam bulan," Rizal mengenang perjuangannya yang tidak pernah mundur mewujudkan tekadnya membuktikan anak yatim piatu bisa sukses.

Saat kuliah pun Rizal masih harus bekerja keras untuk mampu bertahan kuliah dan makan. Menjadi penerjemah diambil Rizal sebagai pekerjaannya agar bisa tetap kuliah.

"Saya pikir, saya kan bahasa Inggris nya bagus dari dulu otodidak. Saya bekerja sebagai penerjemah. Mula-mula susah satu halaman itu terjemahin bahasa Inggris ke bahasa Indonesia makan waktu tiga jam. Makin lama makin cepat, satu halaman bisa 10 menit," ucapnya.

"Saya juga ajak teman di ITB yang miskin bagian ngetik, saya baca terjemahannya. Kita punya duit. Kerja hanya hari Jumat, Sabtu sebelum malam minggu. Bisa untuk hidup seminggu, bisa pacaran, bisa jadi aktivis," demikian dia bangga dengan jalan hidup yang menghantarkannya menjadi seperti sekarang ini.

Kala di Bandung berkuliah, Rizal pun pernah menjadi "guru" bagi mereka anak-anak bule. Bersama rekan-rekan mahasiswa yang miskin, Rizal mengajarkan Matematika, Fisika, dan Kimia.


"Kita bantuin jadi tutor. Eh duitnya lebih gede lagi ternyata," tawanya mengenai perjuangannya itu.

Pendek cerita, sejarah hidupnya mengajarkan militansi, keberpihakan, dan tidak mengenal menyerah dalam berjuang.

"Sejarah hidup Rizal Ramli mulai sejak mahasiswa tidak pernah menyerah. Kita bisa ditangkap, digebuki, dikucilkan. Tapi Rizal Ramli tidak pernah menyerah," tandasnya.(Juft/Tribun)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...