24 August 2019

Indonesia Hancur Tanpa Pancasila

KONFRONTASI - Kkaum muda diminta menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, hingga kini Pancasila terbukti mampu menjadi fondasi yang menguatkan keragaman dan kebinekaan Bangsa Indonesia. "Tanpa Pancasila, bangsa kita akan hancur berantakan. Tanpa pemuda yang berjiwa Pancasila, bangsa kita akan tenggelam dalam bayang-bayang. Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) harus menjadi lokomotif pemuda dalam menghayati dan mengamalkan Pancasila sebagai perekat kehidupan berbangsa dan bernegara," kata Ketua DPR RI Bambang Soesatyo saat menjadi keynote speaker pada seminar nasional bertema Pemantapan Wawasan Kebangsaan XII yang diselenggarakan DPP KNPI pimpinan Fahd A Rafiq di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (8/8).

Bamsoet juga menggagas pentingnya pembuatan RUU Pemantapan dan Pelaksanaan Ideologi Pancasila.

Dengan demikian, Pancasila dapat dihayati dan diamalkan secara berkelanjutan di semua lini kehidupan. Khususnya, dalam kehidupan kaum muda sebagai tunas masa depan bangsa.

"Pancasila merupakan ideologi yang diambil dari saripati kehidupan bangsa Indonesia yang majemuk, baik secara suku, etnis, agama maupun kedaerahan. Karena itu, memantapkan ideologi Pancasila dan wawasan kebangsaan merupakan materi yang fundamental dalam membentuk karakter dan jiwa kepemimpinan pemuda di tengah pusaran arus globalisasi dan kemajuan teknologi informasi," papar wakil ketua umum KADIN ini.

Mantan ketua Komisi III DPR RI ini menambahkan, pemantapan ideologi Pancasila dan wawasan kebangsaan bagi kaum muda tak cukup hanya dengan diskusi maupun seminar yang bersifat sporadis. Namun, juga harus dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan.

"Desain pendidikan politik kebangsaan harus dilakukan secara kreatif dan inovatif serta menyenangkan bagi kaum muda. Saya menyebutnya sebagai konsep pendidikan politik zaman now. Yaitu, dengan memanfaatkan platform teknologi digital dan media sosial untuk menyebarkan informasi dan pengetahuan tentang ideologi Pancasila. Digitalisasi pendidikan politik bukan lagi menjadi sebuah kebutuhan, melainkan sudah menjadi sebuah keharusan," terang Bamsoet.

Legislator Partai Golkar dari Dapil VII Jawa Tengah yang meliputi Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara dan Kebumen itu juga mengajak KNPI ambil bagian dalam menciptakan narasi kebangsaan di media sosial.

Narasi tidak harus dilakukan secara serius, melainkan dituangkan dalam bentuk yang menyenangkan.

Misalnya, melalui meme, komik, karikatur, maupun kreativitas lainnya sehingga menarik perhatian anak-anak muda milenial.

"Selain melalui digitalisasi, yang tak kalah penting juga dengan menjelajahi keunikan dan keragaman budaya, pesona alam, serta cita rasa kuliner Indonesia, sehingga tertanam rasa cinta tanah air dan semangat kebangsaan. Misalnya, dilakukan dalam bentuk Jelajah Pemuda ke seluruh pelosok nusantara, pertukaran pemuda antarpulau, maupun perkemahan kebangsaan pemuda," urai Bamsoet.

Ketua Badan Bela Negara Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan (FKPPI) ini mengingatkan, dengan jumlah penduduk sekitar 262 juta jiwa, 17.504 pulau, 1.340 suku bangsa, 742 bahasa, dan lima agama serta berbagai bentuk keyakinan lainnya, Indonesia menjadi negara paling majemuk di dunia.

Karena itu, pemantapan ideologi Pancasila bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata.

Namun, juga tanggung jawab semua pihak, baik lembaga pendidikan, BUMN, organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, maupun kelompok civil society lainnya.

"Kemajemukan seperti dua mata pisau, bisa menjadi kekuatan sekaligus sumber perpecahan. Namun,  sejak berabad silam, bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka, nenek moyang kita sudah menunjukan bahwa kemajemukan merupakan ruh sekaligus sumber kekuatan Bangsa Indonesia. Dimantapkan dengan ideologi Pancasila yang diamalkan oleh para pemuda bangsa, kita akan buktikan kepada dunia bahwa sampai kapan pun kemajemukan tak akan memecah belah kita," pungkas Bamsoet.[ian/jpnn]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...