22 July 2019

HNW Mengingatkan, Awas ! Tragedi Pecahnya Uni Soviet Harus Jadi Pelajaran

KONFRONTASI - Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid atau akrab disapa HNW mengatakan, Indonesia bisa mengambil pelajaran dari pecahnya Uni Soviet. Pecahnya negara besar, kuat, dan merupakan negara adi daya saingan Amerika Serikat (AS) itu juga dapat menjadi pengingat (alarm), termasuk bagi Indonesia.

“Untungnya, Indonesia memiliki satu karakteristik yang tidak dimiliki Soviet, yakni rasa kebersamaan dan tujuan bersama,” kata Hidayat saat membuka acara Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Aula Kecamatan Cieulengsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (8/7/2019).

Acara sosialisasi tersebut dihadiri anggota MPR RI Ecky Awal Muharram, Camat Cileungsi Renaldi Yushab Fiansyah, Kapolsek Cileungsi, Kompol. Mulyadi Asep Fajar, S.H, Koramil Cieulengsi Mayor TNI Inf. Acep Komarudin, Pimpinan dan anggota ormas Lingkar Reformis, dan sekitar 300 peserta terdiri dari ormas kepemudaan se-Cileungsi dan Bogor, guru-guru TK, PAUD dan SD serta masyarakat umum.

Indonesia, lanjut politisi dari PKS itu, dibangun bersama dengan berdasar kepentingan bersama, kesepahaman bersama, keyakinan bersama, saling menerima dan memberi, saling bermusyawarah, serta tidak ada yang merasa diintimidasi dan dipaksa. Ia mengungkapkan kesemuanya itu terangkum dalam satu ideologi yang disepakati bersama, yakni Pancasila. Karakteristik tersebutlah yang membuat Indonesia tetap utuh.

“Soviet mengapa hancur? Karena negara itu menghadirkan ideologi komunis yang tidak sepenuhnya diterima rakyatnya. Komunisme itulah yang dipakai oleh Lenin dan Stalin untuk menguasai wilayah-wilayah yang tidak menerima komunisme,” ungkapnya lagi.

Lebih jauh, HNW mengatakan, Soviet tadinya adalah negara super power dengan kekuatan intelijen, militer, persenjataan, dan perekonomian yang ditakuti. Namun, karena rapuhnya ideologi dan dasar pembangunan negara, maka tanpa serbuan kekuatan militer asing tanpa konflik militer internal, Soviet hancur lebur berantakan.

“Untuk itulah kita patut bersyukur bahwa Indonesia kita tetap kokoh, tetap NKRI padahal kita dibayang-bayangi potensi perpecahan yang kuat,” ujarnya seraya mengingatkan pentingnya menjaga kebersamaan dan kesepahaman dalam bernegara.

Dalam pemaparannya HNW mengatakan, MPR sudah banyak melakukan sosialisasi diberbagai kalangan. Termasuk remaja dan anak-anak sekolah. Bahkan, saat menyampaikan sosialisasi, Hidayat antara lain mengatakan, lahirnya Indonesia tak lepas dari kebesaran hati para ulama. Para ulama mau mengalah, tidak mendahulukan egonya, semata-mata agar Indonesia yang diproklamirkan pada 17 Agustus bisa tetap berdiri. Karena itu, selain jas merah generasi muda harus ingat pada jas hijau (jangan melupakan jasa ulama).

“Indonesia yang diproklamirkan 17 Agustus, nyaris bubar jika para ulama menolak usulan AA. Maramis yang menolak Piagam Jakarta. Bisa saja ulama menolak usulan itu, dengan alasan mayoritas masyarakat Indonesia itu muslim, dan jika Piagam Jakarta tidak disetujui kami akan memutuskan tidak bergabung dengan NKRI,” kata HNW.

Tetapi, sikap seperti itu kata Hidayat tidak muncul. Sebaliknya, para ulama setuju, mereka mau menerima usulan AA. Maramis, dan menghapus tujuh kata dalam piagam Jakarta, sehingga bunyinya menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Itu dilakukan, semata mata agar negara Indonesia yang lahir pada 17 Agustus bisa dipertahankan. (jft/B.Buana)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...